Melawi Butuh Pasar Tradisional

Melawi

Editor Kiwi Dibaca : 738

Melawi Butuh Pasar Tradisional
PASAR TRADISIONAL – Sejumlah warga tengah berbelanja di pasar tradisional di salah satu kawasan di Jakarta. Di Melawi, akibat kurangnya pusat perbelanjaan, diusulkan membangun sebuah kawasan pasar di Lapangan Sepakbola Tanjung.
NANGA PINOH, SP - Kebutuhan masyarakat Melawi akan berdirinya sebuah kawasan perdagangan atau pasar masih cukup tinggi. Sejumlah lahan pun berpotensi untuk dikembangkan menjadi pasar tradisional namun tentunya dengan desain dan fasilitas modern. Seperti wacana yang ditawarkan anggota DPR RI asal Kalbar, Sukiman, di mana ia memimpikan lapangan sepakbola Tanjung yang saat ini belum termanfaatkan dengan optimal bisa dibangun sebuah kawasan pasar tradisional.

"Bisa di sana (Lapangan Sepakbola Tanjung) dibangun pasar tradisional tapi dengan desain modern. Dari sisi lokasi juga sangat bagus dan dekat dengan Pasar Pinoh," ujarnya, kemarin. Dia mengakui, memang dari soal hak kepemilikan, aset lapangan tersebut belum jelas, siapa yang memilikinya, apakah menjadi aset pemerintah daerah atau ahli waris yang berada di Melawi.

Namun, bila memang disetujui untuk membangun pasar di sana, tentu nantinya tak mengesampingkan ahli waris yang pernah menghibahkan lapangan itu di masa lalu. "Hanya mereka diberikan porsi dari pemerintah untuk tempat usaha. Diberikan ruko yang paling depan lah misalnya kalau pasar ini jadi dibangun," saran dia.

Dalam wacana tersebut, pasar itu nantinya tetap berfungsi secara tradisional.  Maksudnya bisa menampung hasil rempah-rempah dan hasil pertanian masyarakat, hanya saja akan dikelola secara modern.

  
"Agar bersih dan sehat kemudian juga nyaman. Parkir juga dikelola teratur," ucapnya. Di lokasi pasar tradisional nantinya akan didesain bagus dan menarik. Ia beralasan, mengapa lokasi ini sangat cantik, karena juga berdekatan dengan sungai dan bisa diakses dari jalur manapun.

"Jangan dipaksakan macam Pasar Batu. Siapa yang mau di sana, karena sempit, rendah dan sirkulasi udaranya buruk. Maka pedagang banyak yang pergi," katanya. Soal anggaran, Sukiman juga menawarkan alternatif seperti misalnya menawarkan pemerintah daerah bekerja sama dengan pihak ketiga. Atau bila memungkinkan membangun sendiri dengan mengusulkan dana dari kementerian.

"Sebelum pembangunan, warga yang merasa memiliki kita undang. Kita tawarkan win-win solution. Tentu ini lebih baik. berapa banyak ahli waris yang diberikan lapak untuk berjuakan. Jadi nanti Pemda yang hibahkan pada keluarga. Sehingga damai tak perlu sampai ke pengadilan," sarannya.


Sukiman mengaku dirinya tak setuju bila lapangan ini hanya dimiliki pengusaha tertentu saja. Karena status tanah dimiliki bersama. "Kalau terus diributkan, dan panjang urusannya, sebaiknya dikembalikan menjadi lapangan bola saja," ujarnya. Soal kepemilikan Lapangan Sepakbola Tanjung, dahulu lapangan tersebut sudah berfungsi sebagai lapangan sepakbola sehingga seharusnya menjadi milik publik.

"Hanya setelah memiliki nilai ekonomi, muncul pihak yang mengaku ahli waris," terangnya. Karena itulah, pembangunan pasar tradisional di sana akan menjadi investasi berharga oleh  pemerintah. Pengelolaannya, pemerintah bisa menarik iuran dengan besaran yang terjangkau dan memberikan tambahan Pendapatan Asili Daerah (PAD). Sementara untuk mereka yang mengklaim sebagai ahli waris, diberikan saja lapak sebagai kompensasi atas lahan tersebut. (eko/ang)