Harga Beras di Melawi Naik

Melawi

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 181

Harga Beras di Melawi Naik
BERAS – Pasokan beras Bulog siap dikirim ke daerah-daerah untuk memenuhi kebutuhan beras seluruh Indonesia. Harga beras di Kabupaten Melawi mengalami kenaikan tinggi sejak akhir 2017 lalu. Saat ini kenaikan harga beras berkisar antara Rp5 ribu sampai Rp10

Pedagang: Harga Baru Awal Tahun


Jumiati, Ibu Rumah Tangga
“Sekitar Desember 2017 untuk beras merek Rambutan per karung 10 kilogram dijual Rp126 ribuan. Sekarang tiba-tiba saja sudah naik sampai Rp135 ribu per karungnya,”

NANGA PINOH, SP – Harga beras di Kabupaten Melawi mengalami kenaikan tinggi sejak akhir 2017 lalu. Saat ini kenaikan harga beras berkisar antara Rp5 ribu sampai Rp10 ribu per karung. Kenaikan ini pun dikeluhkan sejumlah ibu rumah tangga, mengingat beras menjadi komoditas utama yang pasti dibeli setiap bulan.

Salah seorang ibu rumah tangga, Jumiati yang ditemui di Pasar Nanga Pinoh mengungkapkan, harga beras per karung memang sudah naik sejak akhir tahun lalu.

“Sekitar Desember 2017 untuk beras merek Rambutan per karung 10 kilogram dijual Rp126 ribuan. Sekarang tiba-tiba saja sudah naik sampai Rp135 ribu per karungnya,” keluhnya.

Kenaikan ini pun dirasa sangat membebani masyarakat. Mengingat beras menjadi kebutuhan pokok yang tak mungkin tak dibeli. Jumiati pun mengaku mau tak mau membeli beras dengan harga yang begitu tinggi.

“Padahal, kebutuhan pokok lainnya juga lumayan mahal dan itu juga mesti dibeli setiap bulannya,” katanya

Apen, seorang pedagang sembako di Nanga Pinoh mengatakan, saat ini rata-rata harga barang memang naik, setidaknya sejak menjelang akhir tahun 2017,  harga barang sudah rata-rata berubah naik dari harga sebelumnya. Kenaikan harga barang memang tidak terlalu besar.

“Adapun yang agak besar kenaikannya harganya hanya beras, karena kenaikan harganya berkisar Rp5 ribu sampai Rp6 ribu per karung,” ungkapnya.

Dikatakan Apen, naiknya harga barang ini cukup menghawatirkan pedagang, karena dengan harga barang yang stabil saja daya beli masyarakat menurun. Bahkan kunjungan pembeli di pasar saja sudah semakin sepi.

“Kemungkinan dengan harga barang yang terus merangkak naik ini akan membuat pasar semakin sepi kedepannya,” ujarnya.

Apen juga menyampaikan satu hal, sistem jual beli barang dengan agen sekarang sedikit berbeda. Dulu jual beli barang dengan agen hanya cukup menggunakan nota, tapi sekarang harus dilampirkan kartu tanda penduduk atau KTP.

“Kami juga bingung untuk apa harus memberikan KTP dalam setiap pembelian barang kepada agen,” ucapnya.

Terpisah, Asok Indo Sembako pemilik toko di jalan Kota Baru juga menyampaikan, bahkan pada tahun 2018 harga barang rata-rata naik, termasuk harga sembako. Karena itu, setiap pelanggan yang datang berbelanja ketempatnya disampaikan persoalan naiknya harga barang tersebut, biar pelanggannya tidak terkejut.

“Jadi nanti jangan terkejut kalau harga barang naik, karena informasi dari agen, mulai awal tahun 2018, harga barang rata-rata naik, terutama beras cukup lumayan selisih kenaikan harga perkarungnya,” ungkapnya. (eko/ang)

Impor Jadi Alternatif 


Kementerian Perdagangan akan mengimpor beras khusus demi menjaga stok dan harga beras yang saat ini melonjak di pasaran. Rencananya, beras khusus yang diimpor memiliki volume 500 ribu ton dan akan sampai di Indonesia akhir Januari 2018 ini.

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan, langkah impor ini diambil sebagai solusi yang efektif dalam waktu singkat. Menurutnya, panen memang sudah mulai terjadi pada bulan Januari dan Februari, hanya saja, jumlahnya masih belum bisa ditentukan.

“Dari sisi pasokan, panen memang ada setiap hari cuma jumlahnya berbeda. Diperkirakan, Februari hingga Maret kami akan mengisi gap ini dan kami tak mau kekurangan pasokan, maka kami akan impor beras khusus, yakni beras yang tidak ditanam di dalam negeri,” ujar Enggartiasto di Kemendag, kemarin.

Impor ini akan dilaksanakan oleh PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI) yang akan mendatangkan beras dari Thailand dan Vietnam. Di samping itu, ia memastikan bahwa kualitas beras khusus ini mirip dengan beras yang diproduksi dalam negeri yakni varietas IR 64.

Kriteria beras khusus ini dimuat di dalam Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 1 Tahun 2018, di mana beras tersebut harus memiliki derajat sosoh lima persen dengan kadar air yang relatif lebih kering ketimbang beras medium dan premium.

“Dan kami menjamin, nanti beras khusus itu akan kami jual dengan harga beras medium,” papar dia.

Pasca impor ini dilakukan, ia berharap harga beras di bulan Februari sudah kembali sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET). Aturan mengenai HET bagi beras jenis premium dan medium sebelumnya dituangkan ke dalam Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 57 Tahun 2017 dan telah berlaku 1 September 2017 silam. (cnn/ang)