Kamis, 19 September 2019


Kabut Asap Kembali Selimuti Ngabang

Editor:

elgiants

    |     Pembaca: 82
Kabut Asap Kembali Selimuti Ngabang

KARHUTLA - Tim Satgas Bina Karuna yang merupakan tim gabungan TNI/Polri dan BPBD Landak mendatangi sisa kebakaran hutan dan lahan disalah satu kecamatan di Landak. Tim Satgas Bina Karuna juga terus memberikan edukasi kepada masyarakat terkait Karhutla. I

NGABANG, SP - Sempat hilang beberapa lama, kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) kembali menyelimuti Kota Ngabang, Kamis (5/9). Apalagi sejak beberapa hari ini Kota Ngabang tidak diguyur hujan.

Selain itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Landak masih menemukan sejumlah titik api yang terpantau melalui satelit. Mereka pun masih terus berupaya untuk menanggulangi Karhutla itu.

"Sebelumnya sejumlah kecamatan di Landak sempat diguyur hujan. Adanya hujan itupun sempat menghilangkan kabut asap. Tapi mulai pagi tadi (kemarin), kabut asap mulai menyelimuti Kota Ngabang," ujar Sekretaris BPBD Landak, Marcel Benny, Kamis (5/9).

Menurutnya, BPBD Landak masih terus berupaya untuk menanggulangi Karhutla di Landak. Mereka masih melakukan pemadaman terhadap lahan yang terbakar.

"Apalagi Satgas Karhutla gabungan yang terdiri dari TNI/Polri dan BPBD Landak, masih terus berupaya meminimalisir terjadinya Karhutla disemua kecamatan di Landak. Satgas gabungan itu tetap memantau dan tetap standby di posnya masing-masing," katanya.

Dia berharap, mudah-mudahan saja akan segera turun hujan di sejumlah kecamatan di Landak. Setidaknya hujan itu bisa mengurangi kabut asap yang terjadi.

"Kita selama 24 jam siap siaga untuk melakukan pemadaman akibat Karhutla. Satgas gabungan juga tetap aktif memberikan imbauan kepada masyarakat terkait Karhutla ini," ucapnya.

Dia menegaskan, fungsi BPBD tidak melakukan penindakan terhadap pelaku Karhutla karena BPBD focus pada pemadaman akibat Karhutla.

"Kalau masalah penindakan pelaku Karhutla, kita tidak ikut campur dalam urusan itu. Kita di BPBD ini khusus untuk pemadaman akibat Karhutla. Yang menangani pelaku Karhutla ini, ada pihak terkait lainnya yang melakukan penanganan secara hukum," jelasnya.

Terkait titik panas (hotspot), dia mengatakan hampir semua kecamatan di Kabupaten Landak saat ini terdeteksi memiliki hotspot.

"Hotspot ini hampir menyebar di seluruh kecamatan di Landak. Hal itu dikarenakan adanya kearifan lokal dari masyarakat setempat. Masyarakat tetap mempertahankan kearifan lokal saat membuka lahan untuk bercocok tanam demi mempertahankan kehidupan keluarganya. Kami tetap menghargai kearifan lokal itu. Apalagi sekarang inikan pemerintah sudah mengakui hutan adat yang ada di Landak, " ungkapnya.

Sementara itu, akibat kabut asap itu tentu akan menyebabkan penyakit yang diderita oleh masyarakat. Penyakit yang paling rentan yakni penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA). Sesuai data dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Landak, dari bulan Januari hingga Juli 2019, terdapat 14.904 kasus ISPA yang menyerang masyarakat.

"Data itu sudah kami input dari data 16 Puskesmas di Landak dan RSUD Landak. Penyakit ISPA terbanyak di tahun 2019 terdapat di Kecamatan Ngabang sebanyak 4.044 kasus. Kedua terjadi di Kecamatan Jelimpo sebanyak 3.124 kasus dan ditempat ketiga terjadi di Kecamatan Sengah Temila sebanyak 1.979 kasus," jelas Kasi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinkes Landak, Suisin.

Dikatakannya, penyakit ISPA tersebut banyak menyerang usia diatas lima tahun. Sebab, Dinkes Landak banyak memegang data penderita ISPA diatas usia lima tahun.

"Namun berdasarkan data yang kami miliki, kita melihat belum ada peningkatan kasus ISPA berkenaan dengan kabut asap yang akhir-akhir ini terjadi di Landak. Kalau kita lihat data, kasus ISPA tertinggi terjadi pada bulan Maret dan April. Bulan Maret sebanyak 1.582 kasus dan bulan April sebanyak 1.558 kasus. Sedangkan bulan Juli 2019 hanya terdapat 1.417 kasus," jelasnya.

Ditambahkannya, memang belum ada kenaikan signifikan kasus ISPA berkenaan dengan kabut asap yang akhir-akhir ini terjadi di Landak.
"Ini mungkin karena dulunya sudah terjadi hujan beberapa kali, sehingga bisa menghilangkan kabut asap. Tapi sekarang ini, kabut asap mulai terjadi di Landak, terutama di Kota Ngabang," katanya.

Namun demikian katanya lagi, Dinkes Landak terus mengintruksikan kepada seluruh Puskesmas di Landak untuk selalu menganalisis penyakit ISPA yang ada di wilayah kerjanya.

"Kalau ada peningkatan kasus, kita mengantisipasinya dengan menyiapkan masker untuk dibagikan ke masyarakat. Untuk saat ini stok masker di Dinkes Landak masih mencukupi," aku Suisin.

Dia tetap mengimbau kepada masyarakat untuk melihat kondisi kabut asap yang mulai terjadi lagi di Landak, supaya melakukan antisipasi sedini mungkin dari serangan penyakit ISPA.

"Kalau tidak terlalu penting untuk keluar rumah, jangan lakukan keluar rumah. Kalaupun harus keluar rumah, harus mengenakan masker. Kalau tidak tersedia masker, mungkin bisa menghubungi Puskesmas atau sejumlah pelayanan kesehatan lainnya. Bisa juga dibeli di toko-toko yang menjual masker. Kemudian, kalau ada terindikasi terserang ISPA, secepatnya bisa menghubungi dokter," imbaunya. (dvi)

Wajib Gunakan Masker

Salah satu masyarakat Kota Ngabang, Ridwan terus memberikan perlindungan terhadap keluarganya dari serangan penyakit ISPA akibat kabut asap.

"Saya selalu mengutamakan kesehatan terhadap keluarga saya. Apalagi musim kabut asap yang kembali menyelimuti Kota Ngabang, saya berusaha semaksimal mungkin supaya keluarga saya tidak terserang ISPA," ujar Ridwan.

Usaha yang dilakukan Ridwan itupun cukup sederhana dan bisa diikuti keluarga lainnya.

"Saya mewajibkan anak dan istri untuk mengenakan masker saat bepergian keluar rumah. Apalagi mengendarai sepeda motor, masker wajib kita kenakan, terutama pada musim kabut asap sekarang ini," katanya.

Dia pun meminta keluarganya supaya tidak sering keluar rumah pada musim kabut asap sekarang ini. Apalagi tidak ada keperluan mendadak yang memaksakan harus keluar rumah.

"Saat antar jemput anak sekolah menggunakan sepeda motor, saya meminta anak saya untuk mengenakan masker. Hal ini saya lakukan demi melindungi keluarga saya dari serangan berbagai penyakit, terutama penyakit ISPA," katanya. (dvi)