Melawi Kembangkan Pertanian Terpadu

Melawi

Editor Kiwi Dibaca : 838

Melawi Kembangkan Pertanian Terpadu
WORKSHOP - Bupati Melawi, Panji membuka workshop Pengembangan Pertanian Terpadu. Dua desa di Melawi menjadi sasaran program yang diinisiasi WWF bersama Pemda Melawi tersebut. SUARA PEMRED/EKO SUSILO
NANGA PINOH, SP – Dua desa di Kecamatan Menukung, yakni Belaban Ella dan Siyai akan menjadi salah satu daerah pengembangan pertanian terpadu melalui program WWF Indonesia bersama Pemkab Melawi. Desa yang termasuk sebagai daerah penyanggah Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TNBBR) ini memiliki potensi lahan pertanian yang luas.

M Nawir, Market Transformation Initiative Coordinator WWF Indonesia Program Kalbar dalam Workshop Pengembangan Pertanian Terpadu menuju Ketahanan Pangan di Kabupaten Melawi, Senin (29/5) mengungkapkan, isu ketahanan pangan dan kedaulatan pangan menjadi isu krusial di Indonesia.


“Sisi dilematisnya karena kita sebenarnya punya lahan yang sangat luas, tapi kita juga sering mengimpor pangan dari luar,” katanya. Dari isu inilah, WWF Indonesia mencoba mendorong pengembangkan pertanian terpadu di Melawi, khususnya pada daerah-daerah sekitar konsensi perizinan Hak Pengusahaan Hutan atau HPH. Desa yang menjadi sasaran program di antaranya Belaban Ella dan Siyai yang berada di wilayah HPH PT Sari Bumi Kusuma.

“Kita coba kembangkan program ini di desa-desa ini sebagian upaya mengembangkan sektor pertanian di daerah tersebut. Apalagi dari visi misi bupati dan wakil bupati juga mendukung ke arah itu,” ungkapnya. Dilanjutkan Nawir, untuk mengoptimalkan program tersebut, WWF berharap adanya payung hukum seperti nota kesepahaman antara lembaga lingkugan tersebut bersama Pemkab Melawi termasuk perusahaan HPH di sekitar dua desa ini.

“Nantinya setiap tahun dari nota kesepahaman tersebut akan ada perjanjian kerjasama operasional bersama instansi terkait. Karena sebenarnya selain di sektor pertanian, masih ada potensi lain yang juga bisa tergali melalui pariwisata dan ekowisata di sana,” ujarnya.

Workshop
ini juga dihadiri masing-masing Kepala Desa Siyai dan Belaban Ella serta sejumlah kelompok tani. Termasuk instansi terkait dari Dinas Pertanian dan Perikanan serta Bappeda. Kehadiran perwakilan masyarakat menurutnya diperlukan sehingga nantinya mereka bisa menginisiasi kelompok masyarakat yang lebih besar di desanya masing-masing.


“Yang penting ada spirit untuk mengembangkan pertanian terpadu. Karena walau ada WWF, PT SBK dan Pemda, kalau tak ada komitmen yang kuat dari masyarakat, rasanya sulit program ini berjalan,” katanya. Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Dinas Pertanian dan Perikanan (Distankan) Melawi, Oslan Junaidi mengungkapkan Pemda memiliki keterbatasan dalam mengembangkan sektor pertanian walau sebenarnya dari sisi potensi memang di Melawi memiliki lahan yang begitu luas, utamanya di wilayah timur seperti Desa Belaban Ella dan Siyai.

“Keterbatasan kita dari sisi SDM dan anggaran. Karena itu Distankan mencoba melakukan inisiasi ke pihak lain yang bisa membantu Pemkab meningkatkan sektor pertanian,” katanya. Serupa dengan WWF, Oslan berharap program ini bisa berlanjut lebih permanen dengan adanya nota kesepahaman. WWF nantinya bisa membantu memberikan penguatan teknis pada masyarakat di dua desa tersebut selain dari Dinas Pertanian.

“Dengan keroyokan seperti ini, kita berharap apa yang menjadi visi misi pemkab Melawi bisa tercapai. Baik dari sisi visi membangun mulai dari desa, maupun upaya menciptakan ketahanan pangan di daerah ini,” ujarnya. Sementara itu, Bupati Melawi, Panji saat membuka workshop menilai program ini menjadi langkah maju untuk membangun sektor pertanian bersama-sama. Menurutnya peningkatan pembangunan pertanian sangat strategis, serupa dengan prioritas pemerintah dalam membangun infrastruktur fisik, pendidikan dan kesehatan.

“Ke depan nanti tinggal kita sepakati MoU yang diharapkan sehingga kalau sudah siap, program kerja tinggal berjalan. Intinya pemerintah siap mendukung WWF untuk pelaksanaan program, termasuk bermitra dengan perusahaan HPH di sekitar desa sasaran,” katanya. Panji pun berharap Kades di dua desa ini memberikan dukungan dan program.

Sehingga nantinnya semua elemen di desa bisa sinergis dan bekerja sama, baik dalam mengurangi masalah dan kendala yang muncul. Ini bisa jadi pilot proyek dan tentu harus dilaksanakan dengan penuh keyakinan. Yakni bahwa ini nanti akan jadi program nyata dan jelas keuntungannya. WWF bersama PT SBK tentu bisa membuat kegiatan ini menjadi sebuah kegiatan kegiatan konkret dan realistis. “Dan bisa meyakinkan petani di dua desa nantinya bahwa ini menjanjikan,” pungkasnya. (eko/ang)