Pertamina Gelar Operasi Pasar Elpiji

Melawi

Editor Kiwi Dibaca : 104

Pertamina Gelar Operasi Pasar Elpiji
OPERASI PASAR – Warga membeli elpiji tiga kilogram saat digelar operasi pasar, Selasa (12/9). Harga jual elpiji dipatok sesuai HET yakni Rp17ribu. Dalam satu jam, 560 tabung yang dijual Pertamina bersama agen ludes terjual.
NANGA PINOH, SP – Pasca kelangkaan gas elpiji tiga kilogram di Kabupaten Melawi beberapa hari lalu, PT Pertamina akhirnya mengambil langkah menggelar operasi pasar gas elpiji subsidi untuk masyarakat miskin tersebut di lapangan Kecamatan Nanga Pinoh, Selasa (12/9).

Satu truk bermuatan 560 tabung elpiji dijual ke masyarakat sesuai harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah yakni Rp17 per tabungnya. Junior Sales Executive Elpiji VI Kalimantan, Aditya Herdy Permadi yang dihubungi melalui seluler menerangkan, operasi pasar gas melon ini direncanakan berlangsung selama dua hari.

“Kita melibatkan agen-agen gas setempat. Hari pertama ada satu agen dengan jumlah tabung yang dialokasikan 560 tabung. Hari kedua akan ada dua agen, masing-masing 560 tabung, sehingga total untuk hari kedua (Rabu) ada 1.120 tabung,” katanya. Aditya menilai isu kelangkaan dan kenaikan harga gas kemungkinan terjadi di tingkat pengecer.

 Apalagi memang ada beberapa daerah pelosok yang sulit terjangkau sehingga ikut mempengaruhi harga jualnya. Selain itu, ia juga menduga, kondisi yang terjadi di Melawi karena banyaknya masyarakat yang masuk kategori mampu atau usaha-usaha menengah yang juga menggunakan gas yang sebenarnya diperuntukan bagi masyarakat miskin tersebut.

   “Kalau kelangkaan, itu tak benar, karena di agen maupun pangkalan tidak ada masalah untuk distribusinya,” katanya. Operasi pasar ini juga, terang Aditya untuk menunjukkan bahwa pasokan gas dari Pertamina sebenarnya normal dan tak ada permasalahan, apalagi pengurangan kuota. Kalaupun ada cuaca hujan, pendistribusian gas ke Melawi berjalan normal. “Kita juga ingin mengendalikan harga gas di tingkat pengecer. Jadi membantu menyesuaikan harga gas elpiji tiga kilogram sesuai HET,” katanya.

Kuota tabung elpiji di Kabupaten Melawi setiap bulannya sebanyak 112.000 tabung. Kuota ini diyakini mencukupi kebutuhan masyarakat miskin, yang rata-rata penggunaan masksimal gas elpiji sebanyak dua tabung per hari. Namun jika kuota ini selewengkan ke restoran yang per harinya bisa mengambil tujuh tabung, tentunya berdampak terhadap stok elpiji ke masyarakat yang membutuhkan. Pertamina, dilanjutkan Aditya sudah mengajukan penambahan kuota untuk tiga kabupaten, yakni Melawi, Sintang dan Kapuas Hulu, karena tiga kabupaten ini dianggap mengalami gejolak kelangkaan.

“Sebenarnya setiap tahun, ada penambahan kuota. Walau persoalannya, penambahan kuota ini tidak sebanding dengan kebutuhan atau permintaan kuota di Indonesia. Kita selalu menyesuaikan antara realisasi dan subsidi dari Dirjen Migas,” katanya.

Sementara itu, Manajer Stasiun Pengisian Bahan Bakar Elpiji (SPBE) Sintang, Taufik juga membantah kabar kelangkaan elpiji tiga kilogram di Melawi karena suplai dari SPBE Sintang normal, dalam artian alokasi dari pertamina tidak dikurang sama sekali.

“Tidak ada pengurangan sebenarnya. Untuk Melawi alokasi elpiji kurang lebih enam sampai tujuh truk per hari. Satu truk isinya 560 tabung,” terangnya. SPBE sendiri, lanjut Taufik hanya melakukan penyaluran sesuai dengan alokasi yang sudah ditentukan. Sedangkan yang punya kewenangan untuk melakukan pengawasan yakni Pertamina. 

   “Apakah dari agen ke pangkalan, kemudian dari pangkalan ke masyarakat. Yang perlu dikontrol itu yang kemasyarakat,” katanya. (eko)