Warga Mempawah, Kalbar Mengaku Ditipu Gafatar

Mempawah

Editor sutan Dibaca : 1050

Warga Mempawah, Kalbar  Mengaku Ditipu Gafatar
ilustrasi
MEMPAWAH, SP-
Warga Kabupaten Mempawah mengaku ditipu para anggota Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) karena aktivitas mereka lambat terdeteksi.     “Anggota Gafatar datang dari Jawa Timur  (Jatim) ke Kabupaten Mempawah secara besar-besaran sejak Agustus 2015,” ujar Muhsin Elyas (56), warga Kecamatan Mempawah Timur, Sabtu (30/1). 

 Ketika datang, menurut Muhsin,  mereka mengaku korban lumpur  PT Lapindo dari Kabupaten Sidoarjo, Jaitm, untuk mencari kehidupan yang lebih layak di Kalimantan.   Karena mereka membeli lahan dari masyarakat, awalnya warga tidak curiga sama sekali.

Belakangan, masyarakat melihat ada sesuatu yang tidak beres. Semua anggota Gafatar tidak mau berbaur dengan masyarakat.   Menjelang malam, usai magrib, warga Gafatar selalu terdengar bernyanyi dan tiba-tiba menangis sejadi-jadinya.

Setelah itu,  suasana hening dan tiba-tiba ada suara ramai sekali.
  Itu terjadi baik di rumah kontrakan maupun di barak pemukiman mereka di Moton Panjang, Kecamatan Mempawah Timur. 

Muhsin menambahkan,  perilaku aneh warga Gafatar ini kemudian dilaporkan kepada Kepala Desa dan Camat Mempawah Timur. Kemudian diteruskan kepada Bupati Menpawah,  Ria Norsan.  

Laporan dilakukan warga, karena setiap kali ada masyarakat lokal yang ingin bersilaturahmi ke lokasi barak, selalu ditolak dengan alasan yang tidak jelas.  

Demikian pula, lanjut Muhsin, seorang anggota TNI AD yang kehujanan dalam perjalanan, ditolak ketika  berniat berteduh di barak warga Gafatar.   Belakangan, masyarakat terbuka matanya setelah mengetahui Ricca Tri Handayani, dokter asal lampung yang menghilang di Yogyakarta sejak 30 Desember 2015 dan ditemukan di Pangkalan Bun (Minggu, 10 Januari 2016), ternyata  sempat menginap di pemukiman Gafatar di Mempawah pada 7 -8 Januari lalu. 
“Kami merasa ditipu Gafatar. Itu sebabnya kemarahan masyarakat memuncak saat pertemuan di Kantor Bupati Mempawah (Senin, 18/1),  yang dan berujung pembakaran barak mereka di Moton Panjang (Selasa, 19/1),"  ujar Muhsin.

Bupati Ria Norsan sendiri mengaku maklum atas reaksi warganya itu.  "Memang dimaklumi,  mengingat ajaran yang dianut Gafatar sudah melenceng dan tidak sesuai dengan ajaran Islam. Selain itu,  mereka tidak bisa membaur dengan masyarakat sekitar," ungkapnya.
 

Ria Norsan menyadari aksi warganya banyak dikecam oleh masyarakat luas. Dia pun membela bahwa warganya  beraksi bukan tanpa alasan. "Saya mengingatkan bahwa tidak mungkin masyarakat Mempawah melakukan tindakan anarkis jika Gafatar tidak melakukan tindakan yang meresahkan," jelas Ria Noran.

Meski demikian,  Ria Norsan mengakui terjadinya kesalahan pendataan terhadap para pendatang sehingga menimbulkan permasalahan sosial. "Saat mereka datang, mereka mendaftar di malam hari dan memberi data yang tidak benar. Yang datang 200 orang,  tapi dicatat hanya 20 orang. Ini yang menimbulkan kekeliruan," urainya.

Usai permasalahan Gafatar, lanjutnya,  kondisi masyarakat Mempawah sudah normal.  "Saat ini Alhamdulillah sudah kondusif,  dan kami mulai menata kembali Mempawah ke depannya," pungkas Ria Norsan. (zon/aju/pat)