Haul ke-7 Gus Dur, Presiden Jokowi: Saya Percaya Gus Dur Gemes Kepada…

Nasional

Editor Soetana hasby Dibaca : 589

Haul ke-7 Gus Dur, Presiden Jokowi: Saya Percaya Gus Dur Gemes Kepada…
SINDIRAN GUS DUR - Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengutip sindiran Gus Dur (KH. Abdurrahman Wahid), 'kayak anak TK' di akun twitter resminya. (SP)
JAKARTA, SP – Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyatakan, yakini bila  almarhum KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) masih ada, akan gemes dan geregetan kepada kelompok orang yang meremehkan konstitusi.

"Saya percaya Gus Dur gemes, geregetan, sekelompok orang meremehkan konstitusi, mengabaikan konstitusi yang mengabaikan kemajemukan kita," ujar Presiden Jokowi.

Presiden percaya Gus Dur tak akan suka jika ada sekelompok orang yang memaksakan kehendak dengan aksi kekerasan, termasuk radikalisme dan terorisme, yang akhir-akhir ini banyak terjadi.

"Terutama yang ada di media sosial maupun di dunia nyata. Kita sudah lupa atau lalai, atau tidak mengerti. Tidak bisa membedakan mana yang kritik, mana yang menghina. Mana yang kritik, mana yang menjelekkan. Mana yang kritik, mana yang menghasut," tegas Presiden.

Jika hal itu diteruskan, kata Presiden, energi akan lebih banyak habis untuk hal-hal yang tidak perlu sehingga strategi besar negara justru dilupakan untuk menyejahterakan masyarakat, membangun ekonomi, industri, dan membuka lapangan pekerjaan.

"Kalau almarhum Gus Dur masih ada, memberi tahu kita. Kita ini masih kayak anak TK. Pasti digitukan oleh Gus Dur," ujar Jokowi dalam Haul ke-7 KH. Abdurrahman Wahid dan Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Ciganjur, Jakarta, Jumat (23/12) malam.

Menurut dia, Gus Dur telah mampu menjadi sosok yang menerobos sekat primordialisme sehingga patut untuk diteladani kerelaannya termasuk dalam melayani masyarakat, hingga berkorban untuk bangsa dan negara sampai akhir hayat.

"Sikap itu sejalan dengan kelahiran Nabi Muhammad, yang menuntun manusia mulia dan menebar rahmat bagi seluruh alam," katanya.

Presiden juga menegaskan bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah milik bersama dan bukan milik golongan atau perseorangan.

"Karena itu harus dikelola dengan konstitusi, dengan aturan konstitusi bukan lainnya," imbuh Presiden. (has/ant)

Baca Juga:
Program Kotaku Utamakan Kawasan Pemukiman Kumuh Parit Nanas

Oesman Sapta: Hanura Mulai Jadi Partai Besar

Dipilih Secara Aklamasi, Suryadi Aspan Solidkan Basis Jelang Pilgub