Karolin Kutuk Aksi Intoleransi, Minta Pemuda Katolik Jaga Perdamaian Indonesia

Landak

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 162

Karolin Kutuk Aksi Intoleransi, Minta Pemuda Katolik Jaga Perdamaian Indonesia
PIDATO - Ketua Umum (Ketum) PP Pemuda Katolik, Karolin Margret Natasa berpidato di hadapan pemuda katolik. Karolin menyerukan kepada pemuda untuk menjaga perdamaian dan persatuan Indonesia. (SP/Devi)
LANDAK, SP - Pengurus Pusat (PP) Pemuda Katolik mengeluarkan pernyataan sikap berkaitan dengan aksi penyerangan terhadap umat yang sedang beribadah di Gereja Stasi Santa Lidwina Bedog Paroki Kumetiran, Sleman, Yogyakarta, Minggu (11/2). 

Oknum pelaku yang melakukan penyerangan itu membawa senjata tajam saat melakukan aksi penyerangan di dalam Gereja tersebut. Akibatnya, sejumlah umat yang sedang melaksanakan ibadah dan Romo Karl Edmund Prier terluka dan harus dilarikan ke rumah sakit. Pernyataan sikap PP Pemuda Katolik itupun dikeluarkan 11 Februari 2018.

Ketua Umum (Ketum) PP Pemuda Katolik, Karolin Margret Natasa mengatakan, aksi-aksi intoleransi dan kekerasan terjadi cukup masif akhir-akhir ini. 

Di Yogyakarta sebelumnya juga terjadi aksi pembubaran paksa terhadap acara bakti sosial yang diselenggarakan oleh Gereja Katolik Santo Paulus Pringgolayan, Banguntapan, Bantul. Beberapa hari lalu juga terjadi aksi persekusi yang dialami Biksu Mulyanto Nurhalim di Kabupaten Tangerang, Banten. 

Selain itu, ada penyerangan dan penganiayaan terhadap tokoh agama yang dialami ulama dan pengasuh Pondok Pesantren Al Hidayah, Cicalengka, Bandung, KH Umar Basri 27 Januari lalu. 

“Kemudian, terhadap Ustaz Prawoto pada 1 Februari lalu. Akibatnya, Ustaz Prawoto meninggal dunia setelah dirawat di rumah sakit," ujar Karolin, Senin (12/2).

Pemerintah, melalui Utusan Khusus Presiden untuk Dialog dan Kerja Sama Antar Agama dan Peradaban (UKP-DKAAP) baru saja menyelenggarakan Musyawarah Besar untuk Kerukunan Bangsa yang dihadiri 450 pemuka agama. 

"Mencermati aksi-aksi kekerasan tersebut, kita merasakan bahwa Pancasila sebagai dasar negara seperti terus digerus oleh gerakan sistematis para aktor yang ingin merusak perdamaian dan persatuan di Indonesia," kata Karolin.

Oleh karena itu, Pemuda Katolik mengutuk keras aksi penyerangan di Gereja Stasi Santa Lidwina Bedog, Paroki Kumetiran serta sejumlah aksi kekerasan terhadap tokoh dan umat beragama di Bantul, Tangerang, dan Bandung.

"Kita mendesak aparat penegak hukum untuk mengusut tuntas serta mengungkap motif dan aktor dibalik para pelaku. Kemudian, negara tidak boleh kalah dengan ‘orang gila’ yang merusak persatuan dan kebebasan beribadah di Indonesia,” kata Karolin. 

Berkenaan dengan pelaksanaan Pilkada serentak tahun 2018 ini, Pengurus Pusat Pemuda Katolik mendorong dan mengajak setiap peserta Pilkada agar tidak menggunakan sentimen agama demi mengejar kekuasaan semata.

"Kami juga menginstruksikan kepada seluruh pengurus dan anggota Pemuda Katolik di seluruh Indonesia untuk meningkatkan kewaspadaan, serta senantiasa membangun dialog dan kerja sama dengan organisasi kepemudaan di wilayahnya masing-masing dalam rangka mewujudkan persatuan, kekeluargaan dan toleransi sesama anak bangsa," pinta Karolin.   

Ketua Komisariat Cabang Pemuda Katolik Landak, Gregorius Mastoto mengharapkan tidak ada lagi kejadian serupa.

"Saya harapkan masyarakat Kalbar umumnya dan Kabupaten Landak khususnya untuk tetap waspada untuk mengantisipasi kejadian itu. Apalagi menjelang pelaksanaan Pilgub Kalbar tahun ini. Kita di Kalbar sudah hidup rukun antar umat beragama dan suku," ujarnya.

Ia tidak mau ada orang yang tidak bertanggungjawab mengobrak abrik kerukunan hidup antar umat beragama di Kalbar, khususnya di Landak.

Tingkatkan Kewaspadaan


Kepala Sub Bagian Tata Usaha Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Landak, Hasib Arista mengapresiasi kinerja aparat hukum yang berhasil menangkap para pelaku. 

"Tapi setelah pelakunya ditangkap, mereka malah memposisikan dirinya sebagai orang tidak waras. Namun setelah diperiksa, mereka itu membawa berbagai perlengkapan untuk melakukan penyerangan," kata Hasib.

Hasib menjelaskan, Kemenag sebagai corong informasi untuk menyampaikan informasi yang akurat kepada umat beragama. 

"Ini merupakan tugas kita di Kemenag. Kita meminta kepada masyarakat untuk selalu berhati-hati menyikapi kondisi yang terjadi saat ini. Apalagi menjelang pelaksanaan Pilkada ini," katanya.

Ia menduga, adanya sejumlah penyerangan terhadap tokoh agama itu sengaja disetting oleh pihak-pihak yang ingin membuat keributan. (dvi/bah)