Senin, 27 Januari 2020


Sang Demonstran Menggenggam Parlemen

Editor:

elgiants

    |     Pembaca: 687
Sang Demonstran Menggenggam Parlemen

Suib, Anggota DPRD Provinsi Kalimantan Barat

Seorang mahasiswa semester dua masuk dalam kumpulan demonstran di Kantor Wali Kota Pontianak. Di bawah terik matahari, dia turut memekikkan kata perjuangan, larut dalam energi perlawanan, menyerap nyali Che Guevara, mendobrak barikade aparat demi menyampaikan aspirasi rakyat.

"Hidup Mahasiswa! Hidup Rakyat!" pekiknya.

Segera setelah mendengar kabar unjuk rasa di Kantor Walikota Pontianak, dia minta diantarkan temannya ke lokasi itu menggunakan sepeda motor dari kampus. Kuliah nanti dulu, demonstrasi prioritas. 

Itulah sejarah gerakan protes pertama Suib, Anggota DPRD Provinsi Kalimantan Barat saat jadi mahasiswa Universitasi Muhammadiyah Pontianak (UMP) tahun 2005.

"Saya tidak tahu organisasi atau elemen apa yang demonstrasi. Yang saya tahu massa berasal dari mahasiswa Universitas Tanjungpura (Untan). Saya juga tidak tahu isu yang dibawa. Intinya saya mau bergabung ke dalam kerumunan demonstran itu. Begitu sampai dan masuk dalam barisan, sungguh menyenangkan. Gelora bara pemuda ada di situ," kenang Suib kepada Suara Pemred, Senin (7/1).

Cikal pengetahuannya pada demonstrasi dimulai tatkala masih duduk di bangku Kelas 2 (dua) Aliyah. Aksi protes panjang aktivis reformasi 99 menggulingkan rezim diktator Presiden Soeharto tak habis-habis disiarkan televisi. 

Kerumunan massa di jalanan dan gedung parlemen, selebaran tuntutan reformatif dan gema vokal orator di hadapan mobil water canon polisi membuatnya berimajinasi ‘seharusnya saya juga di situ, turut mendesak kekuasaan Orde Baru lengser'. Sejak saat itulah, Suib menambatkan mimpi jadi demonstran jika kelak kuliah.

"Yang terbayang dalam benak, saya mau berada di barisan paling depan. Menggenggam megaphone. Meneriakkan tuntutan rakyat," kata lelaki yang lahir pada 13 Oktober 1985 ini.

Airmata Ibu

Suib bukan anak raja. Dia lahir dari keluarga pas-pasan di pelosok desa di Kabupaten Kubu Raya bernama Bengkarek, Kecamatan Sungai Ambawang. Seperti bocah pada umumnya, dia juga bersekolah dan berhak menggantungkan cita-cita di langit untuk diambil kemudian.

Setamat Sekolah Dasar (SD), Suib meneruskan Tsanawiyah di Pondok Pesantren Raudlatul Ulum Al-Kholiliyah di Parit Surabaya, tak jauh dari desanya.

Kelaziman di kampungnya, para orangtua akan mengirimkan anaknya ke pondok pesantren di pulau Jawa untuk meneruskan jenjang Aliyah. Bahkan tak jarang, anak kembali ke kampung halaman sudah membawa gelar strata satu.

Kasak-kusuk teman-temannya jelang tamatan Tsanawiyah mulai terdengar. Banyak di antara mereka akan nyantri di Pulau Jawa, khususnya ke Malang. Muncul keinginan Suib untuk nyantri pula. Niat itu lantas dia utarakan ke orangtuanya.

Mendengar keinginan itu, Suib dijawab airmata ibunya. Kondisi ekonomi keluarga tak sanggup melayarkannya ke pesantren di Jawa.

"Orangtua saya cuma menangis karena kondisi ekonomi yang tidak memadai. Saya pun dijanjikan disekolahkan di Jawa setamat Aliyah," ungkap Suib.

Pupus nyantri di Pulau Jawa, Suib melanjutkan tingkat Aliyah di Pondok Pesantren  Raudlatul Ulum Al-Khaliliyah. Lantaran terbilang santri lama, selain belajar, dia mengabdikan diri di pesantren yang diasuh oleh KH Hanafi Kholil itu.

"Selain belajar, saya menoreh karet, menanam sahang, memanen kopi milik kyai," kenang Suib.

Bentuk pengabdian lain yang Suib lakukan yaitu mengajar masyarakat di desanya tentang dasar-dasar keagamaan seperti praktik-praktik ibadah harian.

Waktu yang dijanjikan tiba. Bayangan kuliah di Jawa mengangkasa di kepala. Sesaat setelah menggenggam ijazah Aliyah, Suib menagih janji itu kepada orangtuanya. Untuk kali kedua, keinginan Suib kandas. Pendapatan orangtuanya tak mampu membiayainya nyantri di sana.

"Lagi-lagi orang tua menangis dan bilang 'Kita tak punya apa-apa untuk ke sana'. Akhirnya saya bilang mau kuliah di Pontianak. Orangtua saya bingung apakah mau mengamini kemauan saya atau tidak, keduanya memikirkan biaya kuliah," ungkap Suib.

Gadai Kebun

Tekad Suib untuk kuliah membaja. Dia ingin menemui takdirnya sebagai demonstran. Orangtuanya menyadari itu tapi tak punya cukup uang untuk membiayai Suib. Banyak kebutuhan keluarga yang mesti dipenuhi. Maklum, Suib merupakan anak sulung dari 13 bersaudara. Banyak adik-adiknya yang harus dinafkahi.

Akhirnya, sebuah kebun sehaktare milik orangtuanya digadaikan senilai Rp2 juta untuk biaya pendaftaran kuliah.

“Saya juga pinjam uang tetangga Rp2,555.000 untuk mencukupi biaya pendaftaran dan sedikit bekal hidup di Pontianak,” kata Suib.

Bocah Tangguh

Smartphone yang memanjakan anak berlama-lama baring malas di kasur belum merambahi kampung Suib ketika lahir. Potret anak yang terpapar era milenial sepenuhnya kontradiktif dengan kehidupan masa kecil Suib.

Sembari tetap punya waktu bermain, Suib sudah mulai membantu orangtuanya bekerja ketika masih berseragam putih-merah. Orangtuanya tak pernah meminta itu. Suib sendiri yang ingin ikut kerja.

“Ibu saya kerja menoreh karet di kebun selepas Salat Subuh, kadang sebelum azan subuh. Saya ikut bantu ibu. Paginya sekolah,” kenang Suib yang kini tinggal di Jalan Darma Putra, Kecamatan Pontianak Utara bersama sang istri.

Tak hanya menoreh karet, Suib juga menggarap sawah dan kebun untuk ditanami padi dan ubi.

“Jadi, kalau saya disuruh noreh karet dan nyangkut, pandai lah,” ujarnya.

Jika ibunya penoreh, ayah Suib bekerja menebang pohon di hutan. Suib kecil ingin tahu lebih jauh pekerjaan ayahnya. Dia pun diperkenankan ikut kerja saat Suib meminta.

“Kalau bapak sedang ada kerjaan menebang pohon di hutan-hutan dekat desa, saya bilang mau ikut. Saya pun diajak,” katanya.

Jualan Buah

Pengalaman hidup di masa kecil itu menjadikan Suib tak canggung ketika harus bertahan hidup di Pontianak saat menempuh pendidikan S1. Kala itu, Pontianak cukup asing baginya. Sesampainya di kota dan mendaftar kuliah pada 2004, Suib menumpang tinggal di rumah pamannya di kawasan Pal 4 Jalan Husein Hamzah.

Lantaran berasal dari keluarga tak mampu, Suib sadar harus bekerja mencari uang untuk memenuhi kebutuhan kuliahnya. Dia tak mau semata mengandalkan kiriman uang dari desa.

Suib pun memutuskan untuk mengambil kuliah sore supaya pagi bisa bekerja. Apa pekerjaan Suib? Dia menjual buah-buahan.

“Saat itu, setiap pagi saya bolak-balik dari kampung ke kota mengangkut buah seperti rambutan dan campedak. Saya jual dan saya titipkan ke Pasar Kapuas Besar Pontianak. Sorenya kuliah,” kenang Suib.

Tujuh bulan menjual buah, uang terkumpul untuk membayar hutang ke tetangganya sebesar Rp2.550.000. Hutang lunas, Suib lantas pindah dari rumah pamannya dan tinggal di surau kampus.

Semasa kuliah, Suib senang berorganisasi. Kesenangan berorganisasi itu sudah terbentuk sejak dia masih Aliyah. Kala itu, tercatat Suib pernah menjadi anggota OSIS, remaja masjid sekolah hingga jadi pemain dan pengurus klub sepakbola sekolah.

Dia melanjutkan kegemerannya itu di kampus. Dia aktif di organisasi internal kampus bahkan eksternal kampus.

“Saya pernah jadi Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas. Sementara di level universitas, saya pernah jadi Presiden BEM UMP,” ungkap Suib.

Pada organisasi eksternal kampus, Suib bergabung ke Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Totalitas berorganisasi betul-betul ditunjukkannya. Tak heran, di organisasi nasional yang didirikan Mahbub Junaidi ini, Suib pernah menduduki Ketua Cabang PMII Kota Pontianak periode 2007-2008.

Lewat organisasi inilah, Suib belajar makna gerakan sosial dan gerakan politik. Kehidupannya berwarna. Selain kuliah, Suib ikut diskusi organisasi, menangkap isu sosial, menganalisis dan menelurkannya jadi sebuah unjuk rasa di jalan dan kantor pemerintahan.

“Dari organisasi, relasi jaringan saya juga terbentuk. Saya banyak kenal dengan aktivis lintas BEM universitas. Sementara di luar kampus, saya juga membangun jaringan gerakan dengan kawan-kawan kelompok Cipayung (HMI, PMKRI, GMNI, GMKI),” ungkap Suib.

“Dan tak lupa turun ke jalan. Demonstrasi ke kantor pemerintahan dan gedung DPRD, memblokade jalan, beradu garang dengan aparat di depan untuk menyuarakan aspirasi rakyat,” sambung Suib yang juga Ketua Ikatan Alumni (IKA) PMII Kalbar ini. 

Dua Kali Tersungkur 

Perjuangan mahasiswa sebagai ‘parlemen jalanan’ begitu dominan membentuk jati diri Suib. Mengorganisasi mahasiswa, advokasi aspirasi warga menjadi tujuan hidup yang harus terus digelorakan dan tak boleh berhenti.

“Mahasiswa sebagai parlemen jalanan adalah bagian dari gerakan sosial. Mereka di luar struktur pemerintahan. Nah, selepas jadi mahasiswa, saya ingin melanjutkan harapan-harapan warga tentang perubahan. Saya mulai berpikir untuk melakukan gerakan politik lewat parlemen,” kata Suib.

Pada 2009, Suib mantap maju ke panggung politik. Dia mencalonkan diri sebagai Calon Legislatif (Caleg) DPRD Kabupaten untuk periode 2009-2014.

“Hasilnya, kalah. Pada 2014-2019 saya mendaftarkan diri lagi menjadi calon legislatif untuk tingkat provinsi. Mencoba peruntungan lagi,” ujarnya.

Jantung Suib serasa digodam palu begitu tahu kalau perolehan suaranya di pencalonan kedua belum sanggup mengantarkannya duduk di kursi dewan. Dia dirundung kesedihan. Merealisasikan harapan ternyata tak semudah omongan-omongan motivator di televisi.

Tetapi bukan petarung namanya bila larut dalam awam muram-durja. Kekalahan itu seperti sedang mengajarkannya tentang ketangguhan kemauan. Dia tak mau dinilai sebagai politisi kaleng-kaleng yang tersungkur tak dapat bangkit oleh badai kekalahan.

Dia pun tetap mengorganisasi masyarakat di desa. Menyerap aspirasi warga dan memperjuangkannya ke birokrasi agar didengar. Suib juga terus melanjutkan interaksi dengan politisi dan birokrat untuk membuka peluang kemungkinan maju lagi sebagai calon legislatif di periode berikutnya.

“Nah, pada 2019, saya nyaleg (calon legislatif) untuk tingkat Provinsi Kalbar dari Partai Hanura. Alhamdulillah, saya menang. Suara rakyat dari Dapil (Daerah Pemilihan) Kubu Raya-Mempawah mengantarkannya saya duduk di kursi DPRD Provinsi Kalbar untuk periode 2019-2024,” kata Suib.

Disinggung tentang obsesi politik yang tak surut, Suib mengatakan bahwa politik baginya adalah hobi. Layaknya memancing, orang yang tak hobi akan menganggap memancing adalah aktivitas menjemukan, duduk berlama-lama di tepian sungai atau sampan. 

Namun tidak bagi penghobi. Pemancing akan merasakan keasikan tersendiri menunggu umpan disambar, merasakan sensasi joran ditarik-tarik.

“Begitu juga politik. Saya tidak terlalu terbebani meski mengalami kekalahan nyaleg bertubi-tubi. Saya tetap baik-baik saja. Menjadi semakin baik dan bersemangat ketika ketemu dengan seni berpolitik,” ungkap Suib.

Menurut Suib, mereka yang bertahan dalam politik adalah mereka yang merasa bahwa politik itu menyenangkan.Keteguhan berpolitik hanya lahir dari mereka yang memperlakukan politik sebagai hobi yang penuh warna dengan seninya.

“Saya kira politisi yang tangguh adalah politisi yang tumbuh dari pengalaman dan cobaan kekalahan,” kata Suib.

Suib kini duduk di Komisi II DPRD Provinsi Kalbar, sebuah komisi yang membidangi soal perkebunan, pertanian dan perikanan. Dipilihnya komisi itu karena dia menilai sektor tersebut mengandung potensi ekonomi yang dapat jadi pendapatan daerah dan modal menyejahterakan masyarakat.

Pengetahuan itu dia dapat saat ikut kampanye Sutarmidji ke daerah-daerah ketika Pemilihan Gubernur (Pilgub) Kalbar 2018 lalu.

“Saya bagian dari Tim Pemenangan Gubernur Sutarmidji. Ketika ikut berkampanye di daerah-daerah, Kalbar punya banyak potensi ekonomi di sektor pertanian, perkebunan dan perikanan. Masalahnya, mengapa kontribusinya tidak cukup signifikan bagi daerah?” kata Suib.

“Nah, Insyaallah saya bersama pemerintah akan memecahkan masalah itu dan berjuang mewujudkan Desa Mandiri, seperti komitmen Pemprov, agar warga berdaulat dalam sektor perkebunan, pertanian, perikanan,” tegas Suib.

Menjabat selama lima tahun ke depan, Suib siap ‘babak-belur’ menjadi kepanjangan lidah rakyat. Harapan perubahan dari rakyat sudah dipikulnya memasuki gerbang Kantor DPRD Provinsi Kalbar. Waktunya bekerja. (saiful bahri)