Harga Sayur Melonjak Naik, Pedagang Sebut Faktor Cuaca Pancaroba

Mempawah

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 214

Harga Sayur Melonjak Naik, Pedagang Sebut Faktor Cuaca Pancaroba
SAYUR NAIK – Tampak dua orang pedagang di Pasar Tradisional Sebukit Rama Mempawah menunggu pembeli, Rabu (28/2). Sejumlah harga sayur yang dijual di pasar tersebut mengalami kenaikan. Selain naik, terdapat jenis-jenis sayur yang susah didapat, seperti mis
Kang Ade, Koordinator Pedagang
“Ini sudah terjadi beberapa hari terakhir. Timun kita datangkan dari Singkawang dan Pontianak,” 

MEMPAWAH, SP – Sejumlah harga sayur yang dijual di Pasar Tradisional Sebukit Rama, Mempawah, mengalami kenaikan. Selain naik, terdapat jenis-jenis sayur yang susah didapat, seperti misalnya timun.

Kang Ade, koordinator pedagang mengatakan, kelangkaan timun memang dari distributornya di Pontianak dan Singkawang. Pasalnya jika hari biasa mereka mendapat tiga karung, kini hanya setengah karung timun. 

“Ini sudah terjadi beberapa hari terakhir. Timun kita datangkan dari Singkawang dan Pontianak,” kata Kang Ade, Rabu (28/2).

Dia menyebut, selain langka, harga timun juga naik. Disusul dengan harga sejumlah sayur-sayur lain. “Kalau dulu, timun dijual seharga Rp4 ribu per kilogram. Tapi sekarang sudah Rp12 ribu,” ucapnya. 

Selain timun, sayur yang naik adalah wortel, yang sebelumnya dijual Rp ribu menjadi Rp24 ribu. Tomat Rp12 ribu menjadi Rp18 ribu per kilogram.

“Kenaikan harga sayur ini tentu membuat banyak warga konsumen mengeluh,” ucapnya. 

Informasi yang ia dapat dari distributor, penyebab kelangkaan ini adalah masuknya musim pancaroba yang membuat tanah kurang subur sehingga hasil panen sayur menurun.

Samsul Akhyar, seorang warga Mempawah menilai, ada banyak banyak faktor penyebab kelangkaan dan naiknya harga sayur. Selain memang disebabkan musim, faktor utama menurutnya ialah tidak maksimalnya pemerintah dalam mendorong program pertanian sayur setempat. 

“Mempawah ini banyak sekali tanahnya yang subur. Lalu kenapa seperti tidak dimanfaatkan oleh pemerintah, dengan mendorong warganya agar lebih serius menggarap lahan tersebut,” kata Samsul.

Jika ini mampu dilakukan, pasokan sayur-mayur tentunya tidak akan masuk dari luar, melainkan dihasilkan oleh para petani lokal. Dan itu tentunya dapat menekan harga yang cenderung terus naik. 

“Mungkin saat ini ada warga yang menanam sayur, tapi itu jumlahnya sedikit dan belum mencukupi untuk pasokan lokal. Perlu adanya dukungan pemerintah. Dan itu belum terlihat,” ucapnya. 

Kepala Bidang Perdagangan Disperindagker Mempawah, Lely harminsih membenarkan, memasuki musim kemarau memang harga komoditi sayur banyak mengalami kenaikan.

Untuk menutupi itu, biasanya pihak pemerintah berkonsultasi untuk mendatangkan pasokan dari daerah luar. “Kami juga akan terus melakukan pemantauan setiap hari di kawasan pasar,” ucapnya. 

Namun terlepas dari itu, dia mengimbau masyarakat agar menjadi pembeli yang cerdas, yaitu membeli kebutuhan sehari hari sesuai kebutuhan.

Kurangi Belanja


Rusmina, warga Mempawah Hilir mengeluhkan kenaikan sejumlah harga sayur. Akibatnya, dengan kainkan harga itu, dia harus pintar-pintar memanajemen uang belanja agar cukup untuk keperluan sehar-hari.

“Wortel saja sekarang harganya capai Rp24 ribu. Padahal sebelumnya hanya Rp17-18 ribu per kilogram. Kan lumayan jauh naiknya itu,” kata dia.

Makanya, akhir-akhir ini untuk pembelian sayur selalu dia kurangkan. Artinya disesuaikan dengan uang belanja. Seperti misalnya kalau biasa dia beli sau kilo, kini hanya setengahnya.  

"Saya biasa beli sekilo untuk wortel. Namun adannya kenaiakan ini saya beli setengah kilo saja," ungkapnya. (ben/ang)