Minggu, 17 November 2019


Bupati dan Gubernur Berkubang Lumpur

Editor:

elgiants

    |     Pembaca: 52
Bupati dan Gubernur Berkubang Lumpur

TERPELESET – Saking semangatnya menanam, Gubernur Kalbar Sutarmidji terpeleset dan jatuh di lumpur sawah di Desa Parit Keladi, Kecamatan Sui Kakap, Kubu Raya, Minggu (3/11) pagi.

Walau bukan generasi milenial, sebagaimana slogan destinasi wisata ini, namun para pejabat teras di Kalbar tampak semangat memakai bot dan masuk ke lumpur. Malah beberapa sengaja ‘ceker ayam’. Mungkin, ini pengalaman pertama mereka menanam padi.

Kehadiran mereka memang untuk membuka Gerakan Wisata Tanam Padi Milenial di Gapoktan Solo Berseri, Desa Parit Keladi, Kecamatan Sui Kakap, Kubu Raya, Minggu (3/11) pagi. Kegiatan ini merupakan salah satu strategi Pemkab Kubu Raya untuk menjadikan isu pertanian dan ketahanan pangan dekat dengan kalangan milenial.

“Kenapa kegiatan ini memakai kata gerakan, karena pola kegiatan ini akan menjadi gerakan masif dan menjadi tren baru bagi Indonesia agar program ini menjadi penggerak bagi masyarakat dalam membangkitkan kembali peradaban pangan menjadi sangat penting dan berharga,” tutur Bupati Kubu Raya, Muda Mahendrawan.

Sementara Gubernur Kalbar, Sutarmidji mengatakan kegiatan ini untuk menyemangati Kubu Raya terutama masyarakatnya dalam mencapai target produksi pangan terutama beras. Wilayah itu memiliki kurang lebih 30.000 hektar sawah. Jika rata-rata 1 hektar menghasilkan 3 ton gabah kering, maka hasilnya lumayan. Dalam setahun dengan dua kali panen, 6 ton gabah dibawa pulang.

"6 ton itu setara dengan 4 ton beras. Berarti produksi di sini lebih dari 100 ribu ton beras kalau dua kali panen. Kebutuhan Kubu Raya untuk 100 ribu itu lebih dari cukup, karena kebutuhan se Kalbar 546 ribu ton," katanya.

Apabila target 100 ton tercapai di Kubu Raya, dan lima daerah lainnya sama, diyakini kebutuhan beras Kalbar tercukupi. 

"Lahan pertanian Kabupaten Kubu Raya kurang lebih 30.000 hektar, 30.000 hektar itu kalau bisa rata-rata dua kali tanam maka menghasilkan paling kurang 100 ribu ton beras," jelasnya. 

Namun dia menyebut, Pemerintah tidak punya data luas tanam yang sebenarnya. Selama ini, jumlah 529.000 hektar hanya klaim semata. Setelah diverifikasi dengan titik koordinat, luasnya cuma 217.000 hektar.

"Ini yang terus kita upayakan dan mudah-mudahan Kabupaten Kubu Raya beserta kabupaten lainnya menjadi pelopor untuk ketidaktergantungan beras dari luar lagi," pesannya.

Mantan Wali Kota Pontianak dua periode itu berharap, di akhir tahun 2020 tidak ada lagi beras luar yang masuk ke Kalbar. Bahkan bukan tidak mungkin justru Tanah Borneo yang mengirim beras.

"Saya juga meminta Rektor Untan khususnya di Fakultas Pertanian terus mengkaji bibit yang cocok untuk pengembangan Provinsi Kalbar. Kita semangati kegiatan ini, kenapa melibatkan milenial supaya orang tuanya yang punyah lahan sawah atau lahan tanam itu jangan dijual, dan anak-anaknya nanti bisa melanjutkan sehingga luas lahan tanam padi itu tidak berkurang," ujarnya berpesan. (giat/balasa)