Jembatan Putus, Warga Usul Rehab Pakai Dana Bencana

Melawi

Editor Angga Haksoro Dibaca : 212

Jembatan Putus, Warga Usul Rehab Pakai Dana Bencana
Nanga Pinoh, SP - Kepala Desa Sungai Bakah, Lutih mengaku sudah melaporkan putusnya jembatan sungai Mangat ke Pemerintah Kabupaten Melawi. Dia berharap ada solusi, mengingat jembatan sungai Mangat adalah satu-satunya akses penyeberangan menuju 3 desa di Kecamatan Pinoh Selatan.   

“Saya sudah sampaikan surat ke Bupati, juga ke dinas terkait seperti PU dan BPBD. Dewan juga kami surati terkait putusnya jembatan di desa kami,” kata Lutih, Rabu (3/10).  

Menurut Lutih, jembatan sungai Mangat baru selesai direhab tahun 2017. Jembatan sepanjang 34 meter ini pernah rusak berat dan putus pada 2014 lalu. “Lalu pada Senin malam, jembatan putus terbawa air. Warga melihat pagi-pagi jembatan sudah tidak ada. Tinggal tersisa kurang lebih empat meter.”  

Menurut Lutih, jembatan seharusnya dibangun menggunakan pondasi beton dan rangka baja. Warga sekarang malah mengusulkan agar dibangun jembatan gantung yang hanya bisa dilalui orang dan sepeda motor.  

“Karena kalau tunggu dibangun jembatan rangka baja tentunya lama. Padahal masyarakat berharap bisa cepat digunakan. Kami mau perbaiki pakai dana desa juga tak bisa karena menyangkut masalah aset. Jembatan ini aset kabupaten karena berada di ruas jalan kabupaten,” kata Lutih.  

Sekarang, warga yang ingin menyeberang sungai Mangat terpaksa menggunakan rakit penyeberangan dengan membayar Rp 5 ribu sekali jalan. Bolak balik warga harus mengeluarkan Rp 10 ribu. “Dulu juga waktu jembatan rusak kami pakai rakit untuk menyeberang. Tapi kalau harus bayar tiap hari, lumayan juga."   

Dihubungi terpisah, anggota DPRD Kabupaten Melawi, Kimroni mengatakan pemerintah harus bertindak cepat. Anggaran tanggap darurat dapat digunakan untuk segara memperbaiki jembatan.  

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Melawi, Makarius Horong mengaku sudah menerima laporan jembatan sungai Mangat yang putus. Makarius Horong akan meminta Bidang Bina Marga untuk melakukan pengecekan. “Sekaligus menghitung kebutuhan biaya untuk membangun jembatan di sana,” katanya.  

Horong juga menerima aspirasi warga untuk  mengganti jembatan menggunakan pondasi beton atau jembatan gantung. “Makanya nanti dihitung. Termasuk alternatif terakhir dengan jembatan gantung, berapa dananya. Hanya kalau jembatan gantung ini terbatas fungsinya. Hanya untuk roda dua dan orang lewat. Kalau menurut kami, memang mesti dibangun dengan rangka baja.”  

Terkait sikap pemerintah untuk memperbaiki jembatan, Horong mengaku menunggu perintah bupati. Apakah nanti langsung dibangun ulang menggunakan dana tanggap darurat atau menunggu anggaran tahun depan. (Eko)