Tradisi "Tumpeng Jongko" Masyarakat Magelang

Nasional

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 69

Tradisi
TUMPENG JONGKO - Warga di kawasan Gunung Andong, Magelang, Jawa Tengah, menggotong Tumpeng Jongko. Ritual itu sekaligus mendoakan pernikahan putri Presiden Joko Widodo, Kahiyang Ayu dengan Bobby Nasution di Solo. (Antara Foto)

Doakan Pernikahan Kahiyang Putri Presiden


Tradisi saparan "Tumpeng Jongko" oleh masyarakat kawasan Gunung Andong di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Rabu, sekaligus untuk mendoakan pernikahan putri Presiden Joko Widodo, Kahiyang Ayu dengan Muhammad Bobby Nasution di Solo.

SP - Tradisi masyarakat setempat di Dusun Mantran Wetan, Desa Girirejo, Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang itu ditandai dengan kirab jalan kaki dari jalan di ujung dusun dengan membawa tandu berisi tumpeng nasi dihiasi berbagai sayuran menuju rumah kepala dusun setempat, Trihandoko.

Ratusan warga mengikuti kirab itu dengan masing-masing membawa ingkung dan nasi tumpeng bersama sayuran dan lauk pauk.

Mereka kemudian meletakkan berbagai bekal dalam tradisi saparan itu di panggung yang juga tempat pementasan wayang kulit, dalam rangkaian agenda dusun setempat tersebut.

Tradisi saparan "Tumpeng Jongko" diselenggarakan setiap tahun bertepatan dengan Hari Rabu Pahing setiap Bulan Sapar dalam kalender Jawa.

"Sarapan 'Tumpeng Jongko' kali ini bertepatan waktunya dengan pernikahan putri Bapak Presiden Jokowi kita. Sekaligus kita mendoakan mempelai berdua supaya bisa membangun keluarga yang 'sakinah, mawaddah, dan wa rahmah'," kata seorang tokoh warga yang juga pimpinan seniman petani Padepokan Andongjinawi Dusun Mantran Wetan, Supadi Haryanto, saat berbicara di hadapan warga setempat.

Ia menyebut keikutsertaaan warga setempat dalam kebahagiaan keluarga Presiden Jokowi karena sedang menggelar hajatan mantu tersebut di Kota Solo, Jateng.

"Kita 'mangayubagyo' (ikut bergembira dan mendoakan, red.). Semoga acara pernikahan berjalan dengan lancar dan membuat kegembiraan semua orang," ujarnya dengan menggunakan bahasa Jawa.

Doa secara Islami dalam tradisi warga Mantran Wetan itu dipimpin oleh kaum dusun, Mohammad Thohir, selama beberapa saat berlatar belakang Gunung Andong yang langit di atasnya terlihat cerah.

Dengan pelaksanaan tradisi tersebut, masyarakat mengharapkan kehidupannya makin makmur dan sejahtera, serta jauh dari berbagai marabahaya.

"Warga selalu sehat, mudah dalam mencari penghidupan, anak-anak juga rajin belajar untuk mencapai cita-citanya. Selain itu warga terus menjalani kehidupan berkesenian dan menjaga lingkungan alam pertanian dengan saksama," tutur Kepala Dusun Mantran Wetan Trihandoko.

Rangkaian tradisi saparan yang menjadi pesta desa hingga Jumat (10/11) itu, antara lain ditandai dengan pementasan wayang kulit dengan mengundang dalang dari Kecamatan Pakis, Triyono.

Selain itu, mereka juga mementaskan beberapa kesenian tradisional, seperti Jaran Kepang Papat, Kuda Lumping, Topeng Ireng, Satriyo, dan Warok. Puluhan pedagang juga menggelar dagangan mereka di bawah lapak-lapak yang didirikan di tepi kanan dan kiri jalan dusun. (antara/lis)

Komentar