Kisah Aisyah Tubuh Membiru Pengidap Jantung Bocor

Melawi

Editor sutan Dibaca : 1026

Kisah Aisyah Tubuh Membiru Pengidap Jantung Bocor
GENDONG - Ainiyati tampak menggendong Aisyah, didampingi sang suami, Bunain, di rumahnya, Dusun Durian Tanjung, Desa Tanjung Lay, Kecamatan Nanga Pinoh. (SP/ Eko Susilo)
Orangtua Aisyah Berharap Bantuan Dermawan

Sepintas, Aisyah Aqila tampak sehat Bayi berumur 9 bulan ini juga tampil tenang, Namun, siapa sangka, bayi ini bernasib malang. Aisyah mengidap kelainan jantung yang cukup kompleks. Bagi yang ingin mendonasikan bantuan seiklasnya bisa langsung menghubungi ayah Bunain. Atau bisa langsung ke nomor rekening BRI 3049-01-035018- 53-6, atas nama Bunain atau menghubungi langsung Bunain: 0857 8712 5013.

Suara Pemred menemui Bunain (28) di Dusun Durian Tanjung, Desa Tanjung Lay, Kecamatan Nanga Pinoh, Kamis (17/11). Sang ayah mengungkapkan, kelainan jantung yang dialami buah hatinya, baru diketahui saat usia enam bulan. Saat itu, Aisyah mengalami panas yang tak juga turun-turun selama kurang lebih seminggu. “Sempat dibawa ke puskesmas tapi tak ada perubahan. Kemudian langsung di rujuk ke RSUD Melawi. Kemudian dilakukan tes echo jantung oleh dokter," kata Bunain, hari itu didampingi istrinya Ainiyati.

Hasilnya, baru diketahui bahwa anaknya menderita empat kelainan. Yakni, jantung bocor, penyempitan pembuluh darah, jantung normal tapi ukurannya besar sebelah, serta darahnya biru. Aisyah lahir dalam kondisi kurang bulan, di mana saat usia kandungan Ainiyati masih 8 bulan kurang lima hari. 

Saat lahir juga warna tubuh Aisyah membiru. Namun saat itu tak ada tanda-tanda kalau anaknya menderita kelainan jantung. “Sekarang, hampir setiap malam rewel. Kalau penyakitnya kambuh, maka seluruh badannya membiru dan langsung lemas. Warna kukunya juga biru. Kalau cuaca dingin, sakitnya sering kambuh,” terangnya.

Bunain sudah berulang kali membawa Aisyah untuk berobat, mulai dari rawat inap sampai rawat jalan ke rumah sakit pemerintah bahkan swasta. Namun, tak juga sembuh-sembuh. Sebaliknya, Aisyah meski mengidap kelainan jantung, pertumbuhan fisik anaknya masih normal. “Kata dokter ini karena jantung bocornya belum kronis. Kalau sudah kronis pertumbuhannya juga terhambat,” kata Bunain.

Dokter menyarankan agar buah hatinya dioperasi di Rumah Sakit Jantung Harapan Kita. Hanya saja, untuk biaya operasi di sana mahal. Adapun biaya yang dibutuhkan sekitar Rp 500 juta bila kelainannya semakin kronis, dan Rp 150 juta kalau kondisi penyakitnya masih belum kronis.

Tapi biaya itu bisa berkurang, bila Aisyah didaftarkan ke BPJS. Informasi dari dokter, orangtua pasien cukup mengeluarkan biaya sekitar Rp 50 juta. "Kata dokter biaya ini untuk bolak-balik Jakarta, karena juga harus didaftarkan dulu ke RS Harapan Kita,” katanya.

Sekarang ini Aisyah hanya bisa bertahan dengan obat dari dokter. Obat ini diminum setiap hari. Ainiyati, ibu Aisyah mengatakan, obat ini hanya untuk mengurangi tekanan darah biru. Obat ini diperolehnya secara gratis, karena Aisyah sudah menjadi peserta BPJS.

Tapi, untuk biaya operasi, sekarang ini orangtua Aisyah dipusingkan dengan biaya. Apalagi penghasilan Bunain hanya sebagai penjual kue apam di Nanga Pinoh. Hasil jual apam, Bunain biasa mendapatkan untung bersih sekitar Rp90 ribuan per hari. Demi menyelamatkan sang anak, ia berencana ingin menjual kebun dan tanah miliknya di Sintang. “Tapi sampai sekarang belum laku-laku. Mungkin karena kondisi ekonomi yang sulit juga," katanya.

Ia berharap bila ada donatur atau dermawan yang mau menyumbangkan sedikit rezeki untuk anaknya, agar bisa segera dioperasi ke Jakarta. Ia juga berupaya menabung sedikit demi sedikit penghasilannya untuk putri keduanya. (eko susilo/loh)