Proyek di Melawi Asal Jadi

Melawi

Editor Kiwi Dibaca : 727

Proyek di Melawi Asal Jadi
JALAN RUSAK - Gubernur Kalimantan Barat Cornelis meninjau jalan patroli di perbatasan Entikong-Malaysia, belum lama ini. Anggota DPRD Melawi meminta pelaksanaan proyek infrastruktur tahun 2017 tak lagi hanya sekadar memperhatikan kuantitas semata, tapi ju
NANGA PINOH, SP – Pelaksanaan proyek fisik di tahun 2017 ini diharapkan tak lagi hanya sekadar memperhatikan kuantitas semata, tapi juga melihat kualitas produk yang dihasilkan. Pasalnya, banyak proyek di Melawi yang semestinya mampu bertahan dalam beberapa tahun, namun justru kemudian sudah rusak dalam hitungan bulan. Hal tersebut disampaikan Anggota Komisi B DPRD Melawi, Abang Ahmaddin, Kamis (8/6).

Menurutnya mesti ada perubahan pola pikir dari stakeholder terkait agar pelaksanaan proyek tak lagi hanya asal jadi.
“Saat ini lebih penting bila proyek infrastruktur yang dibangun di Melawi lebih memperhatikan dari sisi kualitas. Sehingga proyek yang dianggarkan dari dana pemerintah bisa lebih tahan lama,” katanya.

Menurut legislator Golkar ini, proyek yang dikerjakan dengan kualitas mutu rendah justru berdampak pada pemborosan uang negara. Ia mencontohkan, ada ruas jalan yang sampai dikerjakan sampai lima enam kali karena kualitas pekerjaan yang tidak baik.

“Jalan ini belum juga sampai satu periode sudah rusak lagi. Sehingga terpaksa dianggarkan kembali pada tahun berikutnya. Seperti ini kan pemborosan namanya. Mending dikerjakan dengan kualitas terbaik, walau dari sisi kuantitas atau volume jalan tidak terlalu banyak,” ucapnya.

Tak cuma pada pelaksana kegiatan, Maddin sapaan akrabnya juga mendorong pada instansi teknis yang menangani proyek infrastruktur jalan dapat lebih intensif melakukan pengawasan. Tak hanya menerima hasil dari pekerjaan, tapi juga melihat bagaimana kualitas pekerjaan tersebut dilapangan.

“Jangan sampai baru dikerjakan, dua bulan kemudian hancur. Ini justru memunculkan persoalan baru,” ingatnya. Bentuk pengawasan tersebut, bisa dalam bentuk uji laboratorium terhadap sampel pekerjaan sebelum proyek tersebut dilaksanakan. Misalnya pada jalan rabat beton, dapat diukur terlebih dahulu beton yang dibuat apakah sudah sesuai dengan perencanaan.

“Misalnya syarat rabat beton atau CTB menggunakan beton K 250, tentunya pelaksanaan di lapangan juga harus dengan spesifikasi yang telah ditetapkan. Jangan sampai malah di lapangan kualitasnya justru lebih rendah,” ucapnya. Khusus untuk pekerjaan jalan seperti rabat beton dan CTB, Maddin mengatakan, saat ini di Melawi sudah tersedia pabrik readymix yang bisa menerima pesanan sesuai dengan kekuatan beton yang dibutuhkan. Seharusnya keberadaan pabrik ini juga bisa mendorong peningkatan kualitas pekerjaan.

“Hanya tentu dengan pengawasan dan profesionalitas dari pihak pelaksana juga. Jangan sampai, speknya K 250, namun justru campuran beton yang dibuat juga masih dibawah itu,” kata dia. Maddin juga berharap, instansi teknis seperti Dinas Pekerjaan Umum (PU) bisa menindaklanjuti berbagai proyek jalan rabat beton maupun CTB dengan melakukan pengaspalan sehingga kekuatan jalan juga menjadi lebih baik. Menurutnya, banyak jalan beton yang justru lebih cepat rusak karena tidak segera dilapisi atau dibiarkan bertahun-tahun tanpa pengaspalan.

“Tanpa pengaspalan membuat air memasuki pori-pori pada jalan beton sehingga menurunkan ketahanan beton tersebut. Kita dorong agar nantinya jalan beton sekaligus pengaspalan,” pungkasnya. (eko/ang)