Ketua Komnas PA Minta DP Segera Ditahan

Nasional

Editor sutan Dibaca : 918

Ketua Komnas PA Minta  DP Segera  Ditahan
Ketua Komnas PA, Arist Merdeka Sirait. (Antara/Nyoman Budhiana)
PONTIANAK, SP - Oknum dosen Fakultas Ekonomi Untan berinisial DP, Kamis (23/6), telah ditetapkan sebagai tersangka oleh Polresta Pontianak,  atas dugaan pencabulan terhadap VS (16), siswi salah satu SMKN di Pontianak.

Meski sudah ada alat bukti, namun DP hingga saat ini tidak ditahan oleh pihak Polresta Pontianak, melainkan hanya wajib lapor saja.

Hal ini mendapatkan reaksi keras dari Ketua Umum Komisi Nasional  Perlindungan Anak (Komnas PA), Arist Merdeka Sirait. "Kalau sudah ada dua alat bukti yang dimiliki penyidik, tidak ada alasan polisi tidak menahan," ujar Merdeka, melalui SMS kepada Suara Pemred, Senin (27/6)

Merdeka menyebutkan, kejahatan seksual merupakan kejahatan luar biasa. Ancaman hukumannya minimal 5 tahun dan maksimal 15 tahun penjara. Maka dari itu, penanganan kejahatan ini tidak boleh biasa saja, melainkan mesti secara luar biasa pula. "Komisi Nasional Perlindungan Anak mendesak, agar penyidik Polri yang menangani perkara kejahatan seksual ini, segera menahan dan mengajukan berkas perkaranya ke JPU," tegas Merdeka.

Sementara itu, Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Kalbar, Husnan menyatakan, belum ditahannya DP padahal yang bersangkutan sudah berstatus sebagai tersangka, menunjukkan indikasi penegak hukum lemah. "Indikasinya begitu. Kalau memang tegas, harusnya setelah berstatus tersangka langsung ditahan," katanya.

Beberapa kasus serupa, penanganan oleh Polresta Pontianak kadang kala cukup cepat. Sebut saja kasus pemerkosaan di Gang Bestari, Sungai Raya Dalam. Setelah mendapatkan laporan, tersangka langsung diciduk dan ditahan. "Nah, harusnya DP diperlakukan sama seperti tersangka lainnya. Jangan sampai hal ini membuat preseden buruk bagi Polresta," tutur Husnan.

Sebelumnya, penetapan DP sebagai tersangka itu, setelah dicecar 39 pertanyaan dari Tim Penyidik Polresta dan berdasarkan hasil dari prarekonstruksi yang telah dilakukan, serta sejumlah alat bukti yang telah diperoleh.
"Alasan prarekonstruksi yang kita lakukan, kemudian alat-alat bukti yang mendukung mengarah pada perbuatan, alat bukti saksi 184 itu, alat bukti permulaan yang cukup," ujar Wakapolresta Pontianak, AKBP Veris Septiansyah kepada wartawan, di ruang kerjanya, Kamis (23/6). (umr/lis/sut)