Wanita Katolik Melawi Diminta Kawal Pancasila

Melawi

Editor Kiwi Dibaca : 580

Wanita Katolik Melawi Diminta Kawal Pancasila
TIUP LILIN – Sejumlah pengurus WKRI serta Ketua TP PKK dan GOW Melawi ikut meniup lilin bersama dalam puncak peringatan HUT WKRI ke 93 di Nanga Pinoh, Rabu (5/7). Bupati Panji meminta WKRI bersama pemerintah menjaga Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika. SUA
NANGA PINOH, SP – Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) Cabang Nanga Pinoh menggelar peringatan ulang tahun yang ke 93, Rabu (5/7) di Gedung MABT Nanga Pinoh. Peringatan itu dihadiri Bupati Melawi Panji serta sejumlah tamu undangan. Dalam kesempatannya,  organisasi yang berumur lebih tua dari Republik Indonesia ini, diminta Panji untuk terus berperan aktif dalam berbagai kegiatan keagamaan dan sosial.

“Seperti tema yang diangkat dalam HUT WKRI ke 93 merajut keberagaman dalam menjaga serta menghidupi Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika, WKRI memang sudah mengambil peran itu sejak Indonesia masih memperjuangkan kemerdekaannya,” kata Panji saat memberikan sambutan.

Panji mengungkapkan kondisi masyarakat saat ini memang menunjukan persatuan bangsa yang sudah mulai melemah, adanya sejumlah golongan masyarakat yang menunjukkan sikap egois dengan mementingkan diri sendiri dan golongannya semata.

“Bahkan ada pula oknum yang menjadikan keuntungan atas kondisi ini. Karena itu perlu kesediaan kita bersama, termasuk organisasi ini untuk mencari pemecahan masalah yang terjadi di masyarakat bersama agama dan kelompok yang berbeda,” ucapnya.

Sebagai organisasi kewanitaan, Panji menilai WKRI sudah semestinya berkomitmen menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan peduli sesama. Organisasi yang bergerak di bidang sosial harus juga berani membuka diri dan bangkit terlibat dalam proses pembangunan di daerah.

“Yang terpenting, jangan hanya menganggap dirinya lebih baik dari yang lainnya. Karena WKRI sudah mengambil bagian dalam menjaga apa yang diwariskan oleh para pendahulu kita agar Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika tetap hidup dan jaya,” tegasnya.

WKRI berusia 21 tahun lebih tua dari NKRI, tentu memiliki sejarah yang panjang di masa pendiriannya. Karena itu, mengapa WKRI bisa lahir di masa itu, bahkan sebelum Indonesia berdiri bisa menjadi pertanyaan saat ini. Menurutnya saat itu WKRI lahir karena rasa diperlukan dan terpanggil untuk ikut berbuat yang terbaik bagi bangsa ini.

“Saat itu, WKRI tak hanya tampil dan menciptakan insan beriman, tapi juga berjuang mewujudkan kemerdekaan RI. Di masa kini, perjuangan WKRI menjadi bagian dari elemen bangsa yang tak mau ketinggalan zaman untuk mengisi kemerdekaan itu,” katanya.

Sementara itu, Ketua WKRI Cabang Nanga Pinoh, Endang Tjeti menegaskan komitmennya untuk turut serta menjaga NKRI sesuai dengan tema yang diangkat dalam perayaan HUT ke 93 yang jatuh pada 26 Juni lalu. Tekad tersebut dituangkan dalam Mukadimah Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga WKRI.

“Mari kita terus menerus dan tak jemu-jemu turut berperan serta merajut keberagaman dalam menjaga dan menghidupi Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika,” katanya. Sebagai wanita Katolik, harus menjaga dan menghayati serta menjiwai nilai-nilai Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika sesuai dengan cara dan kemampuan masing-masing terutama sebagai perempuan dan ibu.

“Yaitu dengan menanamkan cinta, kepedulian, saling menghargai, sikap toleransi, tidak diskriminatif dalam keluarga kita masing-masing. Dan kita suarakan kebaikan ini dengan terus tegak membela yang benar dalam lingkungan tetangga dan masyarakat,” katanya. Peringatan HUT WKRI ke 93 Cabang Nanga Pinoh dirayakan dengan menggelar berbagai kegiatan mulai dari perlombaan hingga seminar.

Ketua Panitia, Anita menerangkan perlombaan yang digelar untuk meningkatkan hubungan antara pengurus WKRI Nanga Pinoh dengan ranting dan stasi diantaranya masak berpasangan, lomba cerdas cermat hingga lomba futsal dangdut yang diikuti ibu-ibu WKRI. “Kita juga menggelar misa syukur ulang tahun WKRI serta seminar dengan tema peran WKRI dalam mewujudkan Melawi Layak Anak,” katanya. (eko/ang)

Komentar