Jalan Pinoh-Sintang Tak Kunjung Diperbaiki, Akibatkan Gorong-gorong Pecah Sejak Tujuh Bulan Lalu

Melawi

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 146

Jalan Pinoh-Sintang Tak Kunjung Diperbaiki, Akibatkan Gorong-gorong Pecah Sejak Tujuh Bulan Lalu
RUSAK BERAT - Kondisi Jalan Pinoh-Sintang, khususnya di antara turunan Tower TVRI dan simpang jalan sirtu yang rusak berat karena gorong-gorong pecah. Perbaikan seadanya dari instansi terkait membuat kondisi jalan ini kembali rusak. (SP/Eko)
Tokoh Masyarakat Melawi, Ritaudin 
“Sudah berbulan-bulan kondisinya seperti ini, namun tak cepat ditangani oleh instansi terkait”

NANGA PINOH, SP - Ruas Jalan Sintang-Pinoh, khususnya di daerah antara Tower TVRI dan simpang Jalan Sirtu kondisinya semakin parah. Gorong-gorong pecah yang sudah terjadi hampir tujuh bulan ini, membuat kondisi jalan nyaris terputus.

Gorong-gorong tersebut membuat genangan air cukup tinggi saat hujan turun. Air yang begitu deras akhirnya menggerus aspal karena saluran untuk mengalir tertutup tanah. Sementara perbaikan oleh kontraktor atau instansi tak juga tuntas, karena upaya membangun gorong-gorong baru di titik lain justru terhenti hingga kini.

Tokoh Masyarakat Melawi, Ritaudin menyampaikan keluhannya terkait kondisi jalan tersebut, menurutnya seperti tidak mendapat perhatian penuh dari pemerintah.

“Sudah berbulan-bulan kondisinya seperti ini, namun tak cepat ditangani oleh instansi terkait,” katanya, Selasa (10/7).

Ritaudin mengatakan, ruas yang rusak sebenarnya tidak terlalu parah bila segera diperbaiki oleh pemerintah. Namun, respon lambat instansi terkait inilah yang menjadi sebab semakin parah.

“Kita minta UPJJ dinas terkait untuk berikan perhatian khusus. Jangan sampai berlarut-larut. Inikan ruas jalan dalam kota,” terangnya.

Ritaudin juga mengeluhkan adanya pungutan kepada pengguna jalan yang melintasi ruas tersebut. Ia menilai pungutan ini Pungli yang seharusnya tidak terjadi bila instansi terkait bisa segera memperbaiki titik yang mengalami kerusakan.

“Nampak benar kalau pemerintah itu tak mampu mengurus. Harus cepat diperhatikan,” harapnya.

Menurutnya para pengguna jalan ini sudah membayar pajak yang mestinya digunakan untuk membangun infrastruktur, termasuk memperbaiki jalan ataupun gorong-gorong yang nilainya tak seberapa.

“Tak mungkin kita lewat mesti bayar lagi. Intinya kita minta perbaikan dilakukan segera,” tegasnya.

Sementara itu, dari pantauan Suara Pemred, tidak ada masyarakat berjaga untuk meminta sumbangan atau memungut biaya dari pengguna jalan yang melintas. Hanya di sisi jalan yang rusak, terdapat tulisan meminta sumbangan seiklasnya untuk membeli 10 unit gorong-gorong seharga Rp4,5 juta.

Wawan, salah seorang pengguna jalan yang selalu melintasi ruas tersebut menilai, pungutan untuk pengguna jalan dimungkinkan untuk mengganti biaya pembuatan jembatan atau swadaya untuk membeli gorong-gorong.

“Memang kadang ada yang memungut, tapi tidak juga memaksa. Seiklasnya saja. Karena mereka membuat jembatan darurat sehingga bisa dilalui oleh pengguna roda dua,” katanya.

Wawan mengungkapkan, kerusakan ini memang sudah lama terjadi. Bahkan saat musim hujan, titik ini seperti terjadi banjir besar dan membuat lapisan aspal di atas gorong-gorong terbawa air.

“Perbaikan hanya dilakukan sekedarnya. Bahkan sepertinya asal timbun saja dengan pasir. Begitu banjir, menimbulkan lubang yang dalam. Sekarang saja sebagian pondasi jalan malah ada yang runtuh atau amblas karena kerap dilalui kendaraan bertonase berat,” terangnya.

Ruas jalan Sintang-Pinoh ssbagaimana diketahui sudah berstatus jalan nasional. Jalan darat ini merupakan akses keluar masuk menuju Kota Nanga Pinoh.

Pengawas Jalan Jangan Tidur

Anggota DPRD Melawi, Malin mengkritisi kinerja pihak pelaksana yang melakukan perbaikan pada ruas gorong-gorong pecah. Selain itu, juga pengawas pekerjaan termasuk pihak perencana yang seharusnya ikut bertanggung jawab dengan kerusakan jalan yang tak kunjung diperbaiki.

“Ini jalan bukan tanggung jawab Pemkab Melawi. Kita tak tahu siapa yang harus menangani, apakah provinsi, apakah pusat atau kementerian. Tapi semestinya penanganan jalan, kalau kerjanya dari awal memang benar tak akan mungkin jadi seperti ini,” katanya.

Menurutnya, banyak pekerjaan di daerah yang kerap kali tidak jelas. Rakyat Melawi pun tak tahu, siapa pemilik proyek perbaikan serta instansi yang mestinya menangani. Mengapa kontraktor ini bekerja sembarangan.

“Ngurus jalan gorong-gorong itu saja tak mampu yang nilainya tak sampai Rp200 juta. Maka pemangku kebijakan atau otoritas yang bertanggung jawab coba turun ke lapangan. Lihat betul-betul pekerjaan itu. Mumpung orang belum korupsi cepat dicegah dan ditegur,” sarannya.

Malin juga meminta, pihak pengawas dan perencana pekerjaan perbaikan jalan jangan tidur. Ia bahkan menduga, jangan-jangan ada kongkalikong antara pelaksana dan pengawas serta perencana.

“Kita tak tahu menahu, apakah bentuk kerjanya, mau pakai kontraktual, UPJJ atau mungkin swakelola, namun itu harus tetap diawasi. Ini jalan sudah hampir putus. Nah, kalau sudah seperti ini siapa yang bertanggung jawab. Apakah harus demo dulu baru didengar,” terangnya.

Legislator PDI Perjuangan ini pun meminta, instansi terkait bisa segera memperbaiki jalan. Jangan sampai menunggu kondisi jalan semakin parah. (eko/pul)