Langganan SP 2

Karolin: Jika Ada Perintah Partai, Saya Siap

Nasional

Editor sutan Dibaca : 3587

Karolin: Jika Ada Perintah Partai, Saya Siap
dr Karolin Margret Natasa, Anggota DPR RI Komisi IX. (foto antara)
Karier politik Karolin Margret Natasa menasional lewat  keberhasilannya meraih 397.481 suara dalam Pemilu Legislatif  2014. Perolehan suara terbanyak dari warga Dapil Kalbar inilah yang mengantarkan Karolin sebagai legislator di Senayan. 

Tak heran jika wanita ayu berdarah Dayak  yang duduk di Komisi IX DPR RI ini disebut-sebut  memiliki kans besar untuk menjadi kepala daerah dalam Pilkada Kabupaten Landak 2017.  Lebih dari itu, sebagian besar kalangan,  baik para tokoh Kalbar di Jakarta atau di Bumi Khatulistiwa sendiri menilai, wanita kelahiran Kabupaten Mempawah, 12 Maret 1982 ini, memiliki peluang untuk menggantikan posisi sang ayah, Cornelis sebagai Gubernur Kalbar yang masa jabatannya segera berakhir pada 2018.

Mengawali kariernya dari seorang pegawai negeri sipil yang bertugas sebagai seorang dokter di Puskesmas Kecamatan Mandor, Kabupaten Landak. Karolin merasa jiwanya terpanggil untuk terjun ke dunia politik.

Panggilan jiwa ini setelah Karolin mengaku kerap menerima pengaduan masyarakat terkait minimnya penanganan masalah kesehatan di kalangan masyarakat pedalaman.   
Politikus muda dari Fraksi PDIP di DPR RI ini pun tak menampik,  ketika menanggapi namanya  berpeluang pada bursa kepala daerah baik di tingkat Kabupaten Landak, kampung halaman ayahnya,  maupun tingkat Provinsi Kalbar.  

"Saya  berlatar belakang keluarga politik. Jadi, tentu sudah menjadi kewajiban saya untuk secara langsung membangun daerah,  bukan hanya dari kursi di Senayan," katanya ketika diwawancarai Hendra Cipta dari Suara Pemred di ruang kerja di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, pekan lalu.   

SP: Sebagai anggota DPR RI dan anak seorang Gubernur Kalbar saat ini, nama Anda kerap disebut berpeluang besar menjadi Bupati Landak bahkan Gubernur Kalbar mendatang. Tanggapan Anda?  

Karolin: Saya serahkan ke Partai. Tergantung perintah dan keputusan partai nanti. Kalau ada perintah partai, saya siap maju. Kalau tidak ada, ya laksanakan tugas yang ada sekarang saja.

SP: Jika nanti maju dan terpilih, apa yang akan Anda lakukan? Karolin:  Persoalan umum yang terjadi di daerah adalah masalah pendidikan, kesehatan dan infrastruktur. Namun khusus bidang kesehatan,  belum banyak yang memberikan perhatian. Soal kesehatan  hanya dianggap sebagai bagian dari urusan perawat, dokter,  atau bidan. Padahal tidaklah  demikian.

Karolin: Kesehatan tidak bisa dipisahkan dari faktor lain. Kalau kita bicara kesehatan,  kita tidak mungkin tidak bicara soal akses, soal pembiayaan, policy dan kebijakan politiknya. Hal inilah yang saat ini kami upayakan untuk terus ditingkatkan di Kalbar. Seorang kepala daerah harus peduli terkait kondisi kesehatan masyarakat.

SP:  Kenapa kesehatan begitu penting di mata Anda?

Karolin: Kesehatan itu tolak ukur keberhasilan suatu daerah. Bagaimana mau kerja jika sakit?  Bagaimana  mau pintar jika kondisi lingkungan tidak bersih, sanitasi buruk?  Dan yang juga penting, bagaimana tingkat kematian ibu dan bayi, berapa angka harapan hidup suatu daerah?  Jadi, hal yang paling sederhana ketika menjadi pimpinan di daerah itu, adalah memberikan perhatian khusus di bidang kesehatan.
 

SP:  Apa saja kendala utama di daerah-daerah Kalbar yang menjadikan penanganan masalah kesehatan terkesan rumit?  

Karolin: Pemahaman pemerintah daerah sendiri terhadap kebijakan-kebijakan mengenai kesehatan masih sangat kurang. Bidang kesehatan itu bukan cuma mengurus masyarakat demam, gak juga, tapi berkaitan dengan sanitasi, higienitas masyarakat, dan lingkungan. Tidak banyak pemangku kebijakan yang paham mengenai permasalahan  ini.
Dan tidak mungkin jika saya sewaktu-waktu bisa mengintervensi faktor-faktor itu. Tapi sejauh ini,  saya masih mencoba untuk mengingatkan,  meningkatkan kesadaran, mencoba untuk mengajak seluruh pihak, baik pemerintah provinsi, kabupaten,  kota, birokrat, hingga perangkat di bawahnya. 

Masalahnya, persoalan di bidang kesehatan sangat kompleks. Ditambah lagi dengan kondisi sumber daya manusia kita masih di bawah. Makanya kami bersama pemerintah provinsi selalu mengingatkan pemerintah daerah di kabupaten untuk terus menangani masalah itu. 



SP: Selama duduk di Komisi IX DPR RI yang membidangi masalah kesehatan,  apa saja yang sejauh ini sudah Anda lakukan?
 

Karolin: Nah itu. Kalbar secara umum adalah satu di antara empat provinsi yang pencapaian kenaikan indeks prestasi manusia(IPM)-nya cukup signifikan. Beberapa rumah sakit daerah juga akan segera dibangun di Kalbar. Saya kira,  inilah sedikit buah yang bisa kita petik dari perjuangan kami selama ini di Senayan.


SP: Anda adalah satu di antara sedikit wanita Kalbar yang terjun ke dunia politik dan berhasil. Apa sebenarnya yang mendorong Anda berpolitik?  

Karolin: Saya berasal dari keluarga politik. Jadi,  tidak aneh walaupun  dulu setelah selesai kuliah, sempat jadi PNS.  Tapi soal ketertarikan di dunia politik,  saya kira sejak zaman mahasiswa,  saya aktif di organisasi kemahasiswaan. Malah sejak SMP, saya ketua OSIS. Intinya, saya senang hidup sosial bermasyarakat.  

SP:  Bagaimana sampai Anda memutuskan untuk keluar dari PNS dan terjun ke dunia politik? 

Karolin: Saat itu menjelang Pemilu Legislatif 2009, tingkat partisipasi wanita dalam ikut pemilu masih sangat sedikit. Saya ditawari oleh ayah saya untuk maju sebagai anggota DPR RI. Setelah keluarga besar setuju,  akhirnya saya putuskan untuk ikut mencalonkan diri. Sampailah hingga sekarang.

SP: Terkait pilkada serentak kemarin, PDIP di Kalbar mengalami kekalahan di sejumlah daerah. Sebagai ketua badan pemenangan pemilu, apa tanggapan Anda?

Karolin: Partai akan segera melakukan evaluasi menyangkut kekalahan di sejumlah daerah itu. Kami pikir,  permasalahan utamanya adalah pelemahan terhadap Mahkamah Konstitusi. Dengan aturan yang ada, dan undang-undang yang baru, sangat terbatas sekali hak-hal yang kita perkarakan di MK. Sementara kondisi di lapangan begitu kompleks. (pat)