OSO Sampaikan Pesan Toleransi di Festival Cap Go Meh

Nasional

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 154

OSO Sampaikan Pesan Toleransi di Festival Cap Go Meh
CAP GO MEH - Menko PMK Puan Maharani, Ketua MPR Zulkifli Hasan, Ketua DPR Bambang Soesatyo, Ketua DPD Oesman Sapta, Menkominfo Rudiantara menabuh bedug secara bersama dalam Festival Cap Go Meh di Jakarta, Minggu (4/3). (Ist)
JAKARTA, SP - Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Oesman Sapta Odang menegaskan bahwa para bapak bangsa pendiri Indonesia tak pernah saling mempertanyakan latar belakang masing-masing. Hal itu dikatakannya ketika memberi sambutan pada Festival Cap Go Meh di kawasan Glodok, Jakarta, Minggu (4/3).

Oesman menegaskan, para bapak bangsa telah sepakat bahwa masyarakat Indonesia memiliki satu tekad untuk memperjuangkan kemerdekaan. 

"Saat para bapak bangsa Indonesia perjuangkan Indonesia, (mereka) tidak pernah tanya agamamu apa, asal-usulmu, warna kulitmu, mereka cuma punya satu tekad, merdeka," ujar Oesman dalam sambutannya. 

Sementara, Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Zulkifli Hasan mengatakan, keberagaman yang ditunjukkan oleh parade kebudayaan maupun masyarakat yang menghadiri festival ini, menunjukkan bahwa Indonesia sangat berwarna dan beragam. 

Zulkifli menekankan bahwa masyarakat Indonesia, harus saling menjaga dan menghormati latar belakang masyarakat yang berbeda-beda. Hal itu agar persatuan bangsa Indonesia tetap terpelihara dengan baik. 

"Kita memang mengakui fakta bahwa kita beragam dan berbeda. Kita sepakat untuk saling menghargai dan menghormati," kata Zulkifli. 

Mantan Menteri Kehutanan itu juga menegaskan bahwa perayaan Cap Go Meh menjadi momentum unjuk keteguhan masyarakat Indonesia kepada pihak luar dari berbagai upaya memecah belah bangsa. 

"Ada orang yang ingin saling mengadu kita, bahwa kita bisa dikoyak-koyak. Yang hebat, kita yang punya komitmen paling depan menjaga NKRI," kata Zulkifli. 

Oleh karena itu, kata dia, masyarakat Indonesia harus tegas menolak dan melawan berbagai upaya untuk memecah belah bangsa Indonesia. 

Hal senada juga disampaikan oleh Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Bambang Soesatyo. Bambang mengajak masyarakat yang hadir untuk meneriakkan kata "Indonesia". "Kalau saya tanya, siapa kita? Jawab, 'Indonesia'. Siapa kita?" kata Bambang. "Indonesia," sambut seluruh peserta dan masyarakat yang hadir dalam festival ini 

Sedangkan, Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani meminta agar masyarakat bisa menjaga semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Ia menegaskan, semboyan itu merupakan bagian dari identitas masyarakat Indonesia. 

"Kita itu satu saudara, satu bangsa, satu tanah air, satu Indonesia, Satu Merah Putih," kata Puan. 

Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara juga menyampaikan bahwa beragamnya pertunjukkan parade budaya, makanan dan minuman serta masyarakat yang hadir dalam festival ini menunjukkan bahwa Cap Go Meh menjadi miniatur keberagaman Indonesia. 

"Dalam perayaan ulang tahun Cap Go Meh itu seperti bangsa Indonesia, selamat merayakan Cap Go Meh," kata dia. 

Di Pontianak, perayaan Cap Go Meh 2018 ditutup dengan ritual pembakaran replika naga di Komplek Yayasan Pemakaman Bhakti Suci Jalan Adisucipto, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Sabtu (3/3).

Ketua Panitia Cap Go Meh 2018, Sugioto saat dihubungi di Pontianak, Sabtu, mengatakan, replika naga yang menjalani ritual pembakaran adalah naga yang pada perayaan Cap Go Meh telah menjalani ritual "buka mata" pada hari ke-13 Imlek di sebuah kelenteng.

Ia menjelaskan, sebelum ritual bakar naga, naga yang akan dibakar itu terlebih dahulu menjalani ritual tutup mata di kelenteng terdekat.

"Ritual bakar naga dipercaya sebagai sarana untuk mengirim mahluk kayangan itu ke negerinya, yaitu di langit setelah sebelumnya dipanggil dan merasuki replika naga, saat dilakukan ritual 'buka mata' yang ditandai dengan tinta merah pada mata naga tersebut oleh seorang dukun," kata Sugioto.

Menurut dia, karena makhluk dari kayangan itu sebelumnya dipanggil, maka setelah selesai Cap Go Meh mereka juga dikirim lagi ke kayangan dengan cara replika naga tersebut dibakar.

Menurut kepercayaan, warga Tionghoa, abu sisa pembakaran replika naga tersebut dipercaya bisa bermanfaat mengusir roh jahat dan membawa keberuntungan. Biasanya, abu sisa pembakaran naga tersebut disimpan di tempat sembahyang dengan harapan bisa mendatangkan kebajikan dan menolak keburukan.

Sugioto menambahkan, dari data yang ada ada sebanyak 21 replika naga yang melakukan ritual bakar naga di Komplek Yayasan Pemakaman Bhakti Suci, Jalan Adisucipto, selain itu ada juga yang melakukan ritual di tempat lainnya. (pas/ant/ril/lis)