Kisah Pendi, Si Pawang Ular dari Mempawah

Mempawah

Editor sutan Dibaca : 3355

Kisah Pendi, Si Pawang Ular dari Mempawah
Pendi terlihat akrab dengan ular King Kobra yang dia tangkap di daerah Sungai Pinyuh. (SUARA PEMRED/RUBEN PERMANA)

Tak banyak orang yang cukup berani untuk bersentuhan langsung dengan ular. Apalagi, reptilia tanpa kaki dan bertubuh panjang itu, memiliki bisa yang mematikan.

Tapi hal itu tidak berlaku bagi Pendi, seorang pria berusia setengah abad, yang selalu memakai tutup kepala ini,  terlihat santai membelai dan bahkan seolah tengah bercengkerama dengan seekor ular jenis King Kobra di sebuah warung kopi di bilangan Terminal Mempawah.

Ular berbobot 9,5 kilogram dan dengan panjang hampir seukuran lebar jalan raya dan sangat mematikan itu, diakuinya berhasil ditangkap di daerah Simpang Empat, Kecamatan Sungai Pinyuh.

 Berdasarkan ceritanya, saat itu dia mendapat kabar dari salah seorang warga yang mengatakan ada seeokor ular di dekat sebuah kandang ternak. Bahkan dikabarkan pula, bahwa ular tersebut telah membunuh seekor sapi.

“Ada dapat kabar, sapi mati dipetok ular, makanya saya datang untuk menangkapnya. Saat di sana, sapinnya sudah mati, namun nyawan warga masih dapat diselamatkan," kata Pendi.

Setelah tiba di lokasi, dia melihat bahwa jenis ular yang mematuk sapi itu adalah berjenis King Kobra. Ular tersebut menurutnya memang sangat mematikan, namun di balik itu, dia yakin bahwa reptile itu dapat ditangkap dan dijinakkan.  
Karena kepiawaiannya itulah, namanya dikenal di Mempawah sebagai Pendi Ular.

Dia bahkan lupa, sudah berapa banyak ular yang telah ditangkapnya selama ini. "Untuk jumlah ular yang pernah saya tangkap sudah tak pernah dihitung. Tapi jika untuk jumlah warga yang pernah memanggil, sudah ada sekitar 400 orang," akunya.

Tidak hanya warga biasa memanggil Pendi jika tengah berurusan dengan ular. Pejabat-pejabat daerah pun akan segera menghubunginya jika sekelai waktu merasa terganggu akan keberadaan hewan itu di lingkungan rumah.

Pendi mengaku, dari rumah perawat, dokter, kapolres, rumah dinas sekda dan bahkan rumah dinas wakil bupati pun pernah ia sambangi untuk diperbantukkan menjinakkan ular.  
“Iya, dulu waktu Kapolresnya AKBP Bimo dan Wakil Bupati Abang Usman, pernah saya ke rumah dinasnya untuk menangkap ular,” terangnya.

Namun dari banyak cerita itu, yang paling menarik adalah ketika dia dipanggil datang ke rumah salah seorang dokter. Dia pikir saat itu, ada ular yang berbahaya masuk ke dalam rumah, namun tak dinyana, malah diminta tolong untuk membantu pasien yang tergigit ular. 

  
Pendi mengungkapkan, untuk setiap ular yang didapatnya, biasa selalu disimpan di rumah khusus yang telah dia persiapkan.  Saat ini dia menyebut, telah ada sekitar 70 ekor ular dengan berbagai jenis di rumah tersebut. Untuk konsumsi ular, dia memberikan sedikitnya 22 ekor untuk setiap 15 hari.

Artinya, ucap dia, dalam satu bulan, dia menyiapkan 30 ekor ayam.  
“Ular yang dipelihara itu untuk mengobati berbagai penyakit seperti penyakit liver, ataupun yang lainnya,” tandasnya. (ruben/ang/sut)