Minggu, 17 November 2019


Firman Muntaco ‘Turun Gunung’

Editor:

Kiwi

    |     Pembaca: 1680
Firman Muntaco ‘Turun Gunung’

MELAWI, SP – Figur lama masih meramaikan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Melawi 2020. Bupati Melawi periode 2010-2015, Firman Muntaco digadang kembali bertarung melawan petahana, Panji. Sementara Wakil Bupati Melawi, Dadi Sunarya juga gencar membangun komunikasi politik. Dia disebut bakal maju sebagai calon bupati Melawi.

Selain tiga nama tersebut, deretan legislator serta mantan anggota DPRD Melawi juga muncul. Di antaranya Ketua DPC PDI Perjuangan, Kluisen yang kini menjabat anggota DPRD Melawi; mantan anggota DPRD, Malin yang cukup punya nama; mantan legislator Golkar, Mulyadi yang sudah mendaftarkan diri ke sejumlah partai. Ada pula Amri Kalam, yang dikenal memiliki garis pendukung fanatik mengingat pengalamannya yang pernah duduk sebagai anggota DPRD Melawi hingga DPRD Provinsi Kalbar.

Sementara untuk tokoh muda, sejumlah nama yang digadang memiliki kans. Misalnya Bartolomeus Brama. Anak mendiang Bupati Pertama Melawi, Suman Kurik. Dia disebut memiliki basis pendukung di sejumlah daerah di Melawi. Nama lain yang kerap muncul adalah Rianto. Pengusaha muda yang sempat maju sebagai caleg DPRD Kalbar dari Partai Gerindra. Perolehan suaranya cukup signifikan, walau gagal duduk. Namun itu bikin dirinya ikut diperhitungkan.

Firman Muntaco menyebut dirinya tidak memiliki target memimpin kembali Melawi, jika pemerintahan daerah setempat berjalan baik. Namun sekarang, dikatakannya sebagian masyarakat mendukung dirinya kembali memimpin.

"Boleh bawa saya pulang, tapi dengan catatan masyarakat yang menginginkan," ucapnya kepada Suara Pemred, di Pontianak, Senin (14/10).

Dia mengatakan pencalonan dirinya melewati sejumlah kajian. Kekalahannya pada Pemilu sebelumnya, juga dievaluasi. Dia tak menjabarkan gagasan baru yang dibawa, namun memastikan akan membawa perubahan untuk Melawi yang semakin baik.

"Saya berkeinginan ke depannya ada lembaga ekonomi seperti Bulog yang bisa membeli komoditas dari masyarakat," kata Ketua Umum Persatuan Forum Komunikasi Pemuda Melayu (PFKPM) Kalbar ini.

Dalam Pilkada nanti, katanya yang terpenting adalah adu stragtegi. Di lapangan, menurutnya masyarakat terintimidasi kekuasaan dan uang. Akhirnya pilihan mereka berubah karena materi.

"Dulu semua tahu kok kondisi pada saat itu, yang tidak ada pemerintah hasil Pilkada, sehingga semua diatur dengan sekehendak hati orang yang melaksanakan Pilkada," ucapnya.

Perihal partai, dia menyebut masih jadi kader Golkar. Hanya, belum tahu bagaimana sikap partai terhadap dirinya. Namun menurutnya, akan lebih baik jika dia yang memiliki prestasi mengangkat Golkar menjadi partai pemenang pemilu di Kabupaten Melawi selama dua periode lalu, jadi pertimbangan partai.

Sejauh ini lobi dengan partai lain selain Golkar juga telah dilakukan. Misalnya Partai Hanura, PDI Perjuangan, Perindo dan PBB. Sementara untuk wakil, semua diserahkan pada partai pengusung.

"Kita tidak berani menyatakan ini calon saya, karena belum ditetapkan oleh partai," ucapnya.

Ketua Pemuda Pancasila Kalbar ini menyebut semestinya, usai kepemimpinannya 2015 lalu, Melawi lebih berkembang. Namun kondisi saat ini malah sebaiknya. Banyak masyarakat yang mendatanginya, meminta untuk kembali memimpin di Kabupaten Melawi. Jika semua berjalan normal, dia tidak perlu kembali.

"Saya tidak mau menghakimi kondisi sekarang, masyarakatlah yang tahu," pungkasnya.

Sedang Petahana Panji, disebut jadi figur yang memiliki peluang paling besar. Partai NasDem yang diketuainya di Melawi, jadi pemenang Pileg dengan enam kursi. Mereka bisa mengusulkan calon sendiri tanpa harus koalisi.

Namun, Panji memastikan tetap berkomunikasi dengan sejumlah partai. Salah satu upayanya dengan mengikuti proses penjaringan di PDI Perjuangan, beberapa waktu lalu.

“Saya tetap mempercayakan diri saya untuk dinilai, dianalisa dan dikaji. Semoga rekomendasinya dari DPP PDI Perjuangan bisa diberikan ke kita,” katanya.

Panji mengungkapkan alasannya kembali maju sebagai calon bupati untuk periode kedua. Yang utama, adalah keinginannya menuntaskan segala proses pembangunan yang mungkin belum terselesaikan di periode awal.

“Kemudian meneruskan apa yang sudah kami rintis dan perbuat dan juga melanjutkan program yang belum terselesaikan di periode saat ini,” katanya.

Soal kemungkinan pisah jalan dengan sang wakil, Dadi Sunarya, Panji menghormati keinginan tersebut. Dia juga menilai bahwa hal ini bukan sesuatu yang tidak diperbolehkan. Bukan tidak mungkin, ada visi misi yang harus diperjuangkan dan lebih ditonjolkan oleh Wakil Bupati secara pribadi.

“Yang penting, kita sudah menunjukkan sikap bahwa kita mengajak dan kita juga menawarkan (untuk maju bersama). Kalau ini dianggap tidak pas atau tidak dilanjutkan, ya tidak masalah. Yang penting etika berpolitik, keteladanan berpolitik, saya sudah tunjukkan. Bahkan saya mengajak lebih dahulu. Kalau beliau ingin maju sendiri, ya itu sebuah realita politik yang harus kita akui dan hormati,” katanya.

Sementara untuk pasangannya nanti, dia membuka diri bagi berbagai kalangan. Orang birokrasi atau partai politik tak masalah.

“Sampai saat ini, saya belum menentukan siapa pendamping. Masih terbuka bagi siapa saja yang punya niat tulus ingin bersama memajukan Melawi lebih baik lagi,” katanya.

Sementara, Dadi Sunarya menjadi figur yang paling getol melakukan langkah politik. Usai pulang menjalankan ibadah haji, Dadi mendaftarkan diri ke sejumlah partai. Di antaranya PAN serta PDI Perjuangan. Terakhir, pekan lalu, dia menyerahkan formulir pendaftaran ke Sekretariat DPC PPP Melawi.

Dalam sejumlah kesempatan, dia menegaskan serius maju dalam Pilkada Melawi. Maka tak heran jika komunikasi dan lobi politik terus dilakukan, mengingat PAN hanya memiliki empat kursi di DPRD Melawi. Sedang syarat mengusung penuh paslon minimal enam kursi DPRD.

Namun Dadi sendiri belum mau bicara banyak terkait dengan langkah politik yang diambil. Termasuk partai mana saja yang nantinya akan mengusungnya. Hanya dia berkomitmen menyelesaikan tugasnya sebagai Wakil Bupati Melawi, bersama Panji hingga 2021 mendatang.

“Soal koalisi, akan kami bahas di internal (partai). Siapa pun yang mendampingi, kita siap,” katanya.

PDI Perjuangan jadi satu parpol yang sudah menutup penjaringan untuk Pilkada. Panji, Dadi Sunarya hingga Firman Muntaco bahkan sudah mendaftar. Ketua DPC PDI Perjuangan, Kluisen pun tak mau ketinggalan.

“Kita maju sebagai calon Bupati Melawi untuk menang, bukan wacana, hanya tentunya harus berkoalisi dengan partai karena PDI hanya meraih empat kursi,” ujarnya.

Soal siapa yang diputuskan menjadi calon kepala daerah dan wakil kepala daerah yang diusung partai dan koalisi, dia berucap harus melalui kesepakatan. Selain itu, ada survei elektabilitas, yang lebih tinggi bisa diusung menjadi calon bupati maupun wakil bupati dan melalui rekomendasi DPP.

“Kami sudah menjajaki komunikasi dengan partai politik yang lain, intinya bagaimana membangun Melawi yang lebih baik ke depan,” sebutnya.

Kader Partai

Ketua DPC Gerindra Melawi, Iif Usfayadi, mengungkapkan partainya baru akan membuka pendaftaran 15 Oktober ini. Selain membuka seluas-luasnya pada figur yang siap maju, Gerindra yang memiliki empat kursi di DPRD Melawi juga mendorong kadernya bertanding.

“Dari DPP memang berharap agar memprioritaskan kader untuk diusung. Tapi tentunya kita juga harus memperhatikan sejumlah hal, termasuk soal elektabilitas dan juga kemampuan finansial. Karenanya calon yang nantinya mendaftar akan disurvei untuk melihat elektabilitas serta tingkat popularitasnya,” katanya.

Iif tak menampik, sejumlah kader mendorongnya ikut bertarung. Namun, dia menyebut, ada beberapa kader Gerindra yang memiliki kemampuan sebagai pendulang suara.

“Saya realistis, mungkin untuk finansial, masih ada kader kita yang lebih punya peluang. Seperti Rianto (caleg DPRD Provinsi Kalbar) yang di Pileg lalu mampu meraih 13 ribu suara di Melawi. Saya nilai pemuda ini lebih punya peluang,” katanya.

Sementara itu, Partai Golkar Melawi sepertinya lebih memilih berhati-hati. Ketua DPC Golkar Melawi, Abang Tajudin mengatakan tidak mau tergesa-gesa menyikapi arah politik Pilkada Melawi 2020. Sebab, pihaknya masih memantau peta peluang dari berbagai kemungkinan.

“Golkar masih melihat perkembangan untuk peluang opsi yang mana soal arah politik dengan koalisi. Kami menyadari, Golkar tak bisa mengusung pasangan calon sendiri, karena memiliki empat kursi di DPRD Melawi,” katanya.

Namun, soal koalisi pihaknya membuka diri bergabung dengan partai mana pun. Asal punya satu visi dan misi membangun Melawi ke arah lebih maju berkembang.

“Bisa merapat ke partai manapun, tentunya melalui rekomendasi dari DPP Partai Golkar nantinya,” papar mantan Ketua DPRD Melawi dua periode itu.

Tajudin menyebut akan memprioritaskan kader untuk maju. Saat ini, beberapa nama seperti Abang Tajudin, Abang Ahmadin hingga Mulyadi masuk bursa Pilkada. Namun bila kader tidak memenuhi batas elektabilitas, kemungkinan akan bergeser di kesepakatan koalisi.

“Jika kader partai lain atau non kader lebih besar peluangnya, maka kami siap mendukung melalui koalisi. Namun, politik itu dinamis, segala kemungkinan bisa saja terjadi,” jelasnya.

Ketua DPC Hanura Melawi, Antonius Anen mengungkapkan penentuan keputusan dukungan Hanura tergantung hasil rekomendasi DPP.

“Sudah ada yang melakukan komunikasi dengan kita. Tapi saya juga sampaikan untuk berkomunikasi langsung dengan DPD serta DPP. Karena kan bukan kita yang membuat rekomendasi dukungan. Tapi dari pusat. Tapi komunikasi dengan siapa pun itu sah-sah saja menurut saya,” katanya.

Dalam pendaftaran Firman Muntaco ke PDI Perjuangan, beberapa waktu lalu, Anen turut hadir. Menurutnya, kedatangannya merupakan dukungan pribadi semata. Bukan sikap partai mengingat Hanura belum membuka pendaftaran.

Empat Pasang

Tokoh Muda Melawi, Hutapiadi menilai Pilkada Melawi paling maksimal hanya akan diikuti empat pasangan calon. Bahkan, menurutnya sejauh ini baru tiga figur serius bergerak.

"Figur kuat seperti petahana yakni Panji, Dadi serta Firman Muntaco yang dinilai memiliki potensi kuat maju di Pilkada. Walau memang semuanya belum memastikan siapa calon pendampingnya atau balon wakil bupatinya," ujar mantan Komisioner KPU Melawi ini.

Huta menilai tiga figur ini masih mencari pasangan yang akan memperkuat elektabilitas mereka. Figur tersebut masih akan bongkar pasang beberapa kandidat calon wakil masing-masing dengan melihat basis pendukung dan daerahnya.

"Makanya nama Kluisen, Malin, sampai Mulyadi menjadi calon pendamping digadangkan akan dipasang dengan figur-figur bakal calon bupati tersebut. Termasuk juga nama Amri Kalam yang dinilai punya kapasitas serta dukungan kuat di tingkat akar rumput," katanya.

Hutapiadi pun mengungkapkan seperti beberapa Pilkada sebelumnya, pasangan calon tetap memperhatikan keterwakilan suku, agama, hingga dapil atau basis dukungan.

"Karena itu paslon ini biasanya akan silang. Untuk melengkapi dukungan massa," jelasnya.

Keuntungan Petahana

Akademisi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Tanjungpura Pontianak, Viza Julian menyebut secara umum, Firman Muntaco dipercaya memiliki basis politik yang cukup kuat. Pasalnya, sepak terjangnya di dunia politik kini sudah sampai kancah nasional. Namun fakta bahwa petahana juga akan ikut dalam kontestasi politik Melawi, tentu akan memberikan warna politik yang berbeda.

Hal ini mengingat, baik secara langsung atau tidak, Panji memiliki kekuatan sendiri berupa kekuasaan untuk menggerakkan berbagai sumber daya dimilikinya.

"Jadi mungkin secara tidak langsung, misalnya menggunakan uang negara untuk memenangkan dirinya, tapi banyak program-program yang bisa diarahkan untuk bisa mendongkrak suara yang menuju pada dirinya," ujarnya.

Dengan begitu, secara umum persaingan antara Firman Muntaco dan Panji akan lebih kuat mewarnai konstetasi politik daerah tersebut. Namun, jika dilihat secara tradisional, basis Firman Muntaco dinilainya lebih kuat dari Panji. Tetapi hal ini tidak akan mudah bagi Firman, sebab harus melawan petahana.

Viza mencontohkan, petahana bisa memberikan program-program berupa kebijakan sosial yang secara langsung ataupun tidak, akan menghasilkan keputusan yang identik mengarah pada dukungan kepada dirinya.

Sementara, soal raihan kursi NasDem, menurutnya hanya berpengaruh pada proses pendaftaran calon kepala daerah. Karena hal ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh pencalonan diri. Setelah pendaftaran itu berlangsung, pemungutan suara akan lebih bermain, mengingat politik Indonesia menggunakan pemilihan langsung.

"Jadi dalam konteks politik saat ini, orang cenderung lebih memilih figur dibandingkan partai. Dan di beberapa survei juga tingkat kepercayaan masyarakat pada terhadap partai sangat rendah belakangan ini kan," katanya. 

Kata dia, apa pun partai yang mendukung petahana, sebenarnya setelah diputuskan siapa yang bertarung, hal itu tidak banyak berpengaruh.

"Kalau dulu calon yang harus mengemis dalam tanda kutip kepada para partai untuk mendapatkan bantuan mesin politiknya agar memenangkan sebuah kontestasi politik, sekarang kebalikannya. Sekarang partailah melamar para calon untuk bisa dicalonkan, karena pada akhirnya individunyalah yang akan lebih menonjol dibandingkan partainya," tutupnya. (din/eko/sms/bls)