Langganan SP 2

Harga Daging Sapi Capai Rp150 ribu, DPRD Melawi Gelar Sidak

Melawi

Editor Kiwi Dibaca : 473

Harga Daging Sapi Capai Rp150 ribu, DPRD Melawi Gelar Sidak
SIDAK PASAR – Jajaran pimpinan DPRD Melawi beserta sejumlah anggota menggelar inspeksi mendadak (sidak) di Pasar Markasan, Nanga Pinoh, terkait lonjakan harga bahan kebutuhan pokok jelang Ramadan. Mereka berharap pemerintah daerah segera mengambil langkah
NANGA PINOH, SP – Jelang memasuki bulan Ramadan yang tahun pada akhir Mei 2017, sejumlah harga barang kebutuhan pokok di Pasar Nanga Pinoh masih terbilang stabil. Harga daging dan telur misalnya, masih dijual dengan harga standar seperti biasa. Hanya baru bawang putih yang tampak mulai mengalami kenaikan.

Harga-harga kebutuhan pokok itu terungkap dalam inspeksi mendadak yang digelar sejumlah anggota DPRD Melawi di Pasar Markasan dan Pasar Laja di Kota Nanga Pinoh, Senin (15/5). Ketua DPRD, Abang Tajudin bersama dua wakil ketua, Kluisen dan Iif Usfayadi memantau dan berbincang langsung dengan pedagang untuk  mengetahui kondisi harga dan stok sembako.


“Sidak ini dalam rangka persiapan memasuki bulan suci Ramadan. Artinya kita ingin melihat dan memantau lansung kondisi ekonomi masyarakat kita serta melihat ada tidaknya kenaikan barang kebutuhan pokok di pasar,” kata Tajudin.

Dari pantauannya, sejumlah kebutuhan pokok harganya masih stabil seperti biasa. Seperti misalnya sayuran dan lainnya masih dijual dengan harga yang wajar. “Hanya bawang putih yang informasinya mengalami kenaikan. Karena di Pasar Nanga Pinoh tadi sudah dijual dengan harga Rp60 ribu per kilogram,” terangnya.

Sementara harga daging juga masih seperti biasa, di mana untuk daging ayam masih dijual dengan harga Rp35 ribu untuk setiap satu kilogram. Yang mahal justru daging sapi, di mana daging sapi lokal, telah dijual dengan harga mencapai Rp150 ribu per kilogram.

Diakuinya, harga daging sapi di Melawi ini memang belum bisa sesuai dengan yang diharapkan Presiden Jokowi yakni dapat dijual dalam harga Rp80 ribu. “Sementara harga sapi beku yang didatangkan dari luar Melawi saja paling murah Rp130 ribu,” ungkapnya.

Menurut Tajudin, tingginya harga daging sapi di Melawi karena produksi sapi belum mampu memenuhi kebutuhan konsumsi sapi masyarakat yang seharinya paling tidak memerlukan lima ekor sapi yang siap potong. “Kondisi peternakan sapi kita ini belum terlalu baik sehingga belum mampu memenuhi kebutuhan sapi sendiri. Sehingga banyak sapi yang harus didatangkan dari luar,” ucapnya.

Satu di antara pedagang daging sapi di Pasar Markasan, Julianto memaparkan, harga sapi memang relatif tinggi. Kendati demikian menurut dia, harga tersebut bukan baru-baru ini mengalami kenaikan, melainkan sudah selama dua tahun terakhir.

“Dalam dua tahun naiknya bertahap. Memang segitu (Rp150 per kilogram) harganya,” kata Julianto. Dia menjelaskan, daging yang masih segar dijual Rp 150 ribu. Kalau daging yang didatangkan dari luar daerah harganya berkisar Rp130 ribu.

“Daging mahal karena memang sulit mendapatkan sapi, dan kalau ada harga jualnya juga sudah terlanjur mahal,” ujarnya.

Julianto mengakui, bahwa sedikit pedagang yang masih bertahan untuk menjual daging sapi di Nanga Pinoh. Tak jarang ia harus mencari hingga ke luar daerah, bahkan dari Entikong untuk mendapatkan sapi tersebut. “Itu juga kadang dapat kadang tidak. Makanya harga sapi sulit turun,” ucapnya.

Baru-baru ini Komisi Pengawas dan Persaingan Usaha (KPPU) melaporkan adanya kartel daging sapi kepada Presiden Joko Widodo, di Istana Merdeka. "Kami sampaikan kepada Presiden, dugaan kami harga daging sapi mencapai Rp140 ribu hingga Rp150 ribu per kilogram yang beberapa waktu lalu itu disebabkan oleh kartel," ujar Ketua KPPU Syarkawi Rauf, setelah bertemu Presiden.

Rauf mengatakan, Presiden meminta KPPU memberantas kartel daging sapi di Indonesia. Selama dua tahun terakhir, perkara-perkara yang diurus KPPU sebagian besar soal dugaan aksi kartel dalam mempermainkan harga suatu komoditas pangan, salah satunya daging sapi.

Selain daging sapi, KPPU juga terus memantau fluktuasi harga daging unggas. KPPU juga menduga ada dugaan kartel pada komoditas itu. "Makanya kami akan kerja sama dengan Kementerian Perdagangan untuk mendorong kemitraan di unggas. Ini untuk mengatasi harga daging unggas yang harganya rendah di tingkat peternak tapi tinggi di pasaran," ujarnya.

Aksi kartel itu, berimbas pada matinya aktivitas para peternak kecil. Ke depan, KPPU akan membantu kemitraan antara para peternak kecil dengan peternak besar agar usaha kecil rakyat bisa terus berlanjut. "Dengan bermitra bersama, mereka bisa hidup bersama, bukan malahan menjadi kemitraan yang ekspolitatif," tutupnya. (eko/kom/ang)