Langganan SP 2

Gas Subsidi ‘Hilang’ di Melawi

Melawi

Editor Tajil Atifin Dibaca : 184

Gas Subsidi ‘Hilang’ di Melawi
KAYU BAKAR – Pasca Hari Raya Idulfitri dan Iduladha lalu, keberadaan gas elpiji tiga kilogram perlahan hilang di sebagian besar pasar di Melawi. Jika pun ada harganya telah mencapai Rp30 ribu. Akibatnya sebagian warga beralih ke kayu bakar untuk memasak.
NANGA PINOH, SP – Kelangkaan tabung gas tiga kilogram bersubsidi di Melawi meresahkan warga. Sebagian bahkan telah beralih menggunakan kayu bakar untuk memasak karena tidak menemukan pedagang yang menjual tabung gas atau tidak mampu membelinya karena harganya terlampau mahal. Zul, satu di antara warga Nanga Pinoh mengaku harus berkeliling dari satu pangkalan ke pangkalan lain bahkan hingga sampai ke warung-warung untuk mencari tabung gas ‘melon’ tersebut.  

“Beberapa pangkalan banyak yang tutup karena kehabisan gas. Begitu juga dengan warung-warung. Rata-rata kosong karena belum mendapat pasokan gas,” kata Zul. Selasa (5/9).


Padahal kelangkaan selama ini nyaris tak pernah terjadi sejak konversi gas berlangsung beberapa tahun lalu. Namun, pasca Hari Raya Idulfitri hingga Iduladha elpiji malah sulit didapat. Menurut dia, adapun toko yang menjual tabung gas, harga sudah mencapai Rp30 ribu per tabung.

“Ini pun dapat di dalam Kota Nanga Pinoh, tapi harganya sudah naik tinggi sampai Rp30 ribu,” ujarnya. Sinta, warga Kelakik, Nanga Pinoh mengungkapkan, di desanya, kelangkaan elpiji membuat beberapa masyarakat sempat kelimpungan untuk memasak.

 Seperti saat malam Iduladha pekan lalu, masyarakat yang harus mempersiapkan makanan untuk dimakan di hari raya, terpaksa menggunakan kayu bakar karena kehabisan elpiji tiga kilogram. “Ya, karena sudah tak sempat mau keliling-keliling lagi nyari gas ke Kota Pinoh. Jadi terpaksa gunakan cara lama, yakni pakai kayu bakar saja,” terangnya.

Bila dalam kota saja kosong, apalagi di daerah pedalaman. Muncak, warga dusun Sungai Siluk Kecamatan Belimbing Hulu mengaku elpiji tiga kilogram di mana-mana sulit diperoleh. Saat ini hanya di agen-agen tertentu yang ada menjual gas melon ini. “Kita pun terpaksa jual kadang Rp25 ribu sampai Rp30 ribu. Karena gas ini susah sekali diperoleh,” keluhnya.

Terpisah, pemilik agen elpiji Mita Melawi, Adut, justru mengaku pasokan gas masih lancar seperti biasa. Pihaknya masih terus menyuplai gas elpiji ke pangkalan. Biasa baru terjadi kelangkaan saat menjelang hari raya, namun, itu juga tetap akan diberikan penambahan kuota dari SPBE.

“Namun, di hari biasa, pasokan seharusnya masih tetap lancar seperti biasa,” terangnya. Terkait tingginya harga elpiji, Adut mengungkapkan sebenarnya dari agen maupun pangkalan harga jual gas sesuai dengan harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan. Agen elpiji ini mendistribusikan ke sejumlah pangkalan dari dalam Kota Nanga Pinoh hingga ke kecamatan.

“Kita jual ke pangkalan Rp16 ribu per tabung. Hanya bila makin jauh biasanya harganya juga ikut naik. Kecuali ambil ke agen langsung. Jadi harga ju