Gempa Pidie, Ini Kata Ahli Soal Banyak Bangunan Roboh

Nasional

Editor Soetana hasby Dibaca : 591

Gempa Pidie, Ini Kata Ahli Soal Banyak Bangunan Roboh
LIHAT KERUSAKAN - Presiden melihat langsung bangunan Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Aziziyah yang roboh terkena dampak bencana gempa bumi, Jumat (9/12). (SP/@KSPgoid)
PIDIE JAYA, SP – Hingga pekan pertama pasca gempa di tiga kabupaten Provinsi Aceh, tercatat 845 bangunan roboh akibat lindu dengan kekuata 6,4 SR, Rabu (7/12) lalu.  Verifikasi kerusakan atas bangunan di Kabupaten Pidie Jaya, Bireuen dan Kabupaten Pidie masih terus dilakukan guna mengklasifikasikan tingkat kerusakan.

Sampai Sabtu (17/12), tercatat bangunan yang alami kerusakan masjid 65 unit, meunasah 160 unit, rumah toko 357, kantor pemerintahan 30 unit, sekolah 139, pasar 11, jembatan 83 dan jalan sepanjang 88,5 kilometer.

Kementerian Pekerjaan Umum Dan Perumahan Rakyat (Kemen PU Pera) menyebutkan kerusakan bangunan baik pasar, rumah, masjid maupun lainnya disebabkan banyak faktor. Di antaranya struktur bangunan yang salah, besi tidak memenuhi standar, tidak ada tulangan geser dan faktor lainnya.

“Faktor kualitas mutu bangunan, kerikil yang bulat bukan batu pecah, besi tulangan polos bukan ulir, menyebabkan bangunan rusak,” ujar Sutarji dari Kemen PU Pera di Posko Utama Pidie Jaya.

Sutarji menyebutkan, khusus pada bangunan masjid yang roboh, setelah dilakukan pemeriksaan seksama, diakibatkan beban kubah yang sangat berat, dan tidak ditopang dengan pondasi yang bagus.

Sementara bangunan rumah warga yang roboh, lantaran pondasi dan tulangan yang didesain untuk satu tingkat (lantai), ternyata dibangun menjadi 2-3 lantai.

Mansyur Insyam dari Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia, mengungkapkan percepatan getaran gempa yang telah diukur dan dianalisis BMKG membuktikan bahwa percepatan maksimal terjadi pada bangunan 2-3 lantai.

“Percepatan puncak terjadi pada bangun 2-3 lantai, percepatan mencapai 5 kali dibandingkan pada pondasi,” ujar Mansyur.

Izin pendirian bangunan tahan gempa perlu mendapatkan perhatian secara khusus, agar gempa yang mungkin terjadi dapat diminimalkan dampak dan korbanya.

Geologi lokasi gempa sebagian besar adalah sedimen pasir, sehingga jika terjadi gempa, pasir memadat menekan air dan air menekan balik sehingga keluarlah lumpur pada rekahan gempa seperti yang terjadi di beberapa tempat. (has/rel)

Baca Juga:
Menteri Enggartiasto Optimis Ekspor Indonesia 2017 Naik 
Final AFF 2016, Presiden Jokowi Janjikan Bonus Rp 12 Miliar 

BPBD Sekadau Sebutkan Wilayah Potensi Terjadi Bencana