Bondan Winarno “Makyus” Mangkat

Nasional

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 66

Bondan Winarno “Makyus” Mangkat
Bondan Winarno. Net

Jurnalis Investigasi yang Jadi Pakar Kuliner


Tidak hanya pakar kuliner, mendiang Bondan Winarso dikenal sebagai jurnalis andal yang kepribadiannya dinilai patut diteladani. Salah satu hasil liputannya yang menjadi salah satu acuan peliputan investigasi hingga kini, adalah laporan mengenai skandal tambang emas Busang pada tahun 1997 yang kemudian dimuat dalam buku berjudul Bre X: Sebungkah Emas di Kaki Pelangi. 

SP - Hal itu diakui salah satunya oleh Pemimpin Redaksi Harian Tempo, Arif Zulkifli. "Yang sangat fenomenal yaitu investigasinya tentang Busang," kata Arif, Rabu (29/11).

Menurut Arif, investigasi yang berjudul "Busang dan Bre-X, Skandal Penipuan Terbesar dalam Dunia Pertambangan RI" itu terbilang berani. Sebab, investigasi tersebut menceritakan tentang kebohongan-kebohongan Busang. 

Tidak hanya itu, Arif juga memuji tulisan-tulisan Bondan yang selalu disajikan dengan gaya khas selama mendiang menjadi kolumnis Rubrik Kiat Tempo, sekaligus pengasuh rubrik tersebut pada tahun 1984.  "Lalu saya juga rasa dia pelopor atau orang pertama yang berhasil membawa kuliner itu ke layar kaca. Kenikmatan lidah diangkat jadi visual ke layar kaca," jelas Arif.

Bagi Arif, setidaknya ada dua hal yang perlu diteladani dari pribadi Bondan sebagai sebagai seorang jurnalis. Pertama, kegemaran Bondan dalam membaca, lalu pribadinya yang mudah bergaul. "Baca dan gampang gaul, itu sih saya rasa yang patut diteladani," jelas Arief.

Bondan Winarno ternyata punya segudang prestasi di bidang kesastraan Indonesia. Bahkan prestasi ini diraihnya sebelum menginjak usia 17 tahun. Di usia 10 tahun, Bondan, yang lahir di Surabaya 29 April 1950, pernah menjuarai sayembara mengarang tingkat nasional majalah Si Kuncung pada 1960.

"Hadiahnya ‘hanya’ cukup untuk mentraktir sahabat saya, Lie Kian Hien, makan mi bakso di sebuah rumah makan Tionghoa," tulis Bondan, dikutip dari bagian pembuka buku kumpulan cerpen karangannya berjudul Petang Panjang di Central Park.

Kehidupannya sebagai seorang penulis pun dimulai dari situ. Sebab setelah itu, Bondan bekerja untuk harian Suara Merdeka dan Angkatan Bersenjata di Semarang. Ia menjadi stringer atau pemberita lepas dan penulis di dua media tersebut.

Pengalamannya sebagai penulis bertambah banyak sesudah cerita pendeknya, dimuat di majalah Varia. Majalah ini, seperti dituliskan Bondan, saat itu merupakan majalah hiburan yang populer. Hebatnya, pemuatan cerpen di majalah tersebut saat dia masih di bawah usia 17 tahun.

Tak hanya Varia, harian Indonesia Raya juga pernah memuat cerpennya. Selain cerpen, novel pun pernah dibikin Bondan. Ada tiga novel karangannya yang sudah dibukukan. 

"Dua di antaranya bahkan sudah difilmkan dengan bintang utama Widyawati dan Sophan Sophiaan. Salah satu karier awal saya ketika pindah ke Jakarta adalah sebagai penulis iklan (copywriter) di sebuah perusahaan periklanan terbesar," tulisnya.

Dari saat itu, Bondan mulai menapaki jalur kepenulisan di bidang yang lebih serius. Lingkungan hidup dan sosial, dua bidang yang ia geluti untuk dijadikan sebagai tulisan kolom. Orang-orang pun mengenalnya sebagai kolumnis lambat-laun.

"Majalah Tempo pun mengorbitkan saya hingga dikenal sebagai kolumnis dengan fokus manajemen dan wirausaha. Saya bahkan akhirnya memimpin wakil redaksi majalah SWA," tulis Bondan lagi.

Dalam kondisi itulah, bagi Bondan, menulis cerpen ibarat obat penawar atas kejenuhan karena terkungkung deadline. "Setiap kali saya jenuh dan lelah, menulis cerpen menjadi outlet yang menyegarkan jiwa," ungkapnhya.

Pak Bondan, begitu ia kerap disapa, mengembuskan nafas terakhirnya di Rumah Sakit Harapan Kita, Rabu (29/11) pukul 09.15 WIB. Ia meninggal disebut akibat serangan jantung. Jenazah mendiang rencananya dibawa ke rumah di Sentul City, Bogor, Jawa Barat, Rabu (29/11) siang. (republika/lis)