Kisah Pahlawan Nasional Raden Temenggung Setia Pahlawan dari Melawi (Bagian 2-Selesai)

Melawi

Editor sutan Dibaca : 693

Kisah Pahlawan Nasional Raden Temenggung Setia Pahlawan dari Melawi (Bagian 2-Selesai)
KOMPLEK- Makam Raden Temenggung Setia Pahlawan di Desa Tekelak, Kecamatan Pinoh, Kabupaten Melawi, Kalbar. (ist)
Sebagian Besar Harta Dibawa oleh Belanda

Selain  menghubungi lembaga Arsip Nasional, Mahdar juga  melacak  ke perpustakaan Amsterdam. Dari risetnya ini ditemukan ensiklopedia yang ditulis penulis Belanda pada 1918,  serta salinan surat dari Batavia pada 27 Maret 1866.
Isinya untuk membalas kebaikan Raden Temenggung Setia Pahlawan yang telah menyelesaikan banyak perkara negeri di Kerajaan Sintang dengan memberikan uang sebanyak 2.500 gulden.

Namun, kemudian ditolak oleh Raden Temenggung karena ia menegaskan kepada raja,  bahwa ia tak mengabdi kepada Belanda dan hanya mengabdi pada raja.

Boby Fahrizal, satu di antara keturunan Raden Temenggung, di Nanga Pinoh, mengungkapkan penelusuran sejarah Raden Temenggung Setia Pahlawan sudah dimulai oleh pamannya, Mahdar Hamdani sejak 1968. Penelusuran Mahdar menemukan bukti sejarah yang ada, baik melalui penuturan para pelaku sejarah, keturunan langsung Raden Temenggung, serta catatan sejarah yang ada.

Akhirnya dapat dibukukan sejarah perjuangan Raden Temenggung Setia Pahlawan, berjudul  Raden Temenggung Setia Pahlawan dalam Perspektif Sejarah  Perjuangan Bangsa Indonesia.  “Buku ini bahkan hanya dicetak sebanyak 30 eks saja dan dibagi-bagikan kepada para keturunan Raden Temenggung,” kata Fahrizal.


Tidak banyak bukti perjuangan sejarah Raden Temenggung yang bisa dilihat,  selain makam serta sisa-sisa benteng Saka Dua yang  kerap disebut Tangsi Militer di Tanjung (kini desa Tanjung Niaga- Nanga Pinoh). Apalagi kata Fahrizal,  sebagian besar harta milik Raden Temenggung Setia Pahlawan banyak disita dan dibawa oleh Belanda saat dilakukan penangkapan terhadap beliau.

Pencatatan dan penelusuran terhadap bukti perjuangan Raden Temenggung Setia Pahlawan ini akhirnya menjadi alasan Pemerintah Republik Indonesia mengangkatnya sebagai Pahlawan Nasional berdasarkan Keppres nomor 114/TK/Tahun 1999 yang ditandatangani oleh Presiden BJ Habibie. (eko susilo)