SD Regrouping Pindahan Pasar Markasan Melawi Mulai Dibangun

Melawi

Editor Indra W Dibaca : 165

SD Regrouping Pindahan Pasar Markasan Melawi Mulai Dibangun
Bupati Melawi, Panji melakukan peletakan batu pertama SD regrouping dari SdN 05 dan SDN 11 Nanga Pinoh. (SP/Eko)
NANGA PINOH, SP – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Melawi memulai tahapan pembangunan gedung regrouping dari SD 11 Nanga Pinoh dan SD 5 Nanga Pinoh di Lapangan MTQ lama Desa Kenual. Pembangunan gedung baru senilai Rp4,88 miliar ini dilakukan karena gedung lama akan dibongkar untuk pembangunan areal pasar.

Kepala Disdikbud Melawi, Joko Wahyono saat proses peletakan batu pertama pembangunan SD regrouping, Kamis (12/7), menerangkan tujuan utama pembangunan gedung sekolah ini memang untuk meningkatkan efektivitas belajar mengajar bagi siswa yang ada di dua sekolah tersebut.

“Sekolah Dasar regrouping ini dibangun di atas lahan seluas 1.110 meter persegi dengan bangunan dua lantai berkonstruksi beton. Terdiri dari 12 ruang kelas, satu perpustakaan, satu ruang guru, satu ruang kepala sekolah, satu ruang tata usaha serta 12 toilet,” katanya.

Joko memaparkan perusahaan pemenang lelang adalah PT Budi Bangun Konstruksi, sementara nilai proyek total menggunakan dana DAU APBD Melawi tahun anggaran 2018 dengan nilai Rp4,88 miliar.

“Masa pengerjaan selama 150 hari kerja. Siswa dari dua sekolah tersebut mulai tahun ajaran baru ini akan ditumpangkan pada SDN 06 Nanga Pinoh. Dengan catatan, dua sekolah menggunakan waktu di sore hari. Jadi tidak ada proses belajar mengajar yang terganggu,” katanya.

Sementara itu, Bupati Melawi, Panji saat peletakan batu pertama pembangunan gedung SD regrouping tersebut mengatakan wacana pemindahan dua SD ini memang sudah muncul sejak era bupati pertama Melawi Suman Kurik. Namun sempat ditolak oleh DPRD Melawi saat itu.

“Kemudian diusulkan kembali saat masa Bupati Firman Muntaco dimana saya menjadi wakil bupati saat itu. Namun, belum bisa juga terwujud hingga kemudian hari ini baru terrealisasi wacana ini,” katanya.

Panji mengatakan, pemindahan SD yamg berada tepat di samping pasar Markasan ini memang ada kaitannya dengan keberadaan pasar tradisional di sebelah gedung sekolah lama. Mengingat tahun ini ada empat unit bangunan pasar yang masing-masing bernilai diatas Rp1 miliar yang dibangun di lokasi SD sehingga gedung SD tersebut harus dibongkar.

“Pembangunan pasar itu terkait dengan proses menata agar pasar tradisional itu tidak terkesan kumuh. Kita juga memikirkan soal parkir disana, karena itulah kemudian dibangun di atas SD 11 dan SD 5 Nanga Pinoh sebagai bagian penataan pasar,” katanya.

Selain itu, menurut Panji, dua sekolah ini dari aspek kesehatan juga sudah tak memenuhi syarat kelayakan, karena keberadaan sampah dan pasar yang menimbulkan bau tak sedap bagi siswa setempat. Begitu pula dari sisi ketenangan yang tidak mungkin di dapat oleh para guru dan siswa yang belajar di dua sekolah ini.

“Karena itu, kita memaksakan diri untuk meregrouping sekolah ini karena kasihan juga dengan anak-anak dan guru di SD sana. Apalagi memang dari standar kelayakan belajar mengajar juga sudah tak cocok lagi,” katanya.

Panji pun berharap agar proses pembangunan gedung SD regrouping bisa segera selesai. Ia juga berharap lokasi SD yang baru serta keberadaan puskesmas yang hanya dipisahkan lapangan bola nantinya bisa ditata.

“Apalagi untuk persoalan lahan sudah tidak ada masalah, masyarakat juga sudah berikan dukungan. Semoga pembangunan bisa cepat selesai dan siswa dari dua SD ini bisa segera belajar di gedung yang baru,” harapnya. (eko)