Pernikahan Warga Banjar, Kalsel

Nasional

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 39

Pernikahan Warga Banjar, Kalsel
Ilustrasi Prosesi Pelaksanaan Balawang Tujuh di Balangan. (Sumber Foto: Roly Supriadi/Hms)

Tradisi "Balawang Tujuh" Perkawinan Janda-Duda


Tradisi "Balawang Tujuh" sejatinya merupakan perkawinan bagi seorang janda dan duda, yang melangsungkan pernikahan kembali, dan menginginkan kehidupan rumah tangganya yang baru akan harmonis hingga akhir hayat.

SP - Balawang Tujuh merupakan istilah dalam Bahasa Banjar, Kalimantan Selatan yang diambil dari kata "Lawang" artinya pintu, dan "Tujuh" merupakan jumlah dalam hitungan. Balawang Tujuh dapat diartikan dengan Tujuh Pintu yang harus dilewati.

Dalam sebuah lagu dengan judul Balawang Tujuh, ciptaan seniman dan budayawan Kabupaten Balangan, Kalsel Syarkawi A, tersirat banyak makna dan arti serta pesan dalam lirik mengenai tradisi Balawang Tujuh.

"Pung pung halu garagicak giang giang, asal jangan bemadu dihadangi malam siang. Pung pung halu garagicak giang giang takumpul bada balu jangan behiri nang bujang".

Penggalan bait di atas, bermakna pengantin perempuan tidak ingin dimadu, dan siap mengabdikan diri pada suami baik malam maupun siang.

Hal tersebut juga bermakna sebagai kehidupan baru, di mana secara umum umat Islam menjadikan waktu magrib sebagai awal waktu pergantian hari, maupun berkaitan dengan ibadah.

Dan bagi yang belum menikah atau masih bujangan, jangan iri karena janda dan duda (keduanya disebut balu) kini disatukan oleh sebuah pernikahan.

"Baliliukan balawang tujuh, diarak malam bagunung api, musik pangiring si suling karuh, musik panting di Batumandi".

Pada bait ini dimaknai dengan adanya tujuh kelokan pintu yang harus dilewati oleh pasangan pengantin yang biasanya dibuat dari bentangan tali, dengan tujuh kelokan atau dimaksudkan tujuh pintu, dan setiap tiang kelokan tersebut terdapat obor api.

Acara menjalani prosesi tersebut pun pada malam hari dengan ilustrasi sebuah gunung api dalam mengiringi pengantin lelaki untuk menuju persandingan mempelai wanita.

Kemudian suling karuh dan musik panting, merupakan sebuah alat musik tradisional di Kalimantan Selatan. Untuk wilayah Balangan, musik panting tersebut dulu digiati oleh masyarakat Kecamatan Batumandi, namun kini sudah banyak yang menggiatinya.

Alunan musik panting mengiringi prosesi arakan pengantin dalam melewati tujuh pintu tersebut.

Kini pada prosesi Balawang Tujuh, terkadang diiringi oleh musik panting, atau bahkan tanpa diiringi alunan musik.

Meskipun belum diketahui secara pasti asal muasal serta filosofi pasti yang terkandung dalam prosesi Balawang Tujuh tersebut.

Namun lewat berbagai sumber, penulis mulai mempelajari hakikat segala sesuatu mengenai prosesi Balawang Tujuh dengan logika, akal dan melalui berbagai prosesi tersebut yang masih dilaksanakan di beberapa desa di kabupaten berjuluk "Bumi Sanggam" itu.

Jalan Baliuk Ada dua prosesi yang sangat mirip, yaitu Balawang Tujuh dan Jalan Baliuk. Kedua tradisi ini sama-sama dilaksanakan pada malam hari dan di tanah lapang. Dan kedua mempelai memakai pakaian khas adat Banjar.

Namun jalan baliuk ini tidak untuk duda ataupun janda saja, melainkan kini dilaksanakan oleh semua pasangan yang melangsungkan resepsi perkawinan, namun menginginkan rumah tangga yang harmonis, sehingga prosesi tersebut dilaksanakan.

Daerah yang masih melaksanakan prosesi Balawang Tujuh adalah Kecamatan Lampihong, dan untuk prosesi Jalan Baliuk adalah Kecamatan Juai, serta desa-desa lainnya yang masih memegang erat tradisi budaya tersebut.

Adapun kepercayaan yang juga menyertai dalam prosesi pelaksanaan Balawang Tujuh, serta penggunaan pakaian khas adat banjar, adanya sebuah upeti mirip sesajen yang sering disebut "piduduk/pinduduk" berupa beras ketan, kelapa, telur, harum-haruman, dan lain-lain, dimaksudkan agar mendapatkan restu pula oleh orang-orang pendahulu.

Karena memang ada sebagian pengantin juga yang mengalami kesurupan saat melaksanakan Balawang Tujuh maupun ketika mengenakan pakaian khas adat Banjar ketika melangsungkan prosesi perkawinan.

Bagunung Api Pengantin pria diarak dalam sebuah gunung api, yang terbuat dari kumpulan obor menyerupai sebuah atap rumah, yang dimaksudkan sebuah gunung berapi.

Hal ini bermakna, untuk mendapatkan seorang mempelai dan mendapatkan rumah tangga yang kokoh, mempelai pria siap bekerja keras, bahkan rela untuk mendaki gunung, meskipun gunung tersebut adalah lautan api.

Makna lain yang terkandung di dalamnya juga memiliki arti bahwa, ketika kita sudah bersusah payah untuk mendapatkan seorang pendamping wanita, maka bimbinglah ia, sayangi dan hormati, jangan sampai disia-siakan, mengingat upaya serta usaha kita dalam mendapatkan jodoh.

Pengantin pria diarak dengan gunung api tersebut untuk menuju rumah mempelai wanita, ketika sudah sampai, pengantin pria keluar dari gunung api tersebut.

Kemudian seorang wanita baik itu seorang yang dihormati di desanya maupun orang tua mempelai wanita yang mendampingi menyampaikan kata bahkan pantun.

Dan disambut pula kata sambutan maupun balasan pantun menyambut kedatangan mempelai lelaki oleh pengiring mempelai wanita, baik itu orang yang ditunjuk atau dihormati maupun ibu dari mempelai wanita.

Kedua mempelaipun bersatu dan selanjutnya mempelai lelaki mengajak mempelai wanita berjalan bersama untuk melewati tujuh pintu atau tujuh kelokan berapi, yang disebut Balawang Tujuh. (antara/lis)