24 Nelayan Trawl Rela Ganti Alat Tangkap

Mempawah

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 434

24 Nelayan Trawl Rela Ganti Alat Tangkap
Ilustrasi Kapal Penangkap Ikan Menggunakan Metode Trawl
MEMPAWAH, SP - Kepala Bidang Perikanan di Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Mempawah, Tedy Prawoto mengungkapkan, pihaknnya sudah melakukan sosialisasi dan pendataan para nelayan yang mau mengganti alat tangkap trawl menjadi alat tangkap tradisional.

"Kita sudah mensosialisasikan  dan melakukan pendataan terhadap para nelayan yang menggunakan pukat trawl, setelah didata, nanti baru diajukan ke pusat untuk melakukan pergantian alat tangkap menjadi tradisional," kata Tedy, kemarin.

Dijelaskan, pendataan nelayan pukat trawl dilakukan di dua desa, yakni nelayan di Desa Sungai Bakau Kecil dan Sungai Bakau Besar. Dari dua desa tersebut terdapat sebanyak 24 orang nelayan yang bersedia mengganti alat tangkapnya. 

Sementara nelayan pukat trawl asal Desa Sungai Pinyuh, Jungkat dan Siantan masih belum mau mengganti alat tangkapnya. Menurut Teddy, setelah diganti, tentunya alat tangkap lama nelayan itu akan segera dimusnahkan.  

“Menurut mereka sudah enak pakai trawl. Jadi yang mau Cuma dua desa tersebut,” tuturnya.

Terkait masih banyak nelayan trawl yang menolak mengganti alat tangkap, tidak dapat dipaksa. Kendati dalam sosialisasi dan pendataan, pihaknya turut melibatkan tim dari Kementerian Kelautan dan Perikanan.  

Menurut Teddy, nelayan Mempawah pengguna alat tangkap trawl berasal dari Kecamatan Siantan sampai Desa Sungai Bakau Kecil. Sementara nelayan di daerah Mempawah Hilir dan Sungai Kunyit mayoritas pengguna alat tangkap tradisional. 

Berdasarkan kajian akademis, penggunaan pukat trawl tersebut dapat merusak ekosistem di laut. Namun yang palung rentan adalah terjadinya konflik antar nelayan.

“Karena pukat trawl ini sering dianggap merusak pukat nelayan tradisional. Dan juga menurunkan omzet mereka,” ucapnya. 

Kendati demikian, pihaknya belum dapat memastikan akibat penggunaan pukat trawl ini telah merusak ekosistem kawasan laut di Mempawah. Namun jika melihat kualitas dan kuantitas tangkapan nelayan tradisional sudah menunjukkan ke arah sana.
“Ciri-cirinya sudah ada. Ikan yang ditangkap kecil-kecil. Tidak seperti di tahun 1990an,” ucapnya. (ben/ang)