Karhutla Renggut Nyawa Vito

Melawi

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 302

Karhutla Renggut Nyawa Vito
Grafis ( Koko/Suara Pemred )
Presiden RI, Joko Widodo
“Kalau di wilayah saudara ada kebakaran dan tak tertangani, aturan main sama. Masih ingat? Dicopot. Tegas ini saya ulang lagi,”

Kapolres Melawi, AKBP Ahmad Fadlin
"Kasus ini semestinya bisa menjadi pelajaran penting bagi masyarakat terkait bahaya Karhutla."

MELAWI, SP – Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) menyebabkan udara di sebagian besar wilayah Kalimantan Barat, dipenuhi kabut asap. Tak hanya itu, pembakaran lahan di Desa Nanga Tikan, Kecamatan Belimbing Hulu, Kabupaten Melawi, Minggu (12/8), merenggut nyawa Vito (7). 

Dari informasi yang didapat Suara Pemred, bocah malang itu tengah berbaring di pondok ladang, menemani abangnya, Rio (12) dan orang tuanya, Adong (65), saat api melahap tempat istirahat mereka, sekitar pukul 10.00 WIB. Saat berada dalam pondok, tiba-tiba angin berbalik dan api menyambar pondok dengan cepat. Dugaan sementara, keluarga itu tengah membakar ladang milik mereka. 

Ketiganya jadi korban. Rio dan Adong kritis dan langsung dirujuk ke Rumah Sakit Citra Husada (RSCH), Nanga Pinoh. Vito meninggal karena luka bakar yang cukup parah.

Kades Nanga Tikan, Kelep membenarkan peristiwa pembakaran lahan yang memakan korban jiwa di daerahnya.

"Mereka ini masih satu keluarga. Korban yang meninggal dunia sudah dimakamkan. Sedangkan anaknya yang luka bakar sekarang masih dalam kondisi kritis dan dirawat di rumah sakit. Bapaknya juga masih dirawat," katanya, Senin (13/8).

Dia mengatakan bulan ini memang musim pembakaran lahan bagi warga yang hendak berladang, termasuk Adong. Saat membakar lahan, tidak ada orang lain, selain kedua anaknya.

"Saksinya hanya mereka. Sementara kami sampai saat ini belum mendapat keterangan jelas. Karena korban masih belum pulih benar, sehingga belum bisa dimintai keterangan," katanya singkat.

Sementara itu, Kedat, salah seorang keluarga korban yang ikut menunggu di RSCH mengungkapkan, kejadian ini diketahuinya setelah adik ipar yang berada di kampung memberitahu.

“Kebakarannya pas hari Minggu yang kami diketahui. Sementara jamnya kami tidak tahu. Soal kejadiannya seperti apa, kami juga tidak tahu karena tidak berada di sana,” katanya.

Korban Adong, bersama sang anaknya, Rio, kini masih dalam perawatan intensif pihak rumah sakit. Kondisi sementara Rio terbilang parah. Luka bakar tampak di sekujur tubuhnya.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Melawi, Syafaruddin mengungkapkan, laporan terkait kejadian ini disampaikan langsung oleh kepala desa setempat. 

Api berasal dari lahan di sebelah pondok yang kemudian membesar. Adong pun disebutkan sudah berupaya menyelamatkan sang anak, namun musibah tak kalah cepat.
 
“Staf BPBD juga masih melakukan pengecekan ke TKP,” katanya.

Syafar mengatakan, BPBD sudah berkali-kali mengingatkan masyarakat terkait larangan membakar lahan. Apalagi saat ini musim kemarau, dan api bisa merambat cepat. Ditambah cuaca panas dan angin bertiup kencang.

“Dari pantauan hotspot sampai 12 Agustus diketahui ada 10 titik api di Melawi. Sebarannya mulai dari Kecamatan Sayan, Pinoh Selatan, Tanah Pinoh Barat, Ella Hilir, serta Belimbing,” katanya.

Terpisah, Kapolres Melawi, AKBP Ahmad Fadlin mengungkapkan pihaknya sudah memerintahkan jajaran baik di tingkat Polres Melawi maupun Polsek Belimbing untuk turun ke lapangan. Mereka melakukan pengecekan dan mengumpulkan bukti serta informasi.

“Tadi malam anggota sudah turun langsung mengecek ke TKP. Hanya sampai sekarang kita masih menunggu laporan lengkap,” katanya.

Pihaknya belum bisa menjabarkan kronologis lengkap Karhutla yang menyambar pondok Adong. Hal ini dikarenakan, para korban belum bisa diminta keterangan karena masih dalam penanganan rumah sakit.

“Di lapangan, sementara ini baru dikumpulkan sumber api yang membakar pondok. Lahan yang terbakar itu juga milik korban. Untuk kejadian sebenarnya, belum bisa kita dapatkan, karena saat kejadian, hanya ada tiga orang korban ini yang ada di TKP,” jelasnya.

Fadlin melanjutkan, kasus ini semestinya bisa menjadi pelajaran penting bagi masyarakat terkait bahaya Karhutla. Bukan cuma sekadar menyebabkan dampak asap sertanya rusaknya ekosistem dan lingkungan, tapi juga berbahaya bagi manusia.

“Sosialisasi dampak negatif Karhutla sudah berkali-kali kita sampaikan, baik oleh Polres, Polsek hingga jajaran Bhabinkamtibmas yang turun langsung ke desa-desa. Karena kita ingin mengantisipasi hal-hal seperti ini terjadi,” tegasnya.

Anggota Siap

Terkait masih terjadinya kebakaran hutan dan lahan di beberapa wilayah Kalbar, Kabid Humas Polda Kalbar, Kombes Pol Nanang Purnomo mengatakan, pihaknya telah menyiapkan anggota untuk melakukan pemadaman.

“Semua masing-masing sudah tanggung jawab di wilayah yang ada Karhutla,” katanya.

Dia mengatakan memang ada atensi khusus terhadap kebakaran hutan dan lahan di Kalbar. Sebab kebakaran bisa menimbulkan berbagai dampak yang merugikan masyarakat. Mulai dari kesehatan karena asap, berdampak terhadap penerbangan yang juga berpengaruh terhadap perekonomian, hingga berdampak terhadap keberlangsungan ekosistem.

Salah satu atensi dari Kapolda Kalbar yaitu dikeluarkannya maklumat Larangan dan Sanksi Pembakaran Hutan dan Lahan (Karhutla), yang dikeluarkan pada tanggal 21 Februari 2018. Selain itu dibentuk juga Satgas Karhutla yang bekerja sama dengan stakeholder terkait, mulai dari BPBD, Manggala Agni dan masyarakat.

“Satgas kita sudah kita bentuk, termasuk Satgas Doa,” tambahnya.

Jika diketahui ada pelaku-pelaku pembakaran lahan, maka akan ditindak sesuai dengan hukum yang ada.

Copot Pejabat

Sebelumnya, ketika pengarahan kepada seluruh Kapolda, Kapolres, Pangdam, Dandim, serta Danrem dari 12 provinsi rawan kebakaran Februari lalu, Presiden Joko Widodo menyebut akan mencopot mereka yang di wilayahnya terjadi Karhutla. Saat itu, Presiden meminta seluruh jajaran aparat di daerah, aktif bekerja serta menggerakkan masyarakat dan perusahaan, menekan kebakaran hutan dan lahan tahun ini.

“Kalau di wilayah saudara ada kebakaran dan tak tertangani, aturan main sama. Masih ingat? Dicopot. Tegas ini saya ulang lagi,” ujar Jokowi di Istana Negara, Selasa (6/2). 

“Paling kalau ada kebakaran sebelah mana saya telepon Panglima ganti Pangdam-nya. Telepon Kapolri minta Kapolda-nya ganti. Kalau ganti gubernur enggak bisa,” sambungnya.

Menurutnya, cara ini akan efektif sebab semua jadi mau bergerak serta bekerja sama dalam menangani kebakaran hutan dan lahan. Hal itu terlihat dari penurunan signifikan hotspot dalam tiga tahun terakhir. Pada 2015 terdata 21.929 hotspot, kemudian turun menjadi 3.915 pada 2016, dan terus menurun hingga 2.567 pada 2017.

Jokowi meminta kepada seluruh aparat serta kepala daerah yang hadir menyampaikan data ini kepada masyarakat di daerah masing-masing. 

“Bukan pamer tapi pengingat ini bisa dicegah kalau gerak bersama, bekerja tidak rutinitas, menerapkan kecerdasan lapangan. Banyak yang bisa dicapai,” tuturnya.

Oleh sebab itu, dia menegaskan penanganan kebakaran hutan dan lahan merupakan proses berkesinambungan dan tidak berhenti pada satu waktu. (eko/rah/cnn/bls)

Hotspot Kalbar Capai 450 Titik

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Bandara Supadio Kubu Raya memantau, jumlah titik api atau hotspot di wilayah Kalbar mengalami peningkatan yang cukup signifikan dibanding dua hari lalu.

"Berdasarkan pantauan dari hari Minggu (12/8) kemarin pukul 07.00 WIB sampai Senin pukul 07.00 WIB, jumlah titik hotspot di wilayah Kalbar mencapai 450 titik," kata Prakirawan BMKG Bandara Supadio Kubu Raya, Beby, Senin (13/8).

Sebaran titik hotspot paling banyak terpantau di wilayah Kapuas Hulu, mencapai 111 titik. Terbanyak kedua berada di Kabupaten Sanggau dengan 60 titik. Sementara Ketapang dan Sintang sama-sama memiliki 56 titik hotspot. Kemudian Kubu Raya terdapat 49 titik, dan Kota Pontianak hanya satu titik saja.

"Dari jumlah ini, jika dibandingkan dengan jumlah titik api di hari Sabtu, itu memang terjadi peningkatan yang cukup signifikan. Kalau Sabtu kemarin itu ada sekitar 300 titik yang tersebar di seluruh Kalbar," imbuhnya.

Beby menambahkan, untuk tiga hari ke depan, BMKG belum melihat adanya tanda-tanda akan terjadi hujan. Cuaca panas masih akan terjadi di seluruh wilayah Kalbar. Karena itu, penambahan titik hotspot berpotensi terjadi.

Kendati titik hotspot mulai bermunculan, menurut Beby, jarak pandang akibat kabut asap masih dalam kategori normal. Aktivitas penerbangan di wilayah Bandara Supadio pun belum terganggu.

"Jarak pandang sekitar Bandara Supadio terakhir tadi (Senin siang) sekitar pukul 14.00 WIB, masih menembus 10 kilometer. Jadi masih normal," pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Manggala Agni Daops Pontianak, Sahat Irawan Manik mengatakan, pihaknya terus bergerak melakukan upaya pengendalian kebakaran lahan di wilayah Kubu Raya dan Kota Pontianak. 

“Sebaran titik api di dua hari terakhir ini memang menunjukan peningkatan cukup signifikan. Karena itu, satgas pengendalian Karhutla berupaya keras melakukan upaya pencegahan kebakaran lahan supaya tidak semakin meluas,” ujarnya.

Patroli rutin yang dilaksanakan Manggala Agni bersama BPBD, pihak kepolisian dan TNI menyisir wilayah yang rawan terbakar, saat ini semakin ditingkatkan. 

"Titik hotspot yang terpantau semakin banyak, adalah indikator kebakaran hutan dan lahan sangat berpotensi meluas. Oleh karena itu, sebagai antisipasi, maka kami langsung melakukan pemantauan di lapangan," katanya.

Dia berharap seluruh pihak turut berpartisipasi aktif membantu petugas dalam melakukan upaya pencegahan kebakaran lahan di musim panas ini. (abd/bls)