Senin, 17 Februari 2020


BPH Migas RI Kunjungi Pelabuhan Kijing

Editor:

Kiwi

    |     Pembaca: 153
BPH Migas RI Kunjungi Pelabuhan Kijing

MEMBAHAS - Rombongan Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) Republik Indonesia mengunjungi Pelabuhan Kijing, di Kecamatan Sungai Kunyit, Kabupaten Mempawah, Kamis (13/2). Kunjungan tersebut disambut Bupati Kabupaten Mempawah dan Sekda Mempaw

MEMPAWAH, SP - Rombongan Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) Republik Indonesia mengunjungi Pelabuhan Kijing, di Kecamatan Sungai Kunyit, Kabupaten Mempawah, Kamis (13/2), untuk memastikan suplai dan permintaan (demand) yang akan digunakan di Mempawah. 

Rombongan BPH Migas tersebut, disambut oleh Bupati Kabupaten Mempawah, Erlina dan Sekda Mempawah, Ismail, di Kantor Pemda Mempawah. Setelah itu, rombongan langsung menuju ke Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di Pelabuhan Internasional Kijing, Kecamatan Sungai Kunyit, Kabupaten Mempawah. 

Kepala BPH Migas Republik Indonesia, Fanshurullah Asa mengatakan, kedatangannya ke Mempawah, sebagai tindak lanjut pertemuan Focus Group Discussion (FGD) dalam pembangunan pipa trans kalimantan yang sedang berjalan. 

"Jadi, kedatangan kita sebagai tindak lanjut pertemuan silam. Dengan cara memastikannya suplai, pasokan gas, dan demand-nya secara langsung di Mempawah," katanya. 

Ia menyatakan, dengan banyaknya potensi di Mempawah, maka fase pertama bulan Juli 2020, sudah mulai diresmikan. Artinya, akan mulai menggunakan berbasis gas dan energi. 

"Karena, jika menggunakan gas, lebih murah dan ramah lingkungan, daripada menggunakan BBM," katanya 

Ia mengatakan, untuk tahap awal, karena permintaan belum signifikan, pihaknya akan menggunakan gas alam cair atau elenji terlebih dahulu. Nantinya gas akan diangkut dengan menggunakan kapal ke Mempawah.

"Baik untuk Pelabuhan Kijing maupun semua pembangkit PLN yang masih menggunakan BBM, agar diganti dengan menggunakan  bahan bakar gas. Karena, ini sudah ada di RPJMN 2020-2024 yang sudah ditandatangani Presiden Republik Indonesia," ujarnya. 

Ia mengatakan bahwa Pelindo, PLN, dan semua pembangkit yang menggunakan BBM, agar diganti dengan menggunakan gas. Karena, pemerintah sudah memberikan waktu sekitar dua tahun. 

"Karena gas kita melimpah. Sehingga, gas yang diekspor di Singapura disetop, agar digunakan di dalam negeri. Karena keinginan presiden, inginnya gas menjadi turun," tuturnya. 

Bupati Kabupaten Mempawah, Erlina mengatakan, pihaknya siap mendukung pihak BPH Migas, karena hal itu sudah menjadi Intruksi Presiden Republik Indonesia, yang berencana mengubah  perusahaan pembangkit yang menggunakan BBM menjadi gas. 

"Kita siap support, terkait regulasinya, apa yang diharapkan presiden agar bisa terwujud," katanya. 

Menurutnya,dengan adanya perubahan tersebut, perusahaan yang menggunakan pembangkit BMM diubah menjadi gas, tentunya akan menjadi bahan bakar yang ramah lingkungan. 

"Karena adanya perubahan penggunaan BBM menjadi gas, tentunya akan menjadi ramah lingkungan. Makanya, kita sangat berharap ini bisa terwujud," ungkapnya. (ben/lha) 

Siapkan Fasilitas Port Dermaga

IPC Port Pelindo II Pontianak, Mustafa, mengatakan terkait hal ini, pihaknya hanya menyiapkan fasilitas port dermaga dan logistik di Kawasan Terminal Kijing, Kabupaten Mempawah. 

"Kita hanya menyiapkan fasilitas port dermaganya saja," ucapnya. 

Perusahaan-perusahaan yang bakal menggunakan bahan bakar gas, seperti PT BAI, Smelter, maupun perusahaan-perusahaan lainnya yang membutuhkan bahan bakar gas, pihaknya hanya menyediakan dermaga untuk kapal-kapal gas bersandar. 

"Kami berada di bagian suplai c dan sebagai penyedia fasilitas dermaga bersandar kapal," tuturnya. (ben/lha)