Kepala Desa Dituntut Bentuk BUMDes

Landak

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 223

Kepala Desa Dituntut Bentuk BUMDes
KAIN TENUN – Perajin kain tenun sedang menenun. Keterampilan ini bisa dijadikan sebagai salah satu BUMDes untuk menciptakan kesejahteraan masyarakat desa. (Antara Foto)

Bertindak Kreatif dan Inovatif Demi Mempercepat Kesejahteraan 


Para Kepala Desa (Kades) di Kabupaten Landak diminta untuk lebih mandiri membangun desanya. Sejumlah cara dilakukan para kades, salah satunya yakni dengan membentuk Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).

SP - Kepala Dinas Sosial, Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa (DSPMPD) Kabupaten Landak, Andi Ali mengatakan, upaya pendirian BUMDes tersebut bertujuan untuk mendorong optimalisasi pembangunan desa melalui Dana Desa (DD).

"BUMDes ini lahir dikarenakan banyak desa dianggap belum memiliki kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM), terutama kemampuan aparatur desa dan masih lemah dalam tata kelola desa," ujar Andi Ali di Kantor Bupati Landak, baru-baru ini. 

Dikatakan, program pendirian BUMDes tersebut akan menerjunkan tenaga pendamping desa. Tugas pendamping desa ini membantu aparat desa dan warga desa untuk mempercepat peningkatan kesejahteraan desa. 

"Dalam membangun desa, selain BUMDes, juga butuh dukungan dari beberapa pihak, termasuk elemen organisasi kemasyarakatan. Oleh karena itu, libatkan masyarakat dalam pembangunan desa,” pintanya. 

Andi Ali berharap, dengan adanya BUMDes itu, desa bisa lebih kreatif dan inovatif untuk membangun desanya sendiri.

"Dengan demikian, desa bisa mendorong ekonomi lokal melalui penguasaan teknologi dan berbagai pendekatan modern untuk mempercepat pembangunan desa demi mewujudkan kesejahteraan masyarakat," ungkapnya.

Terpisah, Kades Hilir Tengah Kecamatan Ngabang, Noliadi mengaku, hingga saat ini pihaknya belum ada rencana untuk membentuk BUMDes di desa yang ia pimpin. 

"Sebab, kami di Desa Hilir Tengah kekurangan lahan. Akhirnya, potensi yang akan kami gali itu cukup sulit. Nanti yang bisa kami kembangkan untuk BUMDes itu seperti unit simpan pinjam melalui KUD (Koperasi Unit Desa)," ujarnya.

Ia menambahkan, Desa Hilir Tengah memang bukan merupakan daerah industri seperti desa lainnya.

"Kami merupakan desa yang sedang berkembang meskipun letaknya di Kota Ngabang. Makanya, hanya unit simpan pinjam saja yang bisa kita kembangkan di dalam BUMDes ini," akunya.

Namun demikian, bukannya berarti pihak desa tidak ada inovasi untuk mencari pemasukan desa melalui BUMDes.

"Kami dulu ada wacana membangun pasar desa. Tapi tentu akan menggunakan anggaran yang lumayan besar dan keterbatasan lahan. Selain itu ada juga mau menarik retribusi parkir yang ada di desa kami. Namun kewenangan parkir ini sudah ditangani Dinas Perhubungan," katanya.

Ia mengakui, Desa Hilir Tengah memang masih kebingungan untuk menentukan jenis usaha yang akan dinaungi oleh BUMDes. 

"Dulu ada wacana untuk membuka usaha suplai gas elpiji langsung dari Pertamina. Tapi perizinannya memang agak susah," akunya. (devi zulkarnain/bah)

Komentar