Yulisa, TKI asal Kabupaten Mempawah Hilang di Malaysia

Mempawah

Editor sutan Dibaca : 942

Yulisa, TKI asal Kabupaten Mempawah Hilang di Malaysia
PERLIHATKAN FOTO – Ibu Yulisa, Karsiti (45) memperlihatkan foto anaknya yang bekerja sebagai TKI di Malaysia yang selama 11 tahun tak pernah kembali ke rumahnya di Kampung Api, RT 06 RW 02, Kelurahan Sungai Pinyuh, Kecamatan Sungai Pinyuh, Kabupaten Mempa
MEMPAWAH, SP – Hati Karsiti (45) selalu sedih setiap kali mengingat anaknya, Yulisa alias Kak Long yang tak diketahui kabarnya setelah menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Malaysia.

Tak tanggung-tanggung, selama 11 tahun Yulisa hilang dan tak pernah kembali ke rumah.
Di rumahnya di Kampung Api Api, RT 06, RW 02, Kelurahan Sungai Pinyuh, Kecamatan Sungai Pinyuh, Kabupaten Mempawah, Suara Pemred menemui Karsiti.

Raut wajahnya mendadak sedih tatkala mengingat anaknya. "Sampai sekarang tak ada kabar maupun informasi tentang anak saya. Saya tahu sekarang dia ada dimana,” ucap Karsiti, Minggu (13/3).

Karsiti menceritakan bahwa awa mula Yulisa menjadi TKI pada 2006. Tawaran bekerja di Malaysia saat itu datang dari seseorang berinisial O. O merupakan warga yang tinggal di Gang Pancasila, Kelurahan Sungai Pinyuh.

“Yang saya tahu, anak saya ditawari bekerja di Malaysia untuk menggantikan temannya bernama Evi karena Evi sudah capek bekerja. Anak saya mau jadi TKI karena O yang mengurus segala surat-menyurat dan ditanggung pula oleh O,” ungkap Karsiti.

Saat itu, kata Karsiti, Yulisa masih berusia 15 tahun alias masih di bawah umur. Yulisa menuju ke Malaysia melalui jalur Entikong, Kabupaten Sanggau. "Saat saya tanya dimana Yulisa nanti akan bekerja, O tak memberitahukannya,” kata Karsiti.

Ditanya terkait kapan Karsiti mulai putus komunikasi dengan Yulisa, Karsiti menjawab bahwa enam bulan setelah Yulisa berangkat untuk bekerja, dirinya telah kehilangan kabar. Sejak saat itu, perasaan Karsiti selalu diliputi cemas.

"Saya bimbang kalau ingat anak saya jadi TKI di Malaysia. Apalagi kalau sudah lihat di televisi tentang TKI di Malaysia yang mendapat perlakuan kekerasan. Sebagai orang tua, saya sangat mengkhawatirkannya," ungkap Karsiti.

Karsiti berharap dapat mengetahui kabar Yulisa. Jika, Yulisa telah berkeluarga di Malaysia, misalnya, dirinya tak akan mempermasalahkannya. Yang penting, kata Karsiti, dirinya mengetahui kehidupan anaknya.

"Tiga tahun silam, bapaknya meninggal. Saya mau kasih tahu dia (Yulisa) tapi bagaimana caranya. Jadi sampai saat ini dia tak tahu kalau bapaknya sudah meninggal,” kata Karsiti.

Upaya untuk mengetahui keberadaan anaknya, Karsiti lakukan dengan meminta sanak kerabatnya yang hendak ke Malaysia untuk mencarikan informasi tentang anaknya. “Saya selalu berpesan kepada keluarga atau kerabat yang pergi ke Malaysia, jika ketemu anak saya agar disuruh pulang ke rumah,” kata Karsiti.

Kini, Karsiti melaporkannya anaknya yang hilang ke Polda Kalbar dan Dinsosnakertrans Kabupaten Mempawah. Besar harapannya pihak-pihak terkait mencari dan melacak keberadaan anaknya agar bisa kembali berkumpul bersama dirinya. "Saya melaporkan soal anak saya agar bisa pulang lagi," ucap Karsiti.

Koordinasi dengan BP3TKI

Menerima laporan itu, Plt Kepala Bidang Transmigrasi dan Penempatan TKI Dinsosnakertrans Kabupaten Mempawah, Djuari mengatakan akan mengambil langkah yakni berkoordinasi dengan BP3TKI Kalbar untuk mencari keberadaan Yulisa.

Djuari menjelaskan, berdasarkan fotocopy paspor yang tertinggal di rumahnya, Yulisa berangkat ke Malaysia dengan nomor paspor M.025657 tanggal 28 April 2006. Yulsia diberangkatkan oleh Pj TKI Sakinah Pyramida cabang Sanggau, Kalbar. "Jika dilihat dari fotofopy paspornya bahwa masa berlaku paspor berakhir tahun 2009," ungkap Djuari.

Djuari mengatakan bahwa berdasarkan aturan, keberangkatan Yulisa ke Malaysia tak dibenarkan. Karena, Yulisa saat itu masih di bawah umur. "TKI seharusnya tercatat di Dinas Sosnakertrans Kabupaten Mempawah agar terhindar dari hal-hal yang tak diinginkan," kata Djuari.

Jangan Mudah Terpancing

Sekretaris Konsultasi, Pengkajian dan Bantuan Hukum Kabupaten Mempawah, Mochlis Saka meminta kepada orangtua untuk tidak mudah tergiur atau termakan dengan janji-janji yang ditawarkan oleh orang lain terkait menjadi TKI di Malaysia.

“Orangtua harus selalu waspada. Jangan mudah terpancing tawaran menggiurkan bekerja di Malaysia,” kata Mochlis.

Mochlis berharap Dinsosnakertrans Kabupaten Mempawah dapat memberikan bantuan untuk menemukan keberadaan Yulisa.
“Tolong lacak keberadaan Yulisa agar orangtuanya tidak cemas lagi. Saya kira sangat tidak sulit asal pihak-pihak terkait mau bekerja maksimal,” kata Mochlis. (ben/bah)