Sinar Mentari Terangi Rumah Kami

Nasional

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 210

Sinar Mentari Terangi Rumah Kami
PANEL SURYA - Seorang wanita membersihkan solar cell atau panel surya yang berlumut di Sumba Timur. (Antara)

Pemanfaatan Panel Surya di Sumba


Rumah berdinding beton itu tampak seperti rumah biasa, hanya berbentuk persegi panjang dengan pintu di tengahnya dan atap seng yang masih mengkilap. Di atas atap seng itu, berdiri panel surya (photovoltaic) untuk menangkap sinar matahari yang akan diubah menjadi energi listrik.

SP - Panel surya banyak ditemukan di sebagian besar rumah di Sumba, Nusa Tenggara Timur. Bisa dilihat dari atap rumah mereka yang dihiasi panel surya.

Tapi berbeda dengan rumah Mama Margaretha Katoda di Desa Delo, Kecamatan Wewewa, Kabupaten Sumba Barat Daya. Jika biasanya hanya memiliki panel surya di atap, di dinding ruang depan rumah Mama Margaretha terpasang panel pengisian daya untuk isi ulang.

Rumahnya bukan hanya difungsikan sebagai tempat tinggal, akan tetapi juga menjadi kios yang "menjual" energi sehingga dinamakan Kios Energi.

Kios Energi menjadi tempat warga mengisi ulang lentera surya mereka dengan energi matahari. Energi baru terbarukan itu juga dimanfaatkan untuk mengisi daya telepon genggam.

Warga hanya perlu membayar Rp2.000 untuk setiap kali mengisi ulang daya lentera surya. Jika ingin mengisi ulang baterai telepon seluler mereka juga tinggal membayar Rp2.000 untuk sekali pengisian ulang.

Menurut Mama Margaretha, setelah 300 kali pengisian ulang lentera surya, baru bisa menjadi milik masyarakat.

Saat ini ada 150 pelanggan Kios Energi Yofi Mayu milik Mama Margaretha. Untuk menjadi anggota, awalnya mereka hanya perlu membayar Rp50 ribu untuk satu lentera surya.

"Masyarakat tidak terbeban dengan membayar Rp2.000 sekali 'mengecash' (isi ulang, red.) bahkan jauh lebih senang karena tidak perlu ke pasar untuk membeli minyak tanah," katanya.

Minyak tanah digunakan masyarakat di daerah itu sebagai bahan bakar pelita untuk penerangan sebelum adanya lentera surya.

Keuntungan Bahkan, menurut dia, banyak keuntungan yang didapat dari memanfaatkan energi matahari, selain lebih sehat karena tidak ada emisi juga hemat karena jika menggunakan minyak tanah harus membeli ke pasar yang jaraknya cukup jauh dengan harga Rp10 ribu per liter.

Selain itu, dengan lentera surya mampu memberikan pencahayaan yang maksimal dalam waktu cukup lama, sekali mengisi ulang bisa digunakan untuk 3-4 hari.

Dengan penerangan pada malam hari, masyarakat bisa beraktivitas seperti mengayam, menenun, merontokkan padi, sedangkan anak-anak bisa belajar serta mengerjakan pekerjaan rumah pada malam hari.

Aktivitas pada malam hari juga akhirnya berdampak pada peningkatan ekonomi dari menjual anyaman dan tenun serta prestasi sekolah anak-anak juga meningkat.

Yang paling penting apabila digelar acara kedukaan, lentera surya sangat membantu sebagai penerangan untuk acara tersebut.

"Setelah lampu ada ini keuntungan besar yang kami rasakan karena di sini paling terang banyak orang ke sini dan dagangan kelontong lebih laku," kata Mama Margaretha yang juga memiliki toko kelontong di bagian kiri rumahnya.

Dari hasil isi ulang lentera surya dan telepon seluler, ia juga mampu memperbaiki rumahnya.

Hal senada dikatakan Albina Wini, warga Desa Wee Wula, di mana sebelum memiliki lentera surya, ia menggunakan genset untuk listrik.

"Semalam saya bisa habis Rp30 ribu untuk bahan bakar genset saja," ujar Albina.

Akan tetapi, dengan lentera surya, ia mengaku lebih hemat dan cahaya yang dihasilkan juga sangat terang serta tidak gampang rusak.

Untuk membangun panel surya dan kelengkapannya, mereka difasilitasi oleh Resco yang merupakan konsorsium Hivos, organisasi internasional yang memprakarsai Sumba Iconic Island pada 2010.

Dengan skema bisnis, Resco membangun serta memfasilitasi Kios Energi dan memberikan pendampingan agar masyarakat bisa merawat panel surya.

Kios Energi hanya menyetorkan Rp900 ribu setiap bulan ke Resco dengan jaminan jika lentera surya rusak diganti dan nantinya akan menjadi milik warga.

Potensi Koordinator Proyek Sumba Iconic Island Dedy Haning mengatakan Sumba memiliki banyak potensi energi baru dan terbarukan.

Ia merincikan potensi energi surya sebesar 10 MW, angin 10 MW, hidro 8,9 MW, biogas 8,9 juta meter kubik, dan biomassa 1 MW.

Hingga 2016 potensi energi baru dan terbarukan yang sudah dikelola lewat prakarsa Sumba Iconic Island baru terealisasi 6,76 MW, dengan rincian tenaga surya 39 terpusat, 14 ribu tersebar, 14 pembangkit mikrohidro, 100 pembangkit tenaga angin, 2.000 tungku masak biomassa, 480 PJU tenaga surya, tiga unit pembangkit biomassa, dan 1.000 instalasi biogas rumah tangga.

Jetty Arlenda Maro dari Resco mengatakan untuk menjadi pemilik Kios Energi harus memiliki kriteria mempunyai kios sembako, dekat dengan pemukiman masyarakat, dan tentunya bersedia bergabung dengan proyek tersebut.

"Kita fasilitasi semua, sistem kita titip ke kios mama, jadi sistemnya bukan hanya menguntungkan sendiri. Kita hanya tarik biaya member sebesar Rp50 ribu dan biaya pengechasan," jelas Jetty.

Melalui Kebijakan Energi Nasional (KEN) pemerintah telah berkomitmen untuk mengoptimalkan penggunaan energi terbarukan dalam rangka pencapaian target sebesar 23 persen pada 2025. (antara/lis)