Langganan SP 2

Bidan Klinik Mempawah Hilir Diduga Malapraktek

Mempawah

Editor sutan Dibaca : 1905

Bidan Klinik  Mempawah Hilir   Diduga Malapraktek
Kasibi (65) ayah Rina masih berduka lantaran kehilangan cucunya yang meninggal dalam proses persalinan di klinik. (SUARA PEMRED/ RUBEN)
MEMPAWAH,SP-Bidan Titi Dorce, pemilik klinik di kawasan Mempawah Hilir, Kabupaten Mempawah diduga melakukan malapraktek dalam menangani persalinan pasien, Rina(36).

Titin, yang juga menjabat Kepala Puskesmas Rawat Jalan, Kecamatan Sungai Kunyit ini dianggap ceroboh, dengan cara memaksa mengeluarkan janin dengan cara menggunting rahim pasien dan kemudian menyedot janin  menggunakan vakum. Lantaran tidak berhasil mengeluarkan bayi tersebut, pasien kemudian dilarikan ke RS Dr Rubini Mempawah.

Di rumah sakit ini, nyawa anak pasien ini meninggal dalam kandungan.  
Pasien Rina, sendiri adalah warga Jalan Tanjung Pura, Desa Sungai Duri Satu, Kecamatan Sungai Kunyit. Menurut Nursiah (54), orang tua Rina, awal cerita cucunya meninggal tadi, bermula pada saat anaknya, Rina memeriksa kandungan di Puskesmas Rawat Jalan Sungai Kunyit. Nah, pada saat di USG, kepala bayi tidak terlihat.

Dari hasil itu, petugas Puskesmas Sungai Kunyit menyarankan pasien dibawa ke RS Dr Rubini Mempawah. “Petugas kemudian meminta saya menemani anak saya dari Puskesmas ke rumah sakit,” tutur Nursiah, kepada Suara Pemred, Selasa (26/7).
 

Begitu Nursiah hendak berangkat ke rumah sakit, Kepala Puskesmas, Bidan Titin malah menawari  dirinya agar anaknya di bawa di klinik pribadinya, di Mempawah.


"Waktu itu saya katakan kepada bidan, besok saja, karena saat ini mau pergi membuat BPJS,” tutur Nursiah.

Alasan Nursiah ingin mengurus BPJS karena  tidak memiliki biaya  persalinan di rumah sakit. Dan pilihan mendaftar ke BPJS, biaya bisa gratis.
Namun dalam obrolan itu, bidan Titin malah mengajak Nursiah ke kliniknya  dengan iming-iming dan gak usah pakai BPJS. “Katanya kalau gunakan BPJS terburu terlambat," kata Nursiah, menirukan percakapan Titin.

Pada saat dialog antara keduanya, Titin juga sempat mempertanyakan biaya kelahiran anaknya sebelumnya Rp 900 ribu. "Jadi, bagusan di klinik saya saja, kata bu Titin. Karena saya mempunyai dua klinik. Satu di Mempawah dan di Sui Pinyuh. Dan nantinya saat penjempuatan dan bikin akta dan kelahiran hanya sekitar Rp.900 ribu," Nursiah kembali menirukan percakapan Titin.  

Baru pada Kamis (21/7) pukul 01.00 WIB, Titin bersama suaminya membawa Rina, anak Nursiah ke klinik di Mempawah. Saat hendak memulai persalinan, bayi belum juga keluar dari rahim pasien. Agar bayi bisa lahir dari rahim, Titin kemudian memberikan perangsang untuk melahirkan dan anaknya agar cepat keluar.

Cara itu ternyata tidak ampuh. Titin kemudian menempuh cara lain. Tanpa persetujuan pihak keluarga, Titin kemudian menggunting kemaluan pasien agar bayi  bisa keluar. Tak berhasil juga, Titin kemudian mengambil fakum untuk menyedot bayi dari rahim.

Cara itu lagi-lagi tidak berhasil. Pasien spontan kesakitan. Nursiah bahkan  sempat mendengar ada empat kali fakum digunakan untuk menyedot cucunya dalam kandungan hingga terdengar suara letupan seperti balon. “Suara itu yang membuat saya terus mengucap mengingat tuhan,” tuturnya.

"Tup, bunyinya saat di sedot, yang saya kira kepalanya yang keluar, namun bidan Titin tersebut tak bisa menanganinya dan langsung merujuk ke rumah sakit Dr Rubini mempawah, namun ditolak pihak rumah sakit.

“Mungkin melihat kemaluan anak saya yang sudah koyak, pihak rumah sakit Mempawah menyuruh untuk dirujuk ke RSUD dr Abdul Aziz,  jumat. Malam (22/07) sekitar pukul 01.00 WIB.
Di RS Abdul Aziz, pasien tiba pukul 03.00 WIB dan langsung ditangani petugas medis.

Tak lama, Nursah pun mendapat kabar bahwa cucu yang dinantikan kelahirannya telah meninggal.

“Kata dokter, cucunya sudah meninggal dan bagian kepala sudah mengalami kerusakan. Jadi pihak dokter meminta izin untuk mengeluarkan cucuknya dengan melukai kepala cucunya di dalam rahim,” tuturnya.

Pihak keluarga pun tidak keberatan degan langkah dokter tadi. Setelah mengeluarkan bayi dalam kandungan, dokter juga menjahit vagina anaknya yang koyak.

Proses ini berjalan sekitar dua jam. Pada Sabtu (23/7) sekitar pukul 09.55 WIB, proses penanganan meds pasien selesai dan selanjutnya, pasien Rina mendapatkan perawatan di rumah sakit tersebut.

Kepala Bidang, Pelayanan dan Kesehatan, Dinas Kesehatan Mempawah, Jamiril mengaku belum mendapat laporan resmi dari Puskesmas, tentang dugaan malapraktek dilakukan Kepala Puskesmas Sungai Kunyit.

"Kita belum mendapatkan laporan resmi. Jika sudah mendapatkan laporan, maka kami akan memanggil yang bersangkutan," tutur Jamiril.

Ia menyebutkan, untuk SOP Kebidanan dikatakannya hanya diperbolehkan untuk menolong persalinan yang normal. Sebaliknya, bidan tidak boleh menolong pasien yang dalam keadaan kondisi tak normal, seperti darah tinggi, sesak nafas, berpenyakitan bawaan ataupun lainnya.

"Jadi, jika pasien yang tak normal, maka itu harus dirujuk ke rumah sakit," katanya.

Meski demikian, Jamiril justru menyayangkan bila bidan menggunakan vakum untuk menyedot bayi dalam rahim. Menurutnya, cara itu tidak diperbolehkan. “Karena itu bukan standar SOP bidan. Kecuali  di dampingi oleh dokter spesialis mungkin itu boleh,” tuturnya.


Ia pun menyimpulkan, bila laporan itu benar, bidan bersangkutan telah melakukan malapraktek. "Jadi, jika di klinik yang membantu persalinan bayi hingga meninggal dengan menggunakan alat fakum, itu bisa dikatakan malapraktek dan itu bisa di kenakan sangsi kode etik kebidanan,"jelasnya.

Menurutnya, untuk Puskesmas hingga Polindes dulunya menurut kementrian Kemenkes pernah diberikan alat pakum untuk memberikan bantuan terhadap orang yang melahirkan. Namun untuk saat ini sudah di tarik.

"Jadi, untuk saat ini, yang boleh menggunakan vakum, yaitu dokter spesialis, maupun bidan yang di dampingi dokter,"jelasnya.

Lanjutnya, klinik persalinan kebidanan juga dikatakannya tak memperbolehkan memiliki dua klinik. Karena pembuatan izin praktek tersebut harus melalui rekomendasi pihak Ikatan Bidan Indonesia (IBI).

"Kami akan telaah dan mencari kebenarannya, dan sanksinya bisa berupa pencabutan izin, dan lainnya, karena kasus seperti ini dikatakannya pernah terjadi pada 2015," kata Jamiril.

Saat dikonfirmasi, Kepala Puskesmas Rawat Jalan,  Sungai Kunyit, Titin hanya menyebutkan sedang pelatihan di Pontianak hingga 3 Agustus. (ben/loh/sut)


Tiga Kali Melahirkan Meninggal

Kasibi (65) ayah kandung pasien, mengaku kecewa dengan meninggal cucunya tersebut. Ia juga sedih, kabar duka ini justru belum diketahui oleh suami Rina, di mana saat ini sedang bekerja di Malaysia.

"Suami anak saya sudah setahun lebih belum kembali, dan informasinya suaminya akan pulang, setelah mendengar anaknya yang meninggal,"jelasnya.

Ia juga menyebutkan kondisi terakhir cucunya, pada saat jenazah dibawa ke rumah, di mana terlihat kepala cucunya tadi terlihat panjang dan berlubang, sebelum  dikebumikan.
"Jadi, anaknya ini sudah tiga kali mengandung, namun semuanya meninggal,"jelasnya.

Ia mengharapkan, mengenai adanya kejadian ini di harapkan ada tanggung jawab dari pihak bidan Titin Dorce, mengenai anaknya yang saat ini masih di rawat di rumah sakit Singkawang.

"Jadi, saya tak ada melaporkan, ke siapa-siapa mengenai ini ya,"jelasnya.

Seorang dokter umum di Puskesmas Sungai Kunyit, menceritakan, pasien Rina, sebelum melahirkan sempat memeriksa kandungannya melalui USG di Puskesmas  Sui Kunyit.

Saat pasien datang, ia pun menyarankan ke rumah sakit untuk mendapatkan hasil yang maksimal,  itu karena USG di Puskesmas hanya dua dimensi.


"Jadi, ibu Rina usia kehamilannya saat di USG, sekitar 38 minggu kehamilannya,"jelasnya. (ben/loh/sut)