PT Rafi Rumahkan 300 Karyawan

Melawi

Editor Kiwi Dibaca : 615

PT Rafi Rumahkan 300 Karyawan
PHK – Seorang pekerja di perkebunan kelapa sawit membawa satu tandan kelapa sawit. Di Thaun 2017 ini, PT Rafi Kamajaya Abadi di Melawi, tercatat telah melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) atau rumahkan karyawan secara besar-besaran, yakni mencapai 300
NANGA PINOH, SP – PT Rafi Kamajaya Abadi tercatat telah melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) atau rumahkan karyawan secara besar-besaran di awal tahun 2017 ini. Perusahaan yang bergerak di bidang perkebunan kelapa sawit ini melepas lebih dari 300 karyawan tetapnya setelah muncul rencana take over atau peralihan kepemilikan saham perusahaan. Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Melawi menyebut, PHK yang dilakukan PT Rafi menjadi yang terbesar untuk awal tahun ini.

Laporan dari perusahaan lain, walau ada pemberhentian, namun tak ada yang sebesar apa yang telah dilakukan perusahaan itu. “Memang informasi yang kita dapat hampir semua karyawan PT Rafi akan diberhentikan. Alasan dari perusahaan lakukan PHK, karena take over,” kata Paulus, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Disnakertrans, kemarin.

Berdasarkan data yang diterima, proses PHK karyawan PT Rafi dilakukan dalam dua gelombang, yakni gelombang pertama dilakukan per 31 Maret 2017 dengan jumlah karyawan sebanyak 204 orang, dan gelombang kedua per 31 April berjumlah 136 orang. “Karyawan yang di PHK tersebut semuanya mendapatkan haknya seperti pesangon,” ujarnya.

Kendati demikian, ada beberapa karyawan yang masih dipertahankan, walau dalam waktu yang lebih singkat. Ada 106 karyawan yang diperpanjang atau dikontrak selama tiga bulan.

“Karena pengalihan manajemen atau take over masih dalam proses, makanya pada masa ini ada sebagian karyawan dikontrak selama tiga bulan, khususnya untuk pekerjaan yang sifatnya krusial seperti Satpam, jaga gudang dan staf kantor,” terangnya.
Paulus menambahkan, PHK juga dilakukan oleh sejumlah perusahaan lainnya, namun tak sebesar PT Rafi. Di mana yang lain lebih pada rasionalisasi pekerja yang telah memasuki masa pensiun.

Disnakertrans juga terus meminta perusahaan untuk aktif melaporkan tenaga kerjanya. Namun masih ada juga perusahaan yang tidak pernah sama sekali melaporkan tenaga kerjanya. “Jadi untuk mengetahui keberadaan tenaga kerja di perusahaan yang ada di Melawi ini kami terpaksa harus melakukan jemput bola kelapangan,” ucapnya.

Beberapa waktu lalu, Bagian Humas Legal PT Rafi Kamajaya, Petos mengakui, bahwa pihak perusahaan melakukan pemangkasan terhadap jumlah karyawan yang ada. Hanya saat itu, pengurangan karyawan bukan karena sekadar take over namun karena kebijakan perusahaan yang kerap merugi.


“Kita memang melakukan pengurangan karyawan, tapi itu bukan karena take over. Tapi masih ada sekitar 100 karyawan yang masih dipertahankan,” terangnya.
Sementara untuk aktivitas kebun, lanjut Petos saat ini masih dihentikan dengan alasan yang sama. Kabar take over menurutnya memang kerap beredar di masyarakat, namun hal ini belum bisa dipastikan mengingat hal tersebut menjadi kebijakan di level pemegang saham. (eko/ang)