Belasan Titik Api Tersebar di Melawi

Melawi

Editor Indra W Dibaca : 180

Belasan Titik Api Tersebar di Melawi
Petugas gabungan dari Satgas Reaksi Cepat Karhutla memadamkan api yang membakar perkebunan karet dan sawit warga di Desa Kelakik, belum lama ini. (Ist)
NANGA PINOH, SP – Sejumlah titik api terdeteksi di wilayah Melawi dalam beberapa pekan terakhir. Dari pantauan satelit NOAA yang diakses melalui situs sipongi Kementerian Lingkungan Hidup terdapat 17 titik api hingga Selasa (7/8) lalu.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Melawi, Syafarudin ditemui di ruang kerjanya, Rabu (8/8) mengakui banyaknya titik api yang muncul dari wilayah Melawi. Titik api ini sebagian besar merupakan lahan masyarakat yang akan memulai berladang.

“Sebaran titik api ini ada di berbagai kecamatan. Seperti Belimbing Hulu, Belimbing, Sayan, Pinoh Utara, Pinoh Selatan sampai desa-desa di sekitar Nanga Pinoh,” katanya.

Sementara pada Rabu kemarin, sudah terdeteksi sembilan titik api yang berada di wilayah kecamatan Sayan. Satgas reaksi cepat penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pun sudah turun langsung untuk memadamkan api tersebut.

“Satgas sudah dibentuk sejak awal tahun lalu. Di dalamnya termasuk TNI dan Polri serta sejumlah instansi terkait,” katanya.

Lahan yang terbakar, menurut Syafaruddin pun bervariasi luasnya. Seperti pada Senin lalu, di Desa Kelakik, terbakar lahan warga kurang lebih hingga lima hektare. Pemadaman pun melibatkan petugas BPBD, petugas Damkar dari BS-PBK, TNI, polisi hingga masyarakat dengan menggunakan mesin damkar.

“Yang terbakar kebun karet dan sawit warga, termasuk lahan kosong. Bersama masyarakat, petugas damkar dan aparat saling bahu-membahu memadamkan api,” terangnya.

Untuk membantu proses pemadaman api, BPBD sudah menyerahkan dua mesin pompa karhutla kepada damkar BS-PBK. Selain mesin, juga diserahkan perlengkapan damkar mulai dari selang , flexi tank satu unit serta 20 set baju serta celana petugas damkar.

“Sementara ini diberikan untuk pemadam swasta. Nantinya juga diberikan pada petugas damkar Pemkab Melawi. Sehingga bila ada karhutla, seluruh petugas bisa turun bersama dengan menggunakan peralatan ini,” katanya.

Untuk pemadaman api di kebun atau lahan masyarakat, Syafarudin mengungkapkan helikopter BNPB juga sudah standby untuk melakukan water bombing dari udara. Beberapa kali pemadaman melalui udara dilakukan di wilayah Melawi.

“Seperti di Belimbing beberapa waktu lalu. Helikopter ini sudah standby di Sintang. Jadi begitu terdeteksi ada titik api, ia bisa langsung turun ke TKP,” katanya.

Diakui Syafarudin, menanggulangi karhutla masih terbilang sulit karena kebiasaan masyarakat membuka lahan dengan cara membakar. Walau sosialisasi sudah seringkali disampaikan ke masyarakat agar tak membakar lahan untuk berkebun.

“Selama belum ada solusi, maka setiap tahun akan terus dilakukan masyarakat. Kita sendiri sudah meminta masyarakat, bila membakar ya lapor dengan aparat desa setempat,” katanya.

Sementara itu, Danramil Sayan, Kapten Inf Hendi mengungkapkan ada sejumlah titik api ditemukan di wilayahnya. Diantaranya di Desa Nanga Pak, Desa Madya Raya, Desa Tumbak Raya dan berbagai desa lainnya.

Antisipasi pun sebenarnya sudah dilakukan sejak awal, dengan bekerja sama dengan instansi lain seperti kepolisian, Manggala Agni serta masyarakat peduli api.

“Sosialisasi pada masyarakat agar jangan membuka lahan dengan membakar sudah dilakukan dengan langsung terjun kemasyarakat dan kepala desa. Bila terjadi kebakaran, pun kita langsung terjun ke lapangan untuk mengecek dan memadamkan api yang ada,” katanya.

Diakui Hendi, banyak kesulitan yang dihadapi tim di lapangan. Diantaranya jarak yang jauh dengan transportasi atau akses menuju titik api yang sulit. Belum lagi, sinyal HP dan internet yang juga terkadang tak ada sama sekali.

“Hanya memang tetap diupayakan agar tim bisa melakukan pemadaman api dengan peralatan yang ada,” katanya.

Merubah kebiasaan membakar lahan ini, diakui Hendi memang sulit. Apalagi ini terkait dengan kebutuhan hidup sehari-hari.

“Ya mungkin salah satu solusi buat kelompok tani dan didaftarkan ke dinas pertanian. Supaya bisa dapat bantuan, baik program cetak sawah, atau program pertanian lainnya,” pungkasnya. (eko)