Langganan SP 2

Diharap Jadi Ikon Ekonomi Daerah

Mempawah

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 106

Diharap Jadi Ikon Ekonomi Daerah
BERI MAKAN – Seorang pembudidaya nila memberi makan ikan di keramba miliknya di Mempawah, Senin (25/5). Tingginya potensi budi daya ikan di Mempawah diharap jadi ikon ekonomi daerah. SP/Ruben

Potensi Budi Daya Ikan Mempawah


Budi daya ikan dengan metode keramba di Sungai Mempawah begitu potensial. Berdasarkan data Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan Mempawah, tercatat sebanyak 3.280 keramba yang dikelola warga atau kelompok warga. Bahkan jumlah itu diperkirakan akan terus meningkat sepanjang tahun.

SP - Kepala Bidang Perikanan di Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan Mempawah, Tedy Prawoto mengatakan, sebagian besar warga lebih memilih ikan nila dibanding ikan lain seperti mas, patin, baong dan lainnya untuk dibudidayakan. 

“Hal itu karena ikan nila memiliki ketahanan lebih kuat dibanding ikan lainnya. Makanya mereka lebih banyak membudidayakan ikan nila,” kata Tedy, Senin (25/9). 

Sebagai bagian dari pemerintah daerah, tentunya dia berharap warga terus mengembangkan jumlah keramba guna meningkatkan hasil ikan.

“Sekarang ini hasil budi daya ikan Mempawah sebagaian besar dikirim ke Pontianak dan sejumlah daerah di hulu. Tentu jika semakin banyak akan mensejahterakan warga,” harapnya. 

Tedy mengaku, saat ini pihaknya tengah kembali melakukan pendataan jumlah keramba yang ada di Mempawah, berikut dengan persentase pertumbuhannya. Mayoritas budi daya dilakukan warga di sungai kawasan Mempawah Hilir dan Mempawah Timur. Meskipun warga Kecamatan Segedong juga tengah mencoba hal serupa.

“Selain itu sekaligus juga dilakukan penyuluhan agar kemampuan pembudidaya semakin bertambah,” jelasnya. 

Udin satu di antara pembudidaya mengatakan, bersama seorang temannya dia mengelola sebanyak 18 petak keramba. Dan seluruh ikan yang ia budi dayakan adalah ikan nila. Menurut Udin, ikan nila lebih tahan terhadap ancaman kematian, namun jika tidak dikelola dengan baik potensi kematian juga sama besarnya. 

“Dari 18 keramba itu, 11 keramba punya saya dan delapan punya teman. Tapi pengelolaannya kita kerjasama,” ucapnya.

Udin menjelaskan, musim panen dilakukan dalam rentang waktu lima bulan sejak memasukkan bibit ikan. Dan untuk 18 keramba itu biasanya berhasil menjual 100 kilogram ikan nila.  

“Kita sudah ada penampung. Jadi berapa pun hasil panen penampung siap membeli dengan harga Rp23-25 ribu per kilogram.

Tokoh masyarakat Mempawah, Susanto menambahkan, maraknya budi daya ikan bisa dijadikan ikon daerah. Dia menilai, potensi pengembangan ikan air tawar sangat baik di Mempawah.

Namun demikian perlu diperhatikan oleh para pembudidaya terkait penggunaan pakan, apakah kemudian akan berpengaruh pada pencemaran air atau tidak. 

“Apalagi air Sungai Mempawah menjadi bahan baku yang digunakan PDAM untuk disalurkan kepada warga,” ucapnya. (ruben permana/ang)