Robo Robo Mempawah Dituding Syirik

Mempawah

Editor Angga Haksoro Dibaca : 654

Robo Robo Mempawah Dituding Syirik
Mempawah, SP – Panitia acara Robo Robo di  Mempawah membantah acara tahunan tersebut dianggap mengandung syirik. Sejumlah komentar di media sosial menyebut prosesi melempar telur dan sirih dalam prosesi Robo Robo sebagai budaya syirik.  

Thamrin, Panglima Adat Laskar Opu Daeang Manambon menjelaskan, prosesi melempar telur dan sirih sebagai bentuk rasa syukur masyarakat saat itu atas kedatangan  Opu Daeng Manambon ke Mempawah.  

“Jadi, jika tidak mengetahui mengenai sejarah Robo Robo, bisa langsung datang bertanya. Baik kepada Raja Keraton Mempawah, para pangeran maupun pada saya. Jangan sok tahu, mengatakan syirik dan bid’ah. Apalagi mengaitkan dengan peristiwa Festival Namoni di Palu yang terkena tsunami dan gempa,” kata Thamrin, Kamis (25/10).  

Menurut Thamrin, tradisi ‘Rebo Rebo’ sudah dilakukan sejak 255 tahun silam. Tradisi ini dilaksanakan pada rabu terakhir bulan Safar.  

Ada dua acara besar dalam tradisi Robo Robo yaitu memperingati kedatangan Opu Daeng Manambon di Mempawah dan haul Opu Daeng Manambon yang sama-sama dilaksanakan pada bulann Safar.  

“Sedangkan ritual lempar sirih dan telur itu dimaksudkan untuk menyambut kedatangan Opu Daeang Manambon. Seperti contoh di Sintang, dalam penyambutan tamu ada ritual menginjak telur,” ujar Thamrin.  

Acara Robo Robo digelar untuk memperingati penyambutan Opu Daeng Manambon dari Kerajaan Matan Tanjungpura di Ketapang ke Kerajaan Mempawah. Opu Daeng Menambon adalah keturunan Kerajaan Luwu, Sulawesi Selatan. Opu Daeng Menambon datang ke Mempawah untuk menyebarkan agama Islam.  

Selain menyebarkan agama Islam, Opu Daeng Menambon juga meneruskan tahta Kerajaan Panembahan Senggaok yang pada saat itu dirangkap oleh sultan di Kerajaan Matan Tanjunpura.  

Berlayarnya Opu Daeng Manambon dari Kerajaan Matan Tanjungpura diiringi sekitar 40 perahu. Saat memasuki  Muara Kuala Mempawah, rombongan disambut suka cita oleh masyarakat Mempawah. (ben)