Langganan SP 2

Didakwa Menista Agama, Ahok Menangis

Nasional

Editor Soetana hasby Dibaca : 402

Didakwa Menista Agama, Ahok Menangis
Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). (SP/NET)
JAKARTA, SP – Gubernur nonaktif DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) menangis di ruang sidang Pengadilan Negeri Jakarta Utara, setelah mendengarkan dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU). Ahok didakwa melanggar peraturan Pasal 28 huruf D ayat 1 dan Perkap Nomor 8 Tahun 2009 Pasal 3. Juga Pasal 156 huruf a KUHP.

Sidang kasus penistaan agama Islam oleh terdakwa Ahok, Selasa (13/12) pagi, mulai digelar. Sidang dipimpin Ketua PN Jakarta Utara Dwiarso Budi Santiarto dengan anggota hakim Jupriyadi, Abdul Rosyad, Joseph V Rahantoknam, dan I Wayan Wirjana, dengan agenda mendengarkan dakwaan jaksa, dan eksepsi dari terdakwa.

Mengenakan batik berlengan panjang, terdakwa Ahok duduk di kuris pesakitan. Jaksa Penuntut Umum Ali Mukartono menyatakan tindak pidana terjadi saat Ahok berkunjung ke Kepulauan Seribu pada 27 September 2016. Dalam pertemuan dengan warga itu, kata jaksa, Ahok mengaitkan dengan Surah Al-Maidah ayat 51 dengan Pilgub DKI Jakarta. 

Berikut cuplikan pernyataan Ahok di Kepulauan Seribu yang disebut jaksa menodai kitab suci Al-Quran, seperti dilansir cnnindonesia.com:

Ini kan dimajuin jadi kalau saya tidak terpilih pun saya berhentinya Oktober 2017. Jadi kalau program ini kita jalankan baik, saya yakin bapak ibu masih sempat panen sama saya sekalipun saya tidak terpilih jadi gubernur. Jadi cerita ini supaya bapak ibu semangat, jadi nggak usah pikiran ah nanti kalau nggak terpilih pasti Ahok programnya bubar, enggak saya sampai Oktober 2017.

Jadi jangan percaya sama orang, kan bisa saja dalam hati kecil bapak ibu nggak bisa pilih saya ya kan? dibohongi pakai Surat Al Maidah 51, macam-macam itu. Itu hak bapak-ibu ya. Jadi kalau bapak-ibu perasaan enggak bisa kepilih nih, karena saya takut masuk neraka karena dibodohin gitu ya, enggak apa-apa.

Jaksa melanjutkan, meskipun kunjungan terdakwa tidak berkaitan dengan Pilgub DKI Jakarta, tetapi terdakwa terdaftar sebagai salah satu cagub. Menurut jaksa, perkataan terdakwa tersebut seolah-olah surat Al Maidah 51 telah dipergunakan oleh orang lain untuk membohongi atau membodohi masyarakat dalam pemilihan kepala daerah.

 “Terdakwa sendiri yang mendudukkan atau menempatkan surat Al Maidah 51 sebagai alat atau sarana untuk membohongi dan membodohi dalam proses pemilihan kepala daerah," ujar jaksa. 

Ahok menepis dakwaan Jaksa Penuntut Umum. "Apa yang saya utarakan di Kepulauan Seribu bukan dimaksudkan untuk menafsirkan apalagi berniat menista agama Islam, dan juga bukan berniat menghina para ulama," kata Ahok, dalam eksepsinya.

Ruang sidang tiba-tiba menjadi dramatis ketika Ahok menangis membacakan eksepsi atau nota keberatan atas dakwaan jaksa. “Sebagai orang yang hidup di lingkungan agama Islam, sangat tidak mungkin saya menghina agama Islam dan menghina ulama. Yang saya sampaikan adalah kenyataan yang sungguh-sungguh terjadi. Saya harap bisa membuktikan tidak ada niat saya untuk melakukan penistaan terhadap agama Islam,” ujar Ahok.

Dalam nota keberatannya, Ahok pun menceritakan kilas balik perjalanan hidupnya bersama keluarga angkatnya, Haji Baso Amir dari Bugis di Makassar, Sulawesi Selatan.  "Saya sangat sedih dituduh menista agama Islam. Tuduhan itu sama saja saya menista orang tua angkat saya sendiri," kata Ahok seperti diberitakan detik.com.

Usai mendengarkan dakwaan Jaksa Penuntut Umum dan eksepsi terdakwa. Majelis hakim menunda persidangan dan dilanjutkan pada Selasa (20/12) pekan depan. Selama persidangan perdana Ahok digelar, massa pendukung dan kontra Ahok berjubel di luar gedung pengadilan. (has)
 
Baca Juga:
Jumat, Polri Akan Limpahkan BAP Ahok
Demo 212 Aman, Presiden Jokowi Pekik “Allahu Akbar”

Pagi Menjelang Aksi Demo 212, Polisi Tangkap 10 Tokoh