Majelis Hakim PN Mempawah Ditantang Beri Vonis Hukuman Kebiri

Mempawah

Editor sutan Dibaca : 633

Majelis Hakim PN Mempawah Ditantang Beri Vonis Hukuman Kebiri
Hukuman kebiri kimia ini sudah diadopsi beberapa negara di dunia, seperti Korea Selatan, Rusia, dan Polandia. (republika.co.id)
MEMPAWAH, SP – Ketua Yayasan Lembaga Bantuan Hukum (YLBH) Perempuan dan Keluarga (Peka) Kalimantan Barat, Rosita Ningsih mendatangi rumah korban pencabulan, MA(8) di Desa Pak Bulu, Kecamatan Anjongan, Minggu (29/5). Kedatangan itu untuk memberikan pendampingan hukum.  

Diberitakan sebelumnya, MA menjadi korban dua kerabatnya sendiri pada akhir 2015 silam. Kini, kedua tersangka sudah diamankan polisi di Mapolres Mempawah untuk ditindaklanjuti proses hukumnya.
Rosita mengatakan bahwa pihaknya akan mendampingi korban hingga pelaku dijatuhi vonis oleh Pengadilan Negeri (PN) Mempawah.

Pihaknya pun meminta kepada PN Mempawah untuk memberikan hukuman kebiri kepada pelaku.
"Saya mau lihat apakah Pengadilan Negeri Mempawah berani menghukum pelaku dengan hukuman kebiri yang telah ditetapkan oleh Presiden RI,” tantang  Rosita.

Namun, Rosita menyakini bahwa PN Mempawah berani memberikan hukuman kebiri terhadap kedua pelaku pencabulan. "Kalau tak berani, kita lihat apa pertimbangan mereka tak memberikan hukum kebiri," kata Rosita.

Rencananya, pada Selasa mendatang dirinya akan meminta syarat-syarat menjadi kuasa hukum dalam penanganan kasus ini. "Seperti diantaranya Kartu Keluarga, surat keterangan tak mampu sebagai syarat pendampingan terhadap korban," kata Rosita.

Alami Trauma

Sementara, AN (33), ayah korban pencabulan mengharapkan ada pendampingan hukum  terhadap anaknya hingga selesai vonis. "Sebelumnya pihak KPAID Mempawah sudah memberikan pendampingan selama dua kali. Mereka membantu dalam pembuatan BAP di Polres Mempawah yang dihadiri psikolog,” kata AN.

AN sangat berharap ada orang atau lembaga yang mendampingi anaknya sampai-sampai pernah tiga kali mendatangi Kantor KPAID Mempawah untuk melakukan konsultasi perihal anaknya. Namun selalu tak ada orang. Bahkan dirinya sudah meninggalkan nomor kontak ke kantor tersebut.

"Dan sampai saat ini belum ada yang menghubunginya untuk mendampingi permasalahan anak saya," kata AN. AN pun bersyukur tatkala mendapat pendampingan hukum dari YLBH Peka Kalbar. Kepada suara pemred, AN mengungkapkan bahwa anaknya masih mengalami trauma.  “Saat tidur, anak saya sering berteriak minta tolong. Saya sedih sekali melihatnya,” ungkap AN.

AN berharap PN Mempawah dapat menjatuhkan hukuman kebiri terhadap kedua pelaku pencabulan. “Agar tak perlu ada lagi anak-anak yang menjadi korban pencabulan orang-orang yang bejat,” kata AN.

DI, satu diantara ketua RT di Desa Pak Bulu mengaku warganya mengalami kecemasan dan ketakutan. Mereka jadi lebih ekstra menjaga anak-anaknya ketika bermain di luar rumah. “Saya perhatikan ada kecemasan di wajah-wajah para orangtua di sini setelah mencuatnya kasus pencabulan itu,” kata DI.

DI pun berharap PN Mempawah dapat memberikan hukuman berat kepada kedua pelaku. Sebab, korban mengalami trauma akibat kejadian itu. “Saya harap para hakim dapat merasakan penderitaan yang dirasakan korban. Saya harap pelaku dihukum kebiri agar jera,” tegas DI. (ben/bah/sut)