Kasus Campak-Gizi Buruk Asmat

Nasional

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 152

Kasus Campak-Gizi Buruk Asmat
DITANGANI - Prajurit TNI dan tenaga medis menggunakan kapal saat pelepasan menuju distrik di Pelabuhan Agats, Kabupaten Asmat, Papua, Minggu (28/1). (Antara Foto)

Pemerintah Lakukan Segala Upaya Penanganan 


Wabah campak dan gizi buruk di Kabupaten Asmat, Provinsi Papua menjadi perhatian masyarakat Indonesia, apalagi sudah ditetapkan sebagai kejadian luar biasa oleh pemerintah. Berbagai daya dikerahkan untuk mengatasi permasalahan yang ada di salah satu wilayah di provinsi paling Timur Indonesia itu. Penanganan campak dan gizi buruk melibatkan berbagai kementerian dan lembaga yang ada.

SP - Untuk mengoordinasikan penanganan campak dan gizi buruk di wilayah tersebut, pemerintah telah mengadakan rapat koordinasi di bawah Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan.

Segala upaya untuk mengatasi kejadian luar biasa campak dan gizi buruk tidak akan maksimal bila tidak ada dukungan dari seluruh rakyat Indonesia, yang direpresentasikan oleh DPR.

Karena itu, pada Kamis, DPR mengundang perwakilan pemerintah dalam rapat konsultasi untuk membahas penanganan kejadian luar biasa campak dan gizi buruk di Asmat.

Rapat konsultasi pemerintah dengan pimpinan DPR dipimpin Wakil Ketua DPR Koordinator Bidang Kesra Fahri Hamzah dengan dihadiri Wakil Ketua DPR Fadli Zon, Ketua Komisi IX Dede Yusuf, Wakil Ketua Komisi IX Syamsul Bachri, Wakil Ketua Komisi IX Ermalena dan sejumlah anggota lain.

Menteri yang hadir pada rapat konsultasi itu adalah Menteri Sosial Idrus Marham, Menteri Kesehatan Nila F Moeloek, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Yembise, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono dan Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Ancandra Tahar.

Menteri Sosial Idrus Marham, yang memimpin perwakilan pemerintah pada rapat tersebut, mengatakan kondisi alam sangat berpengaruh pada cara hidup dan kehidupan mereka yang rentan terkena penyakit Masyarakat Asmat yang terkena campak dan gizi buruk tinggal di wilayah yang terisolasi dengan kondisi alam sebagian besar berupa rawa-rawa.

Kondisi itu membuat cara hidup dan kehidupan mereka menjadi rentan terkena penyakit. Misalnya, rumah dibangun di atas rawa dan meminum air hujan tanpa dimasak. Karena tanahnya rawa-rawa, mereka bergantung pada tadah hujan dalam mencukup kebutuhan air. Makanan utama mereka adalah sagu, ubi dan talas.

Pola kehidupan mereka juga menyebar, tidak berkumpul, yang ada di 23 distrik. Sebagian besar dari mereka hidup berpindah-pindah. "Mereka bekerja untuk mendapatkan makanan. Setelah ada makanan, mereka berhenti bekerja. Setelah makanan habis, baru bekerja lagi," tuturnya.

Perkembangan terakhir penanganan kejadian luar biasa campak dan gizi buruk di Kabupaten Asmat adalah terdapat 72 orang meninggal dunia. Dari penelurusan tim di 196 kampung di 22 distrik yang ada di Kabupaten Asmat, sudah ada 12.883 anak yang terlayani.

Menteri Kesehatan Nila F Moeloek mengatakan gizi buruk dan campak di Asmat bukan hanya masalah kesehatan tetapi permasalahan hilir yang disebabkan oleh banyak faktor.

Faktor layanan kesehatan hanya menyumbang 20 persen dari permasalahan gizi buruk dan campak di Asmat. Selebihnya adalah faktor lingkungan 40 persen, faktor sosial budaya 30 persen dan faktor genetika 10 persen.

Untuk menangani kejadian luar biasa campak dan gizi buruk di Asmat, dalam jangka pendek Kementerian Kesehatan telah mengirimkan personel dan bantuan logistik secara bergantian setiap 10 hari sekali.

Pengiriman personel dan bantuan logistik telah memasuki 10 hari ketiga dengan menangani pasien-pasien di rumah sakit dan aula gereja setempat. "Sebagian pasien sudah kembali ke tempatnya masing-masing. Namun, bila tidak ada pengawasan, mereka bisa sakit lagi," tuturnya.

Terkait dengan penyakit campak, menurut Menkes, satu-satunya cara untuk mengatasi hanya dengan imunisasi. Karena itu, telah ada 13.300 orang di Asmat yang telah diimunisasi.

Sementara itu, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Yembise mengatakan kejadian luar biasa campak dan gizi buruk di Asmat sangat merugikan Papua karena yang menjadi korban kebanyakan adalah perempuan dan anak-anak.

"Perempuan dan anak-anak adalah pilar suatu bangsa. Papua sangat dirugikan karena banyak perempuan dan anak yang meninggal karena campak dan gizi buruk," katanya.

Wakil Ketua Komisi IX DPR Dede Yusuf meminta pemerintah membangun fasilitas untuk masyarakat di Pronvinsi Papua, terutama Kabupaten Asmat, agar kejadian kejadian luar biasa campak dan gizi buruk tidak berulang.

"Kondisi di Asmat saat ini hanya salah satu contoh dari banyak suku di Papua. Kita harus pikirkan bersama, apakah pembangunan disiapkan dari dana otonomi khusus, atau APBN dan APBD," katanya.

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi IX DPR Syamsul Bachri menilai pembangunan di Papua harus diikuti dengan perubahan pola pikir masyarakat. Mental masyarakat Papua perlu disiapkan untuk menerima perubahan agar kehidupannya semakin baik.

"Apakah dana otonomi khusus yang selama ini terus meningkat efektif menyentuh program-program yang diperlukan masyarakat? Perlu ada evaluasi," katanya. (antara/lis)