BNN: Malaysia Produksi Narkotika Jenis Sabu

Nasional

Editor sutan Dibaca : 1234

BNN: Malaysia Produksi Narkotika Jenis Sabu
Peta Perbatasan Indonesia dengan Malaysia (www.kaskus.co.id)
JAKARTA, SP- Badan Narkotika Nasional (BNN) menyatakan, narkotika jenis sabu yang beredar di wilayah Indonesia adalah, produksi negara tetangga Malaysia.

Deputi Pemberdayaan Masyarakat Badan Narkoba Nasional, Irjen Pol Bahtiar H Tambunan di Kendari mengatakan, bahan baku untuk memproduksi sabu berasal dari Tiongkok.

"Berdasarkan penelusuran bahwa, bahan baku sabu sabu berasal dari Tiongkok. Di produksi di Malaysia dan pasarannya di Indonesia," kata Bahtiar, kemarin.

Indonesia dipilih sebagai sasaran pasar narkotika, karena jumlah penduduknya yang besar dan wilayah yang luas dibandingkan dengan negara-negara seperti Singapura, Brunei, dan negara lainnya.

Hal ini harus disadari oleh warga negara Indonesia tanpa kecuali jika mau selamat dari kehancuran. "BNN terus menggalang dan mengimbau seluruh elemen bangsa, untuk menangkal narkotika yang mengancam generasi bangsa," kata Bahtiar.

Ia menyebutkan, Narkotika yang diproduksi di Malaysia masuk wilayah Indonesia melalui jalur transportasi darat dan laut. Sebagian kecil melalui bandar udara. Indonesia membangun sinergi dengan negara-negara tetangga, mencegah dan memberantas narkoba.

Namun kepekaan dan kesadaran tidak mengedarkan atau memakai narkoba, harus dibangun dari warga negara Indonesia sehingga tidak menggiurkan bagi negara pemasar.

Kepala BNN Komisaris Jenderal Budi Waseso mengatakan, saat ini jaringan perdagangan narkotik dunia membidik Indonesia sebagai pangsa pasar utama, karena memiliki jumlah penduduk produktif cukup banyak dan kehidupan sosial masyarakat yang terbilang bisa menerima.

"Sabu di dunia ini asalnya dari Tiongkok, Taiwan, Pakistan, dan sejumlah negara Eropa, semuanya lari ke Indonesia. Bahkan yang di Australia juga pintu masuknya dari Bali dan Yogyakarta," kata Budi Waseso di Palembang.

Ia yang hadir dalam dialog interaktif "Perang Melawan Narkoba" bersama ribuan mahasiswa Universitas Islam Negeri Raden Fatah ini, mengatakan berdasarkan peta jalur perdagangan narkotik milik BNN diketahui bahwa, sabu itu selalu transit di Malaysia dan Singapura.

Kemudian, benda haram itu masuk ke Indonesia melalui sejumlah pelabuhan laut tidak resmi, atau dikenal dengan sebutan pelabuhan tikus.

 "Indonesia ini negara kepulauan, dan di sinilah celahnya sehingga sulit sekali memberantas dari sisi suplai.  Celakanya, ketika barang masuk pelabuhan tikus, warga yang mengetahui cenderung mendiamkan saja atau tidak melaporkan," kata dia.

Belum lama ini, BNN membekuk jaringan narkotik dunia asal Afrika yang masuk ke Indonesia melalui pelabuhan tikus di Aceh dan Medan. Dalangnya berada di Malaysia dan Singapura. Terkait hal itu, soal dugaan negara tetangga turut memuluskan narkotik masuk ke Indonesia, Buwas mengatakan hingga kini belum ada bukti.
"Sejauh ini Indonesia masih berpikir positif karena narkoba ini sudah disepakati seluruh negara di dunia, sebagai suatu kejahatan yang harus diperangi bersama," kata dia.

Hanya saja, ia tidak menampik dugaan pemerintah Indonesia mengenai adanya suatu desain besar yang ingin menghancurkan generasi muda Indonesia.

"Setiap warga negara asing yang tertangkap selalu negatif jika dites urine, berbeda dengan bandar asal Indonesia yang pasti positif. Ini menunjukkan bahwa pengedar narkoba ini benar-benar ingin merusak generasi muda Indonesia, jika bisa menghilangkan satu generasi," kata Buwas.

Berdasarkan data BNN, terdapat 40-50 orang meninggal setiap hari karena ketergantungan dengan narkotik. Saat ini Presiden Joko Widodo sudah menyatakan negara dalam darurat narkotik dengan jumlah pengguna aktif mencapai lima juta orang. (ant/lis)