Dari Rumah Betang, Desa Saham ke Kursi Bupati Landak

Landak

Editor sutan Dibaca : 789

Dari Rumah Betang, Desa Saham ke Kursi Bupati Landak
Bupati Landak Adrianus Asia Sidot, bersama Br. Claudius Kuyper MTB, guru di SMA Seminari. (ist)
ADRIANUS Asia Sidot lahir dari keluarga sederhana di pelosok Kalimantan Barat. Ia meniti karir dari bawah. Kini, Adrianus menjabat sebagai Bupati Landak.   Rumah Betang Saham di Kecamatan Sengah Temila, Kabupaten Landak, masih berdiri tegak.

Sampai hari ini, rumah panggung yang membujur hingga 200 meter ini, jauh dari kemajuan dan keramaian.   Di rumah panjang yang dihuni masyarakat Dayak Kanayan inilah, Adrianus lahir dan tumbuh. Keluarganya menyandarkan kehidupan pada petak-petak tanah kebun pertanian.  

Setiap hari, orangtua Adrianus bekerja di ladang, menanam sayuran dan beternak hewan. “Saya ini berasal dari keluarga miskin. Tidak ada kekayaan dan jabatan tinggi,” ujar Adrianus mengenang sebagaimana dilansir dari Hidup Katolik.  

Semasa kanak-kanak, Adrianus tak berani bicara tentang cita-cita. “Bersekolah hanya seadanya. Bisa membaca dan menulis, sudah cukup. Pendidikan tinggi hanya dalam angan saja, karena uang tidak ada. Saat itu, menjadi seorang sarjana, hanya khayalan,” kenang Adrianus.  

Tapi Adrianus memendam sesuatu dalam benaknya. Saat remaja, Adrianus mulai berani berbicara tentang cita-cita. Dan saat itu, ia berniat menapaki panggilan menjadi seorang imam. Maka, selepas SMP, ia melanjutkan pendidikan di Seminari Menengah St Paulus Nyarumkop, Singkawang.  

Ternyata, Adrianus justru menemukan panggilan lain setelah menyelesaikan pen didikan di seminari. “Saya ingin naik sepeda motor,” ujar batinnya kala itu.  

Adrianus sangat kagum dan mengidolakan para penyuluh pertanian yang keluar masuk dusun mengendarai sepeda motor. Sejak itulah Adrianus membulatkan tekad untuk meraih cita-cita sebagai pegawai pemerintah dan melayani masyarakat.

  Ia pun mendaftarkan diri menjadi mahasiswa Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) - kini Institut Ilmu Pemerintahan (IIP) Jakarta. Aneka tes diikuti Adrianus, hingga ke tahap tes wawancara.

Seorang pewawancara melemparkan pertanyaan, “Apa alasanmu masuk IPDN?” Dengan lugas dan jujur Adrianus menjawab, “Karena sekolah ini tidak bayar, Pak!”   Ketika pengumuman, hati Adrianus lega. Ia diterima sebagai mahasiswa IPDN.

Semangat Adrianus kian membara untuk menjadi abdi masyarakat. Usai belajar di IPDN, ia pun pulang kampung. Berbekal pengetahuan dan keterampilan, ia mengabdi sebagai Sekretaris Kecamatan Embaloh Hilir, Kabupaten Kapuas Hulu. Karir Adrianus semakin menanjak. Ia pun dipercaya menjadi Camat Semitau. Setelah itu, ia juga dipercaya menjadi Camat Badau.  

Berkat kerja keras dan prestasi yang ditorehkan, Adrianus mendapat kesempatan melanjutkan studi ke jenjang magister. Kesempatan ini tak disia-siakan. Adrianus pun bisa mengenyam pendidikan di Pascasarjana Studi Pembangunan Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga, Jawa Tengah.

  Adrianus memiliki perhatian dan ke pedulian pada bidang pendidikan. Adrianus pun kemudian diangkat menjadi Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Landak. Adrianus menyadari, bahwa kepemimpinan butuh teladan.

 Untuk memberi efek keteladanan secara nyata, ia meneruskan jenjang pendidikan doktoral di Universitas Padjadjaran (UNPAD) Bandung, Jawa Barat, dengan konsentrasi ilmu Administrasi Pemerintahan.(bob/pat/sut)