Sayuran Saja Bisa Langka di Mempawah

Mempawah

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 147

Sayuran Saja Bisa Langka di Mempawah
SAYURAN - Warga di Kabupaten Mempawah kesulitan mendapatkan sayuran, terutama mentimun karena kurangnya pasokan dan tidak adanya penanaman pertanian berkelanjutan di wilayah tersebut. (Dok SP)
Agus Sukmadi, Kabid Pertanian dan Holtikultura, Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Peternakan Kabupaten Mempawah
"Kita bukan tidak memperhatikan tanaman sayur-mayur. Namun, kita lebih fokuskan ke tanaman pangan,"

Kang Ade, Koordinator Pedagang 
"Tak hanya hanya timun yang mengalami kenaikan, wortel, tomat, kubis serta sayur-mayur lainnya juga,"

MEMPAWAH, SP
- Harga sejumlah sayur-mayur yang dijual di Pasar Tradisional Sebukit Rama, Mempawah mengalami kenaikan. Bahkan untuk jenis timun telah mulai langka sejak beberapa hari terakhir.

Pedagang dan dinas terkait, kompak menyatakan bahwa penyebabnya adalah, masuknya musim pancaroba yang berpengaruh pada hasil produksi petani. Namun, permasalahan terbesarnya adalah, sebagian besar pasokan sayur tersebut, ternyata bukan hasil komoditas lokal, melainkan didistribusi dari Singkawang dan Kota Pontianak. Sehingga keberadaan sayur di Mempawah benar-benar bergantung pada daerah luar dan sangat rentan terjadinya fluktuasi harga.

Padahal Mempawah memiliki tanah yang cukup luas bahkan subur, namun kenapa hal itu tidak menjadi dasar pemerintah daerah dalam mengembangkan petani-petani sayur setempat dalam mengembangkan produksinya.

Kang Ade koordinator pedagang di kawasan pasar Tradisional Sebukit Rama Mempawah mengatakan, dalam sepekan ini harga komoditas sayur-mayur di pasar tradisional tersebut, mengalami kenaikan harga. Sementara untuk timun mengalami kelangkaan. 

"Untuk timun, kita mengalami kelangkaan baik dari distributor Singkawang maupun dari Pontianak.  Karena biasanya per harinnya bisa hingga tiga karung datang ke kita. Namun beberapa hari terakhir, stok hanya datang dari Pontianak sekitar setengah karung," tegasnya, kemarin.

Menurutnya, dengan langkanya komoditas sayur-mayur seperti timun, membuat harganya juga semakin melonjak. Dimana harga sebelumnya hanya Rp4 ribu per kilogramnya, kini naik menjadi Rp12 ribu per kilogram.

"Tak hanya hanya timun yang mengalami kenaikan, wortel, tomat, kubis serta sayur-mayur lainnya juga," tegasnya.

Ade merincikan harga tiap komoditas, untuk wortel dari semula Rp18 ribu, naik menjadi Rp24 ribu, sedangkan tomat dari semula Rp12 ribu naik menjadi Rp18 ribu. Begitu juga dengan harga harga sayur-mayur lainnya.

Rusmina (46), warga Kecamatan Mempawah Hilir membenarkan, beberapa hari terakhir harga komoditas sayur-mayur di Pasar Tradisional Sebukit Rama Mempawah, banyak mengalami kenaikan.

"Untuk wortel saja sudah mencapi Rp24 ribu per kilogramnya, padahal sebelumnya hanya Rp17-18 ribu," ungkapnya.

Sementara, Kepala Bidang Perdagangan Disperindagker Kabupaten Mempawah, Lely Harminsih membenarkan, memasuki musim kemarau saat ini, harga komoditas sayur-mayur banyak mengalami kenaikan.

"Untuk komoditas harga banyak mengalami kenaikan. Sedangkan untuk timun ada mengalami kelangkaan," tegasnya.

Terkait kelangkaan timun, pihaknya berkonsultasi untuk meminta agar timun didatangkan dari daerah luar, agar pasokan di Mempawah mencukupi. Pihaknya terus memantau setiap harinya di kawasan pasar.

Tokoh pemuda Kabupaten Mempawah, Mohlis Saka menilai, Pemda Mempawah kurang memperhatikan petani sayuran-mayur dibandingkan dengan petani padi di Kabupaten Mempawah.

"Jika dilihat dari program yang ada, baik dari bantuan yang diberikan, program petani padi lebih diutamakan dibandingkan dengan petani sayur-mayur," tegasnya.

Padahal, potensi pertanian untuk sayur-mayur di Mempawah sangat bagus. Apalagi jika pemerintah ikut terus menggenjot dan  memberikan sumbangsih, baik berupa bantuan bagi para petani, mau pun pelatihan bagi para petani sayur-mayur.

"Banyak contoh di beberapa daerah luar. Komoditas sayur-mayur mampu menjadi penghasilan yang sangat bagus bagi petani, dan juga mampu menjadi pemasukan daerah,”
ujarnya. 

Bahkan, sayuran bisa membuat terkenal nama daerah sebagai penghasil komoditas sayur terbesar dan terbaik Indonesia, seperti Brebes (Jawa Tengah) dengan bawang merah. “Maka dari itu, pemerintah Mempawah jangan takut berbuat di sektor pertanian sayuran," tegasnya.

Melihat adanya kelangkaan komoditas timun, pemerintah daerah harus segera berbenah, khususnya di bidang pertanian sayur-mayur. Jika perlu tidak hanya mengharapkan hasis dari daerah luar, untuk kebutuhan masyarakat Mempawah.

"Karena kita mengharapkan petani lokal lebih diutamakan," tegasnya. 


Harus Digenjot


Kabid Pertanian dan Holtikultura, Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Peternakan Kabupaten Mempawah, Agus Sukmadi mengatakan, saat ini pengembangan pertanian holtikultura terus digenjot, seperti cabai dan bawang. Namun, untuk komoditas sayur-sayuran  atau timun, belum ada secara khusus. 

"Untuk tanaman cabai di 2017 itu ada 30 hektar, dan bawang sekitar 15 hektar yang tersebar di Kabupaten Mempawah. Namun secara khusus untuk sayur-mayur seperti timun, kita belum ada," tegasnya.

Untuk tanaman timun, diakuinya sangat cocok sekali di Kabupaten Mempawah. Karena tanaman timun itu, bisa ditanam baik di dataran rendah maupun dataran tinggi.

"Karena dari pusat perhatiannya lebih pada cabai dan bawang, dibandingkan tanaman lainnya. Karena cabai dan bawang dapat mempengaruhi inflasi,” ujarnya. 

Seperti, harga cabai yang mencapai Rp150 ribu, maka inflasi akan sangat cepat naiknya. Makanya, pusat perhatiannya lebih terhahap cabai dan bawang.

Menurut Sukmadi, terjadinnya kelangkaan timun saat ini disebabkan karena faktor musim kemarau. Selain itu kurangnnya minat petani menanam timun, disebabkan karena timun tak memiliki nilai ekonomis yang tinggi, sehingga para petani sayur di Mempawah, menanamnya tak secara khusus.

"Ada petani Mempawah menanam timun, mungkin karena faktor kemarau ini, yang menjadi penyebab timun menjadi langka," jelasnya.

Sukmadi mengakaui belum bisa mendapatkan solusi dalam menyelesaikan kenaikan harga, dan kelangkaan sayur di Mempawah. Karena jika mengenai permasalahan harga, tergantung dari pihak yang menawar dan menyuplai barang.

Pihaknnya terus menyarankan kepada para petani, agar pandai membaca situasi. Sebab, kebanyakan petani tak konsisten menanam.

Sukmadi mengatakan, pihaknya bukan lebih memperhatikan pertanian padi dari pada pertanian sayur-mayur. Saat ini, pihaknya fokus dalam rangka mengejar upsus pajele (padi, jagung dan kedele).

"Di sini pangan sangat rawan. Harga beras naik sudah mengalami gejolak. Makanya, kita lebih memprioritaskan produksi pangan, terutama padi. Alhamdulilah, kita surplus," jelasnnya.

Ia mengatakan, tahun depan pihaknya akan berusaha memperhatikan tanaman sayur-mayur. 

"Kita bukan tidak memperhatikan tanaman sayur-mayur. Namun, kita lebih fokuskan ke tanaman pangan," tegasnya.


Komentar Calon 


Hermanto Lim, calon wakil Bupati Mempawah dari pasangan Syech Bandar mengungkapkan, minimnya produksi sayur lokal untuk pemenuhan kebutuhan masyarakat Mempawah, menjadi satu di antara visi dan gagasannya ke depan. Yaitu, memberikan bantuan bibit dan membentuk asosiasi bagi petani sayur-mayur.

"Jika kita terpilih dalam Pilkada mendatang. Kita akan memberikan bantuan bibit yang disesuaikan dengan konsisi lahan di desa tersebut, dan membentuk asosiasi bagi petani sayur mayur," tegasnya.

Maksud dari pemberian bibit dengan disesuaikan kondisi di desa tersebut, agar warga di Mempawah tak hanya memfokuskan pada satu jenis sayur-mayur saja. Jika difokuskan pada satu jenis satu sayur-mayur saja, maka akan terjadi surplus.

"Karena jika surplus, harga komoditas tersebut akan anjlok. Makannya, pemberian bibit disesuaikan akan kondisi di desa, dan disesuaikan permintaan pasar," tegasnya.

Menurutnya, sudah menjadi motto pasangan Syahbandar dan Hermanto Lim, untuk berusaha menyejahterakan masyarakat menengah ke bawah. "Karena kita ingin para petani juga sejahtera," tegasnya.

Menurutnya, dari hasil pantauan pihaknya saat ini, para pertani sayur banyak mandiri. Dimana masih kurangnya campur tangan pemerintah daerah.

Sementara, Calon Wakil Bupati Mempawah, Mochrizal dari pasangan Syech Bandar mengatakan, terkait minimnya produksi sayur-mayur lokal untuk pemenuhan kebutuhan masyarakat Mempawah, solusinya sudah tercantum di dalam misinya untuk Kabupaten Mempawah mendatang. Yaitu, tersedianya kebutuhan petani dan nelayan yang cukup memadai.

"Sektor pertanian holtikuktura akan menjadi satu diantara  prioritas kita ke depannya jika kita terpilih,” ujarnya. 

Dalam misi pasangannya, yaitu memberikan bantuan, penyuluhan, pelatihan permodalan dalam rangka pemanfaatan teknologi modern dan tepat guna, dalam rangka meningkatkan hasil produksi pertanian holtikultura dan perikanan.

Selain itu, memperluas jaringan sistem pemasaran, menyediakan pengelolaan dan sistem produksi, menyediakan sarana dan prasarana, untuk pertanian dan perikanan. Juga membentuk dan membina kelompok tani dan nelayan. 

Menurut Mochrizal, minimnya produksi sayuran di Kabupaten Mempawah, karena petani sayuran ini, sebagian kecil menjadi petani sayuran, bukan untuk mata pencarian pokok mereka. Namun, hanya sebagai pencarian sambilan. 

"Jika kita memimpin kedepannya, kita akan pacu dalam meningkatkan petani holtikultura di Kabupaten Mempawah. Hal itu akan kita petakan kawasan yang baik, untuk dijadikan kawasan pertanian holtikuktura. Mempawah ini, jika hujan sering terjadi banjir," tegasnya.

Ia mengatakan, untuk instansi saat ini yang membidangi pertanian dalam memberikan dorongan pada masyarakat, diakuinya masih kurang. 

"Makanya motto kami "Berani Lebih Baik" dalam memberikan perubahan, untuk membangun Kabupaten Mempawah ke depannya," tegas dia. 

Sedangkan calon wakil Bupati Mempawah, Muhammad Pagi, dari pasangan Erlina Ria Norsan mengatakan, satu di antara program dalam visi dan misinya untuk para petani, yaitu peningkatan pendapatan para petani, baik petani padi mau pun petani holtikultura.

"Jadi, peningkatan pendapatan para petani akan kita tingkatkan. Dengan cara memberikan pelatihan bantuan bibit, maupun bantuan lainnya," jelasnya.

Menurut M. Pagi, setelah dirinya menang dalam Pilkada, pihaknnya akan memetakan kekurangan akan keberhasilan petani, baik padi maupun holtikultura dan memetakan kawasan-kawasan yang baik untuk ditanami holtikultura.

"Jadi, kita akan petakan. Karena kita tak mau kawasan yang tak laik untuk ditanami sayur-mayur dipaksaan untuk ditanam. Karena kita akan berkoordinasi dengan pihak pertanian," tegasnya.

Calon wakil Bupati Mempawah, Ridwan Rusli dari pasangan Rahmad Satria mengatakan, minimnya produksi sayur lokal untuk pemenuhan kebutuhan masyarakat, sudah termasuk dalam misinya. Yaitu, menciptakan daulat pangan di Kabupaten Mempawah.

"Jadi, rencananya jika kita terpilih, kita akan membentuk sentral-sentral (kelompok-kelompok) petani, yang disesuaikan dengan kawasan-kawasan yang cocok atau memenuhi syarat, untuk meningkatkan produksi sayur-mayur di Kabupaten Mempawah," jelasnya.

Menurutnya, dalam meningkatkan pertanian sayur-mayur di Kabupaten Mempawah, tak bisa dilakukan secara mandiri atau sendiri-sendiri. Namun, harus dengan cara berkelompok-kelompok.

"Karena, saat ini jika dilihat pertanian sayur-mayur secara kelompok ini belum ada. Makanya, kita akan mencetuskan itu sebagai gambaran kecilnya," tegasnya.

Sayuran Kurang Diproritaskan  

Anggota DPRD Kabupaten Mempawah  Dapil Anjongan-Sungai Pinyuh, Darwis mengungkapkan, terjadinya kelangkaan sayur-mayur, disebabkan karena faktor musim kemarau sehingga sayur-mayur sulit untuk didapatkan, terutama pada timun.

"Karena untuk sebelumnya tak selangka ini. Terjadinya kelangkaan ini disebabkan karena musim kemarau. Meskipun tanaman jenis sayur mayur banyak didatangkan dari luar," jelasnya dewan dapil Anjongan-Sungai Pinyuh. 

Menurutnya, adanya kelangkaan timun di Mempawah, instansi terkait harus menggenjot produksi tanamana sayur mayur di Kabupayen Mempawah. 

Ia melihat, petani padi lebih diprioritaskan daripada sayur mayur.

"Makanya jika dilihat terkesan kurang perhatian. Dimana pemerintah harus mendatang petani sayur mayor, agar memotivasi mereka agar semakin giat melakukan penanaman sayur mayur. Dalam menekan terjadinya kelangkaan di Mempawah," tegasnya. (ben/lis)