Galian Batu Bukit Matok Marak

Melawi

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 375

Galian Batu Bukit Matok Marak
GALIAN BATU – Tampak aktivitas tambang atau galian batu alam di sekitar Bukit Matok Desa Pemuar, Kecamatan Belimbing, Melawi. Aktivitas ini dinilai bisa membahayakan para pekerja maupun pengguna jalan, pasalnya galian ini bisa menyebabkan longsor. (SP/Eko

Camat Imbau Warga Setop Menambang


NANGA PINOH, SP
- Aktivitas galian batu alam di Bukit Matok, Desa Pemuar, Kecamatan Belimbing, Melawi, kembali marak beberapa tahun terakhir. Padahal selain berpotensi menyebabkan bencana longsor, lokasi penggalian batu ini berada tepat di ruas jalan nasional Nanga Pinoh-Sintang, sehingga membahayakan pekerja dan pengguna jalan.

Camat Belimbing, Wito Mulyono mengungkapkan, aktivitas galian batu di Bukit Matok sebenarnya bukan hal yang baru. Kondisi ini pernah ia sampaikan ke Panji Bupati Melawi, mengingat lokasi galian sudah dikuasai oleh masyarakat.

“Informasinya ada pihak yang mengaku punya SKT maupun sertifikat. Tapi kami belum ada datanya. Kami sudah pernah minta ke desa, tapi belum pernah dikasi datanya siapa-siapa yang punya lahan di sana,” terangnya.

Wito mengatakan, sebenarnya pihak kecamatan berkeinginan agar aktivitas galian batu tersebut bisa disetop karena sebelumnya juga sudah dipanggil para pemilik areal galian tersebut. Tetapi aktivitas ini tak juga berhenti dengan alasan bahwa mereka yang bekerja di areal Bukit Matok untuk mencari makan sehari-hari.

“Bahasanya untuk makan sehari-hari,” ucapnya. 

Maka dari itu untuk menyetop (galian batu) camat mengaku tak bisa bekerja sendirian. Tak akan mampu. Perlu juga keterlibatan instansi terkait utamanya dalam rangka mencari solusi agar masyarakat bisa berhenti untuk galian batu di Bukit Matok.

Wito mengakui, aktivitas ini memang rawan dan juga mengganggu lalu lintas. Camat sudah berkoordinasi dengan Polsek dan Koramil di Kecamatan Belimbing. Hanya ketiadaan solusi membuat penghentian aktivitas ini sedikit rumit.

“Masalahnya yang kerja di situ masyarakat setempat. Mau kita setop dengan cara keras susah, mau lembut juga susah. Jadikan penanganan untuk hal ini memang tak bisa dari camat saja, perlu keterlibatan pihak lain untuk memberikan imbauan penyadaran pada masyarakat yang kerja di sana,” ujarnya.

Dikatakan Wito, dirinya sebenarnya berkeinginan Bukit Matok bisa ditata dengan baik, misalnya dengan penanaman buah-buahan yang bisa menghasilkan dan diperuntukkan bagi masyarakat juga. Apalagi daerah Bukit Matok, walau tak masuk dalam kawasan hutan merupakan daerah resapan air.

“Makanya harapan kita, jangan sampai Bukit Matok ini rusak. Ditambah lagi disana ada sumber air yang perlu kita jaga. Dan sumber air ini dikonsumsi bukan hanya masyarakat Pemuar saja, tapi juga masyarakat Nanga Pinoh, mengambil air dari sana juga,” jelasnya.

Wito juga berharap, lembaga swadaya masyarakat bisa ikut memberikan imbauan pada masyarakat, bahwa aktivitas galian batu ini rawan kecelakaan. Bila terjadi musibah seperti tanah longsor, yang dirugikan tentu masyarakat yang kerja di sana.

“Pendataan sudah berkali-kali dilakukan, tapi selalu mengalami kesulitan. Yang tahu persis kan ini kepala desa, sementara Kades dimintai data belum memberikan data. Saya minta data tidak secara lisan, tapi tertulis agar Kades bisa memberikan data pemilik areal di Bukit Matok,” katanya.

Setelah didata, walau tak dilakukan melalui pertemuan umum, dirinya bisa memberikan pemahaman terhadap masyarakat pekerja galian batu ini secara perorangan. Mengingat pertemuan terkadang bukan menghasilkan sebuah keputusan, tapi justru malah memunculkan keributan.

“Saya sudah tawarkan, misalnya mau tanam karet atau buah-buahan, saya bisa carikan solusi untuk mencari bibit,” jelasnya.

Bisa lewat pertanian atau perkebunan. Walau tak harus unggul. Maksudnya ditanam-tanaman yang bermanfaat. 

“Jadi kita jadikan tempat untuk aneka tanaman buah-buahan. Ke depan nantinya bisa masyarakat banyak yang datang ke situ, bisa jadi untuk wisata buah-buahan,” tutupnya.

Tak Miliki Izin


Kepala Desa Pemuar, Kecamatan Belimbing, Sumardi mengaku aktivitas tambang batu di sekitar bukit Matok sebenarnya sudah berkali-kali diperingatkan. Bahkan sudah beberapa kali digelar pertemuan dan rapat yang intinya meminta para penambang tak lagi beraktivitas di sekitar bukit tersebut.

“Hanya dari pertemuan ini mereka selalu meminta solusi bila tak lagi bekerja di galian batu alam tersebut. Ini yang sulit terpenuhi selama ini,” katanya.

Sumardi mengungkapkan aktivitas galian batu tersebut sama sekali tak mengantongi izin, baik dari pihak desa maupun kecamatan. Aktivitas ini memang sulit dilarang mengingat penambang bekerja di bukit yang memang sudah dimiliki sejumlah warga di Pemuar.

“Tanah di sekitar galian merupakan tanah milik warga kita juga. Kita mau larang juga susah karena tanah di bukit ini tanah milik mereka. Soal ada sertifikat atau tidak, kita tak terlalu tahulah,” katanya.

Saat ini, aktivitas galian ini justru semakin ramai. Padahal dari dulu, sebenarnya larangan menambang batu sudah disampaikan bahkan oleh bupati terdahulu. Mereka juga sudah berkali kali dipanggil untuk menghentikan galian karena dampak yang ditimbulkan berbahaya.

“Selama belum ada solusi dari Pemda sulit untuk meminta mereka berhenti. Imbauan ini sudah sering disampaikan kita bersama Kapolsek Belimbing. Dulu kita minta berhenti, malah mereka juga yang minta Kades siapkan beras,” katanya. (eko/ang)