Program Cetak Sawah Terhambat

Melawi

Editor Kiwi Dibaca : 332

Program Cetak Sawah Terhambat
CETAK SAWAH – Program cetak sawah di Melawi mengalami kendala. Dari 300 hektare lahan yang direncanakan, baru 140 hektare yang terlaksana. Dinas Pertanian dan Perikanan (Distankan) menyebut, kendala utamanya adalah karena sebagaian besar lahan di Melawi
NANGA PINOH, SP – Status kawasan hutan sepertinya benar-benar menjadi momok bagi pelbagai rencana pembangunan di Melawi. Tak cuma infrastruktur yang sulit dibangun, namun juga program-program pusat lainnya juga sulit direalisasikan, karena terbentur desa atau wilayah sasaran berada dalam kawasan hutan. Mulai dari hutan lindung, hutan produksi hingga hutan produksi terbatas Seperti misalnya program cetak sawah yang sebenarnya akan berjalan di Melawi. Pada tahun 2017 ini sedianya mendapat jatah 300 hektare.

Namun Dinas Pertanian Dan Perikanan (Distankan) justru kesulitan mencari lahan yang akan dijadikan areal cetak sawah. “Kendala yang kita hadapi adalah masalah kawasan. Kita ini sebenarnya punya program cetak sawah bersama TNI. Tapi justru terbentur dengan status kawasan,” kata Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Distankan Melawi, Oslan Junaidi baru-baru ini. Menurut dia, ada lahan yang sebenarnya punya potensi tapi berada dalam hutan lindung atau daerah abu-abu.  

Dampaknya, dari total 300 hektare yang diberikan untuk Melawi, baru 140 hektare yang berstatus clear and clean. Namun demikian, Distankan masih berupaya agar kuota 300 hektare ini bisa terpenuhi dengan mencari potensi lahan di daerah lain yang tidak berada di dalam kawasan hutan.
“Maka rencananya nanti kami ingin ke Dinas Perkim (perumahan rakyat, kawasan permukiman dan pertanahan). Mau kita lihat peta Melawi, sehingga diketahui mana yang putih dan mana wilayah yang abu-abu,” ucapnya.

Oslan menambahkan, pemetaan kawasan menjadi hal yang penting dalam pelaksanaan program cetak sawah kali ini. Karena jajaranya bisa mengetahui di mana saja program ini dapat diletakkan. “Karena sebenarnya, sayang kita punya anggaran, tapi malah lahannya yang abu-abu,” ujarnya.

Tokoh muda Pinoh Utara, Martinus Paton juga pernah mengungkapkan banyaknya potensi cetak sawah di wilayah Kecamatan Pinoh Utara. Seperti misalnya di Desa Merah Arai, setidaknya ratusan hektare masih berupa lahan kosong terbentang dan bisa dimanfaatkan untuk percetakan sawah. “Kami mendukung program cetak sawah di desa kami karena bisa meningkatkan hasil panen padi bila dibandingkan dengan berladang,” katanya.

Hanya saja, Paton juga tak mengetahui apakah usulan ini bisa direalisasikan di Pinoh Utara mengingat begitu banyaknya desa di sana yang masuk dalam kawasan hutan lindung. “Tak cuma itu, banyak lahan di daerah kami yang tak bisa dimanfaatkan, karena berstatus eks inhutani. Bahkan yang sebenarnya sudah diputihkan, katanya juga masuk dalam izin kebun. Kalau seperti ini tentu menyusahkan masyarakat di sana,” keluhnya. (eko/ang)