Langganan SP 2

Puskesmas Rawat Inap Segera Dibangun

Melawi

Editor Kiwi Dibaca : 155

Puskesmas Rawat Inap Segera Dibangun
TINJAU LOKASI - Bupati Melawi, Panji bersama kepala dinas dan staf meninjau lokasi pembangunan puskesmas, serta kondisi eks stadion MTQ Nanga Pinoh, Kamis (14/9).
NANGA PINOH, SP – Pembangunan Puskesmas Rawat Inap Nanga Pinoh di eks stadion MTQ lama bakal segera direalisasikan. Pembangunan puskesmas yang menelan dana lebih dari Rp7 miliar inipun sudah ditinjau langsung oleh Bupati Melawi, Panji, Kamis (14/9) siang.

Kepala Dinkes Melawi, Ahmad Jawahir menerangkan, anggaran pembangunan Puskesmas Nanga Pinoh berasal dari Dana Alokasi Khusus (DAK) bidang kesehatan tahun 2017 dan saat ini sudah masuk proses verifikasi di tingkat pemerintah provinsi hingga Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

“Jadi apapun yang sudah diputuskan, berarti sudah melalui proses telaah yang tidak sebentar. Tapi perlu waktu hingga setahun,” katanya. Pembangunan puskesmas di areal eks Stadion MTQ sempat ditolak oleh anggota DPR RI Dapil Kalbar, Sukiman.

Ia beralasan eks Stadion MTQ seharusnya digunakan untuk tempat pelaksanaan Shalat Id masyarakat Melawi karena lokasi tersebut menjadi satu-satunya tempat yang paling representatif. “Saat ini stadion itu sudah menjadi fasilitas umum bagi umat Islam, terutama dipakai untuk Shalat Id. Sekarang kalau itu dialih fungsikan, misalnya nanti dibangun sekolah terpadu di sana, di mana lagi tempat umat Islam di Nanga Pinoh ini akan melaksanakan shalat Id di lapangan,” katanya.

Terkait hal tersebut, Ahmad Jawahir menegaskan pihaknya sudah melakukan sosialisasi di Kantor Camat Nanga Pinoh yang dihadiri kepala desa dan tokoh masyarakat di Desa Kenual, karena lokasi ini berada di desa tersebut. “Alhamdulillah mereka menyambut baik dan mendukung sepenuhnya ketika kami memulai menentukan titik tempat ini,” katanya.

Menurut Ahmad, luas lahan puskesmas hanya 2.500 meter persegi. Puskesmas Nanga Pinoh hanya menggunakan lahan dengan ukuran 50 x 50 meter. Sementara luas lahan eks Stadion MTQ mencapai 4,8 hektar. “Yang kita pakai tak sampai lima persen dari luas yang ada. Masih banyak lahan yang bisa dimanfaatkan untuk aktivitas masyarakat,” katanya.

Ahmad juga menjawab soal pemilihan titik pembangunan puskesmas tak jauh dari akses jalan menuju desa Kenual, bukannya pada bagian belakang atau sudut ujung stadion (ke arah bandara), dikarenakan sampai kini ada bagian lahan di eks stadion yang masih bersengketa. Selain puskesmas, pemkab juga berencana membangun sekolah dasar di sudut lahan stadion tersebut.

“Nah kita tak tahu mana yang bersengketa, jadi tanah ini bisa diklaim ke mana-mana. Rencananya memang di belakang ini. Kita cari yang pasti–pasti,” katanya. Ahmad Jawahir juga menjelaskan, bila nanti shalat id digelar di lapangan tersebut, tidak akan menghalangi arah kiblat karena posisi kiblat berada di samping puskesmas.

“Lagipula di lapangan manapun biasa shalat id tetap akan menghadap ke rumah orang. Saya mengajak masyarakat untuk lebih realistis, pemahaman agama kita tidak sesempit itu,” katanya.   Kalaupun ada penolakan, Ahmad Jawahir menilai hal tersebut tak menjadi persoalan. Karena dari sisi aspek teknis maupun non teknis, baik secara hukum maupun sosial, semuanya sudah dilewati.

“Misalnya soal status lahan tidak bermasalah karena ini milik pemda. Begitu juga belum ada satu peraturan pun yang menyatakan eks stadion ini tak diperbolehkan untuk yang lain,” pungkasnya. (eko/jee)