Karolin: Sistem Screening Anggota Polri Perlu Dievaluasi

Nasional

Editor sutan Dibaca : 995

Karolin:  Sistem Screening Anggota Polri Perlu Dievaluasi
Anggota DPR RI, Karolin Margret Natasa
JAKARTA, SP - Menyoal peristiwa menggemparkan yang terjadi di Kabupaten Melawi Kalimantan Barat, di mana seorang oknum anggota kepolisian, Brigadir Petrus Bakus,  memutilasi kedua anak kandungnya, Jumat (26/2) dini hari.

Anggota DPR RI, Karolin Margret Natasa mengatakan, kejadian itu hendaknya menjadi evaluasi serius bagi keluarga besar Kepolisian Republik Indonesia umumnya dan Polda Kalbar khususnya, agar betul-betul mengevaluasi sistem Screening anggota dan deteksi dini terhadap masalah kejiwaan bagi anggota Polri.

"Karena pekerjaan mereka memiliki tingkat stres yang tinggi sehingga anggota Polda Kalbar khususnya perlu dievaluasi kejiwaannya secara berkala," kata Karolin, kepada Suara Pemred di Jakarta, Jumat (26/2).

Selain itu, dikatakannya pula, bahwa sistem perekrutan anggota Polri yang masih terbilang buruk. Dengan diketahui penyakit kejiwaan itu sejak dini, kenapa tidak terdeteksi melalui tes psikologi dan kesehatan saat mendaftar.

"Akan jadi aneh kenapa orang yang memiliki penyakit kejiwaan dapat lulus sebagai Polisi. Dan kenapa juga tidak diantisipasi sejak awal. Padahal kalau meminum obat terkontrol dan rutin, dapat sembuh," ungkapnya.

Jika dugaan sementara, pelaku mengidap Schizophrenia, seharusnya keluarga dapat mengantisipasi hal itu sejak dini. Dengan melakukan perawatan-perawatan intensif dan teratur. Sebab, penyakit tersebut berkaitan erat dengan gangguan jiwa yang bersangkutan dan biasanya kata Karolin, mereka sering mengalami halusinasi.

"Seandainya masyarakat dan keluarga memiliki awareness yang baik terhadap penderita gangguan kejiwaan pelaku, tentu dapat dirawat sejak dini dan hal ini bisa dicegah. Tapi terlepas dari itu saya turut berduka sedalam-dalamnya bagi keluarga korban," ujarnya.

Anggota DPR yang menyandang gelar dokter ini, mengatakan, bahwa Schizophrenia merupakan penyakit kejiwaan. Mereka yang mengidap, katanya, kadangkala tidak bisa membedakan mana yang nyata dan mana yang asli.

"Kalau memang benar pelaku ada gangguan jiwa dan mengidap Schizophrenia, perlu adanya semua elemen masyarakat yang terlibat untuk mensosialisasikannya. Agar peristiwa seperti ini tidak terluang," ujarnya.

Masyarakat Indonesia sendiri, dan Kalbar pada khususnya, Karolin mengungkapkan, memiliki kesadaran akan masalah gangguan jiwa di Indonesia masih sangat jauh dari harapan.

Walaupun kata dia, saat ini sudah ada Undang-undang tentang kesehatan jiwa. "Kasus Melawi merupakan salah satu contoh yg menyedihkan,"

Lebih lanjut, penyebab terjadinya Schizophrenia, menurut dia, umumnya dari faktor genetik dan lingkungan. Namun hal kata dia, tidak bisa hanya disebabkan oleh satu faktor saja, harus ada kombinasi dari keduanya.

"Bisa saja ada keturunan, Schizophrenia dapat hidup normal. Nah biasanya ditambah dengan faktor lingkungan, keadaan itu bisa muncul. Intinya kombinasi tak dapat dipastikan oleh faktor tunggal," katanya.

Jika benar dugaannya adalah gangguan jiwa yang disebabkan Schizophrenia, ucap Karolin, maka dia menampik ada dugaan bahwa pelaku tengah melakukan ritual-ritual ilmu gaib. "Gaib nggak ada dalam kamus kedokteran. Gangguan jiwa ini ilmiah. Tapi sekali lagi, jika peristiwa ini terjadi akibat pelaku mengalami hal itu," tambahnya. (ang)